1

1871 Kata
Dia pasti saja akan lupa seandainya ia tidak membuka buku catatan bersampul kuningnya. Hari ini di bulan Oktober, adalah hari kelahirannya. Dia menghitung usianya, lalu mencatat apa-apa saja yang menurutnya penting di lembaran kosong terakhir. Dia menarik napas sambil memandang tulisannya. Ia sudah sampai pada halaman terakhir. Ia harus segera meminta buku catatan baru dari Pelatihnya. Tapi apa yang akan ia lakukan dengan buku catatannya yang lama? Ia tidak mungkin membuangnya karena ada banyak informasi yang ia butuhkan jikalau ia lupa mendadak. Ya, otaknya agak payah. Kadang ia lupa beberapa hal penting. Kelewat penting malah. Dan hal-hal itu bisa terlupakan olehnya. Terdengar suara alarm memenuhi gedung, nyaring dan menggelegar. Dia tidak terlihat terkejut ketika mendengarnya. Ya, ia sudah terbiasa mendengarnya sejak ia dapat mengingat. Ia menoleh ketika terdengar bunyi berdetik dari pintu selnya, kunci pengaman pintu baru saja dibuka. Setelah bunyi alarm selesai, terdengar pengumuman dari suara seorang wanita yang mengumumkan jadwal hari ini. Pukul 6 – 7 pagi : Sarapan di kantin. Pukul 7 – 8 pagi : jadwal untuk olahraga bersama Pukul 9 dan seterusnya terus dibacakan namun dia sudah tidak menaruh perhatian untuk mendengarkan. Ia tidak akan mengikuti jadwal setelah sarapan yang diumumkan itu. Ia punya jadwal baru hari ini dan sudah ia catat di buku bersampul kuningnya yang bertanggal hari kemarin. Setelah sarapan, ke lobby dan menunggu Lady Informan memberikan surat undangan keputusan dari direksi. Dia tidak tahu surat undangan keputusan apa itu. Tapi mungkin saja surat pengeluarannya dari divisi. Ia teringat dengan candaan teman-temannya. Kata mereka, ia sudah tidak berguna. Tidak mungkin ada prajurit yang punya sindrom lupa ingatan sesaat. Kata mereka, direksi akan membunuhnya karena sudah tidak berguna. *** Proyek Pasukan Berkualitas Super – Super Quality Force Project Adalah nama divisi tempat pelatihannya. Nilai-nilainya bagus, teori mau pun fisik. Kode namanya sudah tercatat sebagai anak berbakat nomor satu dalam angkatannya, bahkan ia pernah mengalahkan anak-anak yang usianya di atasnya. Dia adalah pelatihan yang sangat membanggakan. Orang-orang telah menaruh harapan lebih kepadanya. Hingga suatu hari, pada ujiannya teori yang telah dilaksanakan tiga bulan lalu, dia memberikan pendapat kontra dalam ujian teori eksperimen ilmiah. Hanya karena satu soal yang menguji logika. Apakah kau akan bergabung dalam penelitian ilmiah yang bertujuan untuk kepentingan umat manusia? Dia menjawab : penelitian macam apa? Manusia hanya butuh keamanan dan kehidupan berjalan dengan sesuai pada batasnya. Logikanya dinilai terlalu congkak, dan esoknya, kamar sel-nya terbakar. Ia nyaris mati namun berhasil selamat. Setelahnya, otaknya tidak seperti dulu lagi. Hal itu merupakan asal usul sindrom yang terjadi padanya. Sebenarnya ia tidak begitu mengingat bagaimana persis kejadian itu. Dia juga merasa dia punya alasan tertentu mengapa ia menjawab soal itu dengan pendapat yang tidak menyenangkan. Seolah-olah... dia tahu penelitian apa yang dimaksud dalam pertanyaan itu. Tapi dia tidak ingat. Dan kadang ia kesal karena tidak berhasil mengingat apa pun. Tapi ya sudahlah. Dia mengawasi foto besar dari sekelompok orang bersetelan rapi terpajang di dinding lobby. Itu adalah foto baru karena ini pertama kalinya ia melihatnya. Dulu sebelumnya tergantung foto para pendiri organsisasi, tapi sekarang orang-orang itu mungkin sudah meninggal, dan digantikan oleh wajah-wajah baru. Hampir kesemua orang dalam foto itu tidak pernah dilihat olehnya. Bahkan mereka kelihatan sangat muda untuk menjadi anggota pemilik organisasi. "SQ1003?" seorang wanita datang mendekatinya. Mungkin yang disebut Lady Informan itu. Ia menoleh lalu mengangguk. Wanita itu mengamatinya dengan sorot aneh. Sepertinya ia pernah bertemu dengan wanita ini sebelumnya, tapi dia tidak ingat. "Kau ingat hari ini kau punya Jadwal Keputusan?" "Ya," Dia mengangguk lalu menunjukkan buku catatannya. "Aku menulisnya di sini." "Bagus. Ini. Bacalah jadwalnya. Dan jangan sampai lupa. Kami tidak ingin sibuk mencari keberadaanmu hanya karena kau lupa," wanita itu menyodorkan sebuah amplop cokelat. Dia menerima amplop itu. Apakah dia pernah lupa dan meninggalkan jadwal yang diberikan wanita ini? Wanita ini benar-benar kelihatan tidak asing dan terus saja memandangnya dengan sorot kesal. "Aku pasti akan ingat," ujarnya namun si wanita hanya mengerutkan dahi, tanda tidak percaya. Wanita ini meremehkannya, dia sudah terbiasa mendapatkan penilaian itu. Dia segera membuka amplop, membaca surat di dalamnya. ___ Lembar Pertama Dear, SQ1003. Mengusut masa depan Anda, seluruh dewan direksi Super Quality Force memutuskan: 1. Anda tidak dapat melanjutkan pelatihan di divisi Super Quality Force, 2. Anda akan diberikan kesempatan untuk memutuskan masa depan Anda, 3. Anda akan bebas melanjutkan masa depan Anda dengan catatan Anda meninggalkan apa pun mengenai Super Quality Force. Sebelumnya kami ucapkan terima kasih kepada Anda yang sudah setia bersama kami selama ini. Salam, Direksi. ___ Lembar Kedua : 1. Proses Pembekalan : Pukul 10.00 2. Proses Pemutusan : Pukul 11.00 3. Proses Pembersihan : Pukul 12.00 ___ Aku akan dibunuh. Pikirnya setelah membaca isi surat itu. Proses pembekalan adalah proses pengadilan untuknya, lalu proses pemutusan adalah saat dia akan dibunuh. Entah apakah ia akan ditembak mati, digantung, atau diracun. Dan proses pembersihan adalah proses di mana mayatnya akan dibakar. Ia berimajinasi liar membayangkan nasib malangnya untuk beberapa jam ke depan. "Sebelum kau mengikuti Jadwal Keputusan," kata wanita itu, membuyarkan imajinasinya, "akan ada seseorang yang menemuimu." Dia mengangkat wajahnya dan memandang si wanita. "Siapa?" Wanita itu mengedikkan bahu. "Kau tidak akan kenal. Tapi orang itu sangat terkenal. Kau harus menjaga sopan santunmu jika ingin mendapat akhir yang lebih baik." "Akhir yang lebih baik?" Ulangnya sambil mengerutkan dahi. Tapi wanita itu tidak menjelaskan apa pun. "Masuklah lah ke ruang Interogasi. Tamu itu akan segera datang. Tunggulah di sana." Ujar wanita itu dengan nada mengusir. Lalu si wanita berjalan pergi melewatinya sambil bergumam sengit. "Anak malang tapi beruntung." "Permisi?" panggilnya dan si wanita berhenti melangkah. Wanita itu berbalik dengan sorot kesal ke arahnya. "Apakah aku bisa meminta buku catatan baru?" pintanya. Si wanita menghela nafas jengkel. "Kau bisa mendapatkannya nanti," jawab wanita itu lalu berbalik pergi. -- Dia sudah menunggu di ruang interogasi. Di depannya ada satu meja kecil dan dua kursi. Sambil menunggu dia menyesali diri karena tidak sarapan dengan porsi besar. Karena begitu cemas, dia tidak terlalu berselera saat sarapan, dan sekarang perutnya sudah bergejolak lagi. Mungkin dia sudah menunggu satu hingga dua jam. Pintu akhirnya membuka dan seorang gadis asing memasuki ruangan. "Halo." Sapa gadis itu ramah, yang kelihatan lebih tua beberapa tahun darinya. Dia tidak menjawab, hanya diam mengamati si gadis yang berpenampilan unik. Gadis itu mengenakan kaos hitam yang dibalut jaket berwarna hijau tentara. Dia mengenakan jins hitam. Kulitnya putih pucat dan rambutnya berwarna ungu yang aneh diikat ekor kuda, Ia menggunakan kacamata dengan frame emas tampak seperti mata kucing yang bertengger di hidungnya yang kecil. "Apakah kau sudah siap?" Tanya si gadis. Siap pada hal apa? Bukannya menjawab, ia membatin dalam hati juga merasa kesal karena telah dibuat menunggu lama. Lalu seorang pria memasuki ruangan interogasi itu. Orang asing lainnya, sedikit lebih tua. Pria itu bertubuh tinggi dan kurus ceking. Ia mengenakan pakaian rapi dengan dasi bergaris. Dan rambutnya merah dan ikal sekali serta warna matanya hijau atau mungkin biru. "Sia, kita mulai?" tanya pria itu, tampak antusias. "Ya, Prof." Sahut gadis itu, yang dipanggil Sia, dengan segera. Lalu gadis itu menggeret satu kursi ke sudut ruangan, ia duduk sana, mulai menyiapkan barang-barangnya, yaitu membuka laptop, menaruhnya di pangkuan, kemudian mengambil berkas-berkas dari dalam ransel. Sementara si pria kurus duduk di seberangnya. "Halo, Namaku Benjamin Alan. Kau bisa memanggilku Ben." Pria itu mengulurkan sebelah tangan padanya sambil tersenyum hangat. "...Kau harus menjaga sopan santunmu jika ingin mendapat akhir yang lebih baik."... Dia teringat dengan kata-kata si Lady Informan yang memberikannya surat undangan Keputusan tadi pagi. Tapi dia diam saja memandang tangan itu sekilas sebelum membuang muka. Dia tidak suka berjabat tangan dengan orang-orang. "Oh, senang berkenalan denganmu," pria itu menarik kembali tangannya, sedikit kecewa namun tetap menyengir lebar. Si Gadis berambut ungu segera berdiri, lalu berjalan mendekati si pria. Ia menyerahkan berkas kepada pria itu sebelum kembali ke tempat duduknya. "Jadi namamu adalah SQ... hmm S..." Pria itu –Ben, membaca isi berkas itu dengan ekspresi bingung, atau pura-pura bingung. Kentara sekali pria itu hanya berpura-pura kaget, dia pasti sudah tahu untuk apa dia berada si sini. "Apakah kau punya nama yang bisa kupanggil dengan lebih nyaman?" tanya Ben, tampak menyerah untuk membaca kode nama yang tertera pada berkas. Dia mengedikkan bahu. Namanya sejak dulu hanyalah SQ1003. "Oh, baiklah... Tidak memberikan nama yang cukup baik untuk para pelatihan." Gerutu Ben dengan nada sengit. Pria itu kemudian berdehem. "Baiklah. Secara singkat tujuanku berada di sini adalah sebagai relawan serta mengkritisi organisasi yang agak tertutup ini. Dan minus pertama yang kudapat adalah nama. Sia, catat itu. Mereka tidak memberikan nama yang layak untuk para pelatihan. Itu sangat minus di mataku." "Baik, Prof. Sudah saya catat." Jawab Sia patuh. "Dan..." lanjut Ben. Ia membolak-balik berkas, lalu meletakkan berkas itu di meja. "Apakah kau bisa berbicara?" Dia megerutkan dahi, tersinggung. Tentu saja dia bisa berbicara, apakah orang ini berpikir jika dia berketerbelakangan mental? Dia hanya sering lupa. Itu saja kelemahannya. Dia punya record terbaik sebelum ia mendapat sindrom menyebalkan ini. Pasti semua hal itu ada di dalam berkas yang dibawa orang ini kan? "Aku tahu kau punya record terbaik meski kau sangat muda," Ben seolah membaca pikirannya."Semuanya tertulis di berkas copy-an yang diberikan oleh sumber-mu di sini. Tapi saat ini aku tidak sedang mendikte isi berkas. Jadi apakah kau bisa berbicara?" "Tentu saja," jawabnya kesal. Senyum merekah di wajah pria itu. "Bagus, anak baik!" serunya senang. "Kau akan dikeluarkan dari organisasi ini karena kelemahanmu." "Aku tahu." "Apakah kau merasa sedih?" "Apakah aku akan dibunuh?" tanyanya dan Ben untuk beberapa detik terperangah memandangnya. Selanjutnya Ben mendadak tertawa, membuatnya mengerutkan dahi. "Oh, maaf. Aku kira kau sedang melucu!" Aku tidak melucu, sialan. Desisnya di dalam hati. Orang ini sinting. Aku tidak suka. "Jadi... kau benar-benar berpikiran akan dibunuh?" Tanya Ben kemudian. Dia memberengut. Orang ini malah senang mempermainkannya, bukankah baru saja dia yang bertanya? Ben tersenyum geli. "Tidak... tidak akan... asal kau memilih keputusan yang tepat." "Keputusan yang tepat?" ulangnya. "Ya, aku tidak tahu persisnya, tapi setahuku kau akan diberikan beberapa pilihan. Dan kuharap tidak ada pilihan untuk membunuhmu." Ben cekikikan lagi, namun dengan nada gugup. "Untuk ukuran anak cerdas dan kompeten sepertimu sangat disayangkan jika kau dikeluarkan..." lanjutnya. "Dan aku adalah salah satu dari pilihan untuk Keputusanmu, aku menawarkan diri untuk menjadi walimu." "Wali?" ulangnya, memandang Ben dengan sorot bingung. "Ya, wali. Namaku akan ada dalam pilihan, jadi aku sangat ingin merekrutmu sebagai anggota keluargaku." Ia pernah mendengar tentang panti asuhan, yaitu tempat di mana para orangtua yang tidak dapat memiliki anak datang untuk mengasuh anak-anak yang tidak memiliki orang tua. Dan dia merasa sedang dalam situasi semacam itu. "Tidak usah tersinggung, kasus ini pernah terjadi di sini kan? Beberapa anggota terpaksa dikeluarkan dan diberikan pilihan untuk melanjutkan kehidupan mereka sebagai orang biasa. Dan aku mendaftarkan namaku untuk membantumu." Jelas Ben ringan. "Selain kau, kira-kira apa pilihan lainnya?" tanyanya. Ben mengedikkan bahu. "Menurut perkiraanku, akan ada pilihan panti asuhan, atau beberapa orang tua yang membutuhkan anak sekompeten dirimu, dan menerima kelemahanmu. Nah, aku adalah salah satu orang itu." "Kenapa kau memilihku?" tanyanya, heran dan merasa curiga bagaimana orang asing yang kelihatan terlalu muda berniat untuk mengasuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun. Ben terdiam sebentar setelah mendengar pertanyaan itu. "Kurasa ini adalah takdir." Apa? Takdir? Kedengaran konyol baginya. "Kuharap kau akan memilihku." Ben tersenyum ramah dan setelahnya lampu mendadak padam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN