25

1106 Kata
"Aku tahu kalian menciptakan rumor untuk menutupi kegilaan yang ada di sini." Kata Edgar sementara Mithya tampak pasif di depannya. "Dan segalanya tidak masuk akal. Tentang radiasi dan sungai tercemar. Itu tidak benar kan? Sebenarnya apa yang kalian lakukan di sini? Kegilaan apa yang kalian perbuat?" "Hmm," Mithya berdiri, lalu bergerak ke belakang kursi yang diduduki Edgar. "Aku tidak mengerti mengapa para mahasiswa itu membawamu ke sini. Mereka bilang kau adalah sumber uang mereka. Tapi aku rasa lebih dari pada itu." Edgar mengabaikan kata-kata Mithya. "Ada apa di seberang sana? Di pulau Rhodonka?" Mithya malah tertawa mendengar semua pertanyaan Edgar. "Orang yang kau cari..." Ujar Mithya. "Saudaramu yang bernama Benjamin Alan. Apakah kau yakin dia berada di sini?" "Kenapa kau menanyakan hal itu? Bukankah kau memutuskan untuk tidak peduli?" Sergah Edgar. "Atau jangan-jangan kau sudah melapor kepada atasanmu?" "Hmm, sebenarnya belum. Aku hanya iseng mencari tahu. Dan wow, aku tidak mengira kau memiliki sejarah menarik." Ujar Mithya, pasti ia sudah mendapatkan informasi jika Edgar dikeluarkan dari SQF dan diselamatkan oleh Ben. "Pantas saja para mahasiswa itu membawamu ke sini. Dan sekarang kau ikut campur pada banyak hal. Jadi aku akan menawarkan sesuatu yang baru kepadamu." Ia pun berjalan menuju jendela kantornya, memandang ke balik jendela. "Kau mau mendengarnya?" Edgar tidak menjawab dan Mithya tetap melanjutkan. "Kau bisa keluar dari kota ini. Dengan syarat : tinggalkan urusan apa pun yang berhubungan dengan Siprus. Tutup mata. Dan lupakan semuanya. Biar aku yang mengurus semuanya di sini." "Maksudmu kau ingin aku meninggalkan teman-temanku?" Tanya Edgar sanksi. "Jangan takut. Mereka pasti akan kembali." Janji Mithya sambil tersenyum misterius kepada Edgar. Tangannya bersedekap lalu kembali ke kursinya, duduk di seberang Edgar. Ekspresi Mithya yang mencurigakan membuat Edgar memikirkan hal terburuk. Bagaimana jika para mahasiswa itu kembali tanpa nyawa? Seperti saudara Leo yang hanya meninggalkan potongan tubuh? "Kalau begitu aku ingin melihat keadaan Daniel terlebih dahulu." Kata Edgar, membuat Mithya memutar bola matanya. "Kau mengurungnya kan?" "Aku tidak mengurungnya, sayang." Kata Mithya dengan nada lembut yang mencurigakan. "Aku sedang mengamankannya." Ya. Kau mengurung Daniel. Kau juga yang membuat mobil kami mengalami kecelakaan. Batin Edgar. Tapi ia mengenal ekspresi Mithya yang tentu tidak akan mau mengaku meski sudah disudutkan. "Aku tidak mengerti mengapa kau kabur ketika kami menyelamatkan kalian pada kecelakaan itu." Kata Mithya. "Kami khawatir jika sesuatu terjadi kepadamu." Katanya dramatis. "Aku tidak kabur," kata Edgar. "Aku ditangkap." Edgar menangkap ekspresi terkejut di wajah Mithya. Ia cukup puas melihat reaksi itu. Pastinya Mithya berpikiran jika mereka lah yang seharusnya menangkap Edgar. "Di... ditangkap?" Ulang Mithya. "Oleh siapa?" Edgar mengedikkan bahu. "Orang-orang." "Orang-orang?" Mithya sekali lagi mengulang kata-kata Edgar. "Ya, orang-orang, mereka mengira aku adalah kelompok mereka. Tapi setelah mereka tahu aku bukan warga Siprus, mereka melepaskanku. Tapi dengan satu syarat." "Syarat? Tunggu dulu, siapa orang-orang ini?" Ada kerut tercetak di dahi Mithya. "Apakah mereka anak-anak?" Edgar menggeleng. "Orang dewasa." "Tidak mungkin," gumam Mithya. "Tidak mungkin pemberontak." "Apa?" Tanya Edgar. "Apakah kau mendengar salah satu nama mereka?" Tanya Mithya, terdengar mendesak. "Atau mungkin kau melihat wajah salah satu dari mereka? Mungkin kau bisa menggambarkannya? Dan apakah kau tahu di mana mereka membawamu?" Edgar pura-pura b**o. "Tidak. Mereka semua pakai penutup wajah. Dan aku tidak tahu lokasi mereka membawaku." "Bagaimana dengan anak-anak? Apakah kau melihat ada anak-anak di sana?" "Tidak tahu." Jawab Edgar, pura-pura kesal. "Mereka melepaskanku untuk menyampaikan pesan ini kepadamu." "Pesan apa itu?" Tanya Mithya segera. Edgar bisa melihat Mithya menerima mentah-mentah cerita karangannya tentang para pemberontak fiktif itu. "Beritahu aku. Apa isi pesan itu?" "Mereka akan kembali," kata Edgar. "Hanya itu." Sepersekian detik Mithya hanya termangu dengan wajahnya yang kaku. Lalu berikutnya ia tertawa. Terbahak. "Ancaman yang lucu!" Kata wanita itu disela tawanya. "Ya ampun! Orang-orang itu masih berani-beraninya ya!" Mithya segera menarik gagang telepon, lalu memberikan perintah singkat pada orang yang mengangkat panggilannya di seberang sana. "Chel, segera bawakan daftar seluruh penduduk Siprus. Sepertinya aku melewatkan sesuatu." Ia pun membanting telepon setelahnya. Berikutnya Mithya memanggil petugas di luar ruangan. Pintu menjeblak terbuka dan dua orang petugas masuk ke dalam. "Bawa bocah ini ke dalam sel." Perintah Mithya sambil menunjuk ke arah Edgar. "Bukankah kau akan melepaskanku?" Tanya Edgar, agak terkejut ketika masing-masing petugas itu menarik lengannya sampai berdiri. "Sabar, sayang." Kata Mithya kepada Edgar, tapi tidak dengan nada ramah atau pun senyuman. "Aku harus mengurus sesuatu yang lebih penting." -- Edgar dimasukkan ke dalam penjara setelah digeledah. Ia menurut saja dan ketika pintu sel dikunci, si petugas kembali duduk di kursi jaganya lalu membaca majalah. Beruntung, hanya ada satu petugas yang bertugas mengawasi Edgar. Ia yakin orang-orang dewasa ini meremehkan dirinya yang masih bocah. Ia pun memikirkan cara untuk meloloskan diri dari dalam sel sesegera mungkin. Edgar duduk di sudut belakang, lalu memuntahkan peniti dari dalam mulut. Ia segera bekerja melepaskan borgol dari tangannya. Terbebas dari borgol, ia lalu berdiri mendekati jeruji besi. "Hei," panggil Edgar. "Aku merasa tidak enak badan." Si petugas melirik sekilas dari majalah bacaannya. "Suhu tubuhmu normal." Kata si petugas sambil lalu. "Aku tidak bisa berada di ruangan gelap yang sempit," kata Edgar, mendesak. "Aku butuh obat yang kau sita dari jaketku. Bisakah kau memberikannya kepadaku?" Si petugas berhenti membaca. Tampak kesal. "Tolong..." Edgar menambahkan. Si petugas mengambil botol obat kecil yang ia sita dari pakaian Edgar. Ia membuka botol itu, mengecek isinya. "Tolong... Cepat..." Akhirnya si petugas berdiri lalu berjalan mendekati jeruji. Ia menyodorkan botol itu kepada Edgar. Edgar segera menerimanya, dengan tergesa-gesa ia meminum satu pil. Gerakannya secepat mungkin jangan sampai si petugas sadar borgol telah lepas di tangannya. Si petugas hanya menggelengkan kepala, lalu berbalik. Kesempatan Edgar datang. Ia mengeluarkan tangan dari sela batang jeruji. Ia menarik kerah pakaian belakang si petugas, membuat tubuh si petugas menghantam jeruji besi. Belum sempat petugas itu berteriak, Edgar segera menutup mulut si petugas lalu menusukkan jarum obat bius ke leher. Si petugas meronta hebat namun Edgar berhasil menahan si petugas sampai akhirnya si petugas merosot jatuh karena pingsan. Edgar mengamati sekitarnya, memastikan keributan tadi tidak mengundang perhatian. Ia pun menggeledah pakaian si petugas, mengambil rentengan kunci yang terkait di ikat pinggang si petugas, lalu membuka pintu selnya. -- Edgar telah mengganti pakaiannya dengan seragam petugas sipir penjara. Ia menutup wajahnya dengan masker. Mungkin yang menjadi masalah adalah postur tubuhnya yang agak pendek dan kurus dari standar tubuh para petugas Lapas Edgar yang sudah hapal setiap lorong berjalan menuju ke ruangan Mithya. Ia tidak tahu apakah Mithya sudah pergi dari kantor atau belum. Dan keberuntungan berpihak kepadanya. Baru saja ia akan berbelok, pintu kantor Mithya terbuka. Edgar mengintip dari belokan, melihat Mithya keluar dari kantor, lalu segera bergegas pergi dengan tiga orang petugas yang mengekor di belakangnya. Edgar pun mengikuti Mithya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN