9

1032 Kata
"Pernah liburan ke suatu tempat?" Daniel tiba-tiba bertanya kepada Edgar namun ia mendapat pukulan di kepala dari Leo. "Aduh, kenapa sih?" Protesnya. "Untuk apa kau bertanya kepadanya?" Leo menganggukkan dagu, melirik dengan sorot meremehkan pada Edgar yang berdiri terdiam menyambut kedatangan para mahasiswa pagi itu di ambang pintu rumah. "Kau ingat kan jika dulu dia itu pikun?" Edgar menahan kekesalan dalam dirinya ketika mendengar Leo menyebutnya pikun. Kata-kata Leo sebenarnya benar, namun tetap saja membuatnya kesal. Sebutan itu membuatnya merasa tidak sempurna. Tidak utuh. Cacat. Padahal dia hanyalah seorang bocah mantan pelatihan. Kondisinya bagaikan seorang veteran perang saja. "Oh, oh...." Daniel tersadar. "Maaf, Egie... Pasti sulit sekali," ujarnya tidak enak hati. Dan bukannya membuat Edgar merasa lebih baik, hal itu malah menambah rasa jengkel pada diri Edgar. Edgar mengabaikan permintaan maaf Daniel. Ia melewati ambang pintu rumah sambil menyeret kopernya, namun Leo tiba-tiba saja merebut koper itu dari tangan Edgar. "Biar aku saja," kata Leo, sok murah hati. Dengan mudahnya pria bertubuh atletis itu mengangkat koper Edgar, membawanya untuk dimasukan ke dalam bagasi mobil. Edgar sama sekali tidak membutuhkan bantuan. Ia tidak memintanya. Ia bisa sendiri mengangkat kopernya. Namun ia menahan diri ketika melihat Leo dan Sia bercakap-cakap setelah Leo memasukkan koper ke bagasi mobil. "Yah, aku bersyukur karena kau bisa ikut bersama kami," Daniel masih berdiri di sebelah Edgar dengan tangan bersedekap, mengikuti arah pandang Edgar. "Kalau tidak ada kau, mungkin aku tidak akan dianggap." Ia mencebik ke arah pasangan di hadapan mereka. "Apakah mereka berdua sangat dekat?" Tanya Edgar. Daniel menyeringai. "Ya. Tentu saja mereka berdua sangat dekat!" Bisiknya lalu segera berjalan mendekati mobil, meninggalkan Edgar yang semakin kecewa. Edgar menarik napas kemudian mengembuskannya lagi. Ia pun mengunci pintu rumah sebelum berjalan mendekati ketiga mahasiswa yang sedang menunggunya. "Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Sia pada Edgar. "Bagus," jawab Edgar, berusaha mengubur kejengkelannya setelah mendengar jawaban Daniel tentang hubungan Sia dan Leo yang begitu dekat. Sia menghela napas lega. "Syukurlah." Ujarnya. "Rasanya masih seperti mimpi. Sungguh keajaiban yang luar biasa karena ingatanmu dapat pulih kembali." Gadis itu terlihat masih sulit mempercayai Edgar yang telah sembuh total. Edgar memang telah memutuskan untuk tidak memberitahu ketiga mahasiswa itu tentang obat sihir yang ia temukan di ruang rahasia Ben. Menurutnya lebih baik ia rahasiakan saja sendiri. Lagi pula mereka pasti akan sulit mempercayai bagaimana bisa sebuah obat yang tidak diketahui komposisinya dapat menyembuhkan otak Edgar dengan begitu sempurna. "Apakah hanya itu barangmu?" Leo nimbrung dan menghentikan obrolan Edgar dengan Sia. "Jangan sampai ketinggalan sesuatu. Sebab kami tidak akan mau putar balik." "Ya. Hanya itu," jawab Edgar, menunjuk koper yang sudah dimasukkan oleh Leo ke dalam bagasi. Nada suaranya terdengar ketus setiap kali berbicara dengan Leo. "Yuk, berangkat!" Daniel pun bertepuk tangan memberi instruksi. "Hati-hati mengendarai SUV-ku ya, Leo!" Serunya ketika Leo naik ke kursi kemudi. "Kau di depan saja," lanjut Daniel, mendorong Edgar ke pintu mobil depan. "Sia, yuk ke sini." Ia melambai pada Sia yang baru saja menutup bagasi. "Oke," sahut Sia. Gadis itu menyusul masuk setelah ketiga yang lain sudah di dalam mobil dalam posisinya masing-masing. Seketika Edgar merasa lega dengan posisi duduk mereka. Syukurlah Sia tidak duduk di sebelah Leo, walau ia sebenarnya tidak begitu suka duduk di tempatnya saat ini. Leo pun mulai melajukan mobil. -- Tak terasa mereka telah melewati waktu setengah hari dalam perjalanan. Mereka sempat singgah sebentar di pom bensin. Mengisi bensin, ke toilet, dan makan siang. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Daniel sudah mendengkur di kursi belakang. Sia yang pada awalnya bertahan dengan membaca buku akhirnya menyerah setelah mengeluh pusing. Sia pun juga tertidur. Tinggal lah Edgar yang masih melamun memandang ke luar jendela dan Leo yang menyetir mobil. Leo pun menyalakan radio agar mobil tidak terlalu hening. Ia memilih saluran yang memutar lagu-lagu. Dan Leo dapat menyanyikan semua lagu dengan berbagai macam genre yang diputar di saluran itu. Tanda jika pria bertubuh tegap dan berbahu lebar itu adalah penikmat musik. "Kita akan sampai lusa pada dini hari." Akhirnya Leo mencoba berbicara kepada Edgar karena rasanya aneh mereka terus berdiam-diam diri. "Kita akan singgah di dua kota. Tames dan Koraki." "Apakah kadaver jurnalis itu benar-benar ditemukan di Siprus?" Tanya Edgar. "Prof yang menemukan mayat itu. Dan Prof tidak mungkin berbohong kan?" jawab Leo. "Tapi bagaimana Ben berhasil mendapatkannya?" Edgar merasa ada yang tidak masuk akal. Ia sulit membayangkan Ben membawa-bawa mayat dari Siprus ke Chroma dalam perjalanan berhari-hari. "Entahlah," Leo pastinya juga sudah mempertanyakan hal yang sama. "Prof selalu punya banyak cara." Ia kedengaran penasaran namun mengangkat bahu. "Jadi kemungkinan Ben berada di sana," kata Edgar. Menghilangnya Ben selama enam bulan telah membuat Edgar melibatkan dirinya. Ia berharap Ben baik-baik saja. Penemuan mayat tentu adalah sesuatu yang sangat mengerikan, semoga saja Ben tidak terlibat dalam masalah besar. "Di Siprus? Yeah. Mungkin saja," Leo mengangguk. "Apa rencana kalian setelah sampai di sana?" Tanya Edgar kemudian. "Yah, tentu saja kami akan bertindak sesuai dengan rencana yang sudah kami susun. Mengambil sampel dan menganalisis. Tidak lupa sambil mencari informasi keberadaan Prof dan Ayah Sia di sana." "Menurutmu mereka benar-benar melakukan eksperimen kepada manusia?" Tanya Edgar lagi pada Leo. "Gigi-gigi itu asli, Edgar." Ujar Leo dengan nada dingin. "Manusia dewasa tidak memiliki gigi taring sampai sepuluh loh. Dan jumlahnya lebih. Asli. Sudah pasti ada apa-apanya di Siprus. Makanya, kerusakan lingkungan itu terasa tidak masuk akal bagiku. Entah itu hanya isu belaka atau efek dari suatu kegiatan di dalam Siprus. Kota itu menjadi terpencil semenjak lima puluh tahun lalu. Sebuah insiden mengerikan terjadi, yaitu kematian massal karena terpapar unsur radioaktif yang memancar. Bagaimana unsur itu bisa berada di sana tidak ada yang tahu." -- Mereka sampai di penginapan di kota kecil bernama Tames ketika hari sudah gelap. Leo pun memarkir mobil di halaman penginapan. Daniel keluar lebih dulu, ia meregangkan tubuhnya seperti seekor kucing tua kaku, ia kelelahan berada di dalam mobil sepanjang hari. "Kau payah sekali, Leo. Kupikir kita akan sampai di Tames sebelum malam," gerutu Daniel. "Oh ya?" Sebelah alis Leo terangkat, tampak tersinggung pada kata-kata Daniel. "Kalau begitu besok kau saja yang menyetir." Sindirnya jengkel. "Ayo, teman-teman." Panggil Sia, sudah berjalan lebih dulu menuju teras penginapan. Edgar dan kedua pria yang masih bersungut-sungut itu pun mengikuti Sia memasuki bangunan penginapan. Setidaknya malam ini mereka bisa meluruskan badan di kasur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN