23

1324 Kata
"Kau tahu?" Akhirnya Korie berkata. Ia pastilah tipe yang sangat berhati-hati, tidak asal memutuskan. Meskipun dia hanya seorang bocah perempuan, aura kepempimpinannya begitu membara. Pada saat rapat, terlihat bagaimana anak-anak menaruh perhatian pada setiap kata-katanya, bahkan mematuhi perintahnya. "Membawamu bersama kami adalah keputusan yang besar." Korie menyorotkan sorot dingin pada Edgar, terkesan angkuh dan menuntut. "Ya, aku tahu." Edgar tidak ambil pusing dengan sikap Korie yang menyebalkan. "Jadi tolong jangan memengaruhi teman-temanku," peringat Korie. "Kau adalah orang asing di sini. Jangan menambah masalah kami." "Aku tidak bermaksud membuat kalian kesulitan. Hanya saja..." Edgar memandang simpatik pada terowongan lembab dengan dinding-dindingnya yang berlumut. Ia tidak bisa membayangkan dapat tinggal di tempat ini bertahun-tahun lamanya. "...kalian seharusnya melakukan sesuatu." Korie mendengus. "Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan." "Aku tahu," kata Edgar, kini balas bersikap dingin. "Jika kau benar-benar adalah pemimpin di sini, kau harus memikirkan apa yang terbaik untuk teman-temanmu." "Aku selalu memikirkan segala hal yang terbaik untuk teman-temanku!" Sergah Korie dengan nada meninggi. Dan Edgar menangkap rasa takut pada sorotan mata Korie sepersekian detik. Atau ia hanya melihat ilusi akibat penerangan yang minim. Edgar menggelengkan kepala. "Kau bisa bertindak lebih dari pada ini." Ujarnya, merendahkan suaranya, tanda jika ia mundur dari konfrontasi. Kali ini Korie tidak menyahut. "Ya atau tidak sama sekali?" Tanya Edgar dengan nada pelan, dan suaranya pun meresap ke dalam udara di dalam terowongan. -- Edgar mencoba tidur dengan perut kosong yang terus menggerutu. Ia menarik napas kesal. Ini baru permulaan. Bukankah ia sudah pernah menjalani hari-hari berpuasa demi pelatihan? Ini baru satu hari? Mengapa tubuhnya terasa lemah? "Hei." Edgar berbalik dan seorang bocah dengan rambut keriting kelabu berjongkok di sampingnya. Ia segera bangkit duduk. "Ini." Bocah itu yang bernama Gail. Ia menyodorkan satu bungkus cokelat dan segelas minuman. Edgar cukup terkejut ketika menerimanya. "Korie memberimu ini." Bisik Gail, mengedipkan sebelah matanya dengan wajah jenaka. "Bukankah aku diminta untuk berpuasa?" Tanya Edgar. "Saatnya untuk makan, kami tidak ingin menambah jumlah anak sakit." Jelas Gail dengan suara berbisik, ia tersenyum lucu lalu beranjak pergi. Edgar mensyukuri keberuntungannya. Ia habiskan jatahnya itu dengan penuh khidmat seolah itu adalah makanan terakhir dalam hidupnya. Ini belum cukup, pikirnya setelah ia menghabiskan jatahnya. Ia teringat dengan semua camilan di dalam kantor Mithya. Sial, alasan ini menambah betapa ia membenci Mithya. Ketika Mithya berfoya-foya dan hidup enak dengan gajih serta uang-uang transaksi gelap, anak-anak yang belum cukup umur ini menderita dan tinggal di dalam terowongan. "Tidurlah." Seseorang menegur Edgar. Karena penerangan hanya bersumber dari satu lilin, Edgar tidak berhasil menemukan siapa anak yang menegurnya. Tapi ia memutuskan untuk kembali merebahkan diri. Kali ini ia benar-benar terlelap karena perutnya sudah terisi. -- Edgar diterima bergabung dalam tim operasi kecil. Kehadiran Edgar yang tidak terduga tentu membuat suasana menjadi canggung. Anya menyorotkan tatapan keberatan ke arah Edgar, berbanding terbalik dengan saudara kembarnya, Hany, yang begitu menyukai ide bergabungnya Edgar. Lim yang selalu berkeringat memegangi sebelah gagang kacamatanya, ternganga memandang Edgar. Berbeda dengan Gail yang tampak riang dan bertepuk tangan untuk menyambut Edgar. Del adalah orang yang lebih dulu menjulurkan tangan pada Edgar, menjabat tangan Edgar dengan kepalan tangan yang kuat dari jemarinya yang bagaikan ranting. "Kuharap dengan bergabungnya kau, kita bisa mendapatkan perubahan." Kata Del bersemangat, menyambut positif kedatangan Edgar. Sementara Korie, bocah yang memasukkan Edgar ke dalam tim, hanya berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersedekap. Tampak jengkel seperti biasa. Dan tidak menjabat tangan Edgar seperti anak-anak yang lain. "Kenapa dia bergabung dengan kita?" Tanya Anya, tidak bisa menutupi kebingungannya. Korie memalingkan wajah, tampak tidak ingin menjelaskan apa pun. "Karena Edgar punya ide cemerlang," jawab Del antusias. Ide cemerlang itu bagaikan suatu kabar mengerikan karena ekspresi Anya dan Lim berubah gugup. "Sebelum kita mendengar ide Edgar, Edgar harus mengetahui lebih dulu kondisi kita." Kata Hany dan disambut Del dengan anggukan. "Hany benar. Lim, bisa jelaskan kepada Edgar?" Pinta Del pada Lim. "Aku saja," tiba-tiba Korie membuka suara. Sikapnya yang dingin membuat anak-anak yang lain tidak berkomentar dan mempersilahkannya saja. "Kami semua berasal dari area perawatan," Korie memulai. "Kami lahir dan dibesarkan di sana. Beberapa anak tidak mengenal orang tua mereka. Beberapa anak masih dikunjungi oleh orang tua mereka. Setiap tahun Area Perawatan akan mengirimkan sekelompok anak yang sudah berusia tujuh tahun ke suatu tempat di seberang pantai. Namanya Pulau Rhodonka." Edgar menyimak setiap kata-kata Korie. "Namun anak-anak yang dikirimkan ke pulau Rhodonka tidak pernah kembali. Protes pun dimulai dari para orang tua yang merasa kehilangan anak-anak mereka. Setiap orang tua yang mencoba menyeberang, mereka dihalangi, bahkan ditangkap dan dipenjarakan dengan berbagai tuduhan tidak masuk akal, misalnya saja melakukan perusakan terhadap kapal atau aset pantai. "Akhirnya, tepatnya dua belas tahun lalu, para orang dewasa mulai membentuk kelompok pemberontak rahasia. Mereka mencoba menggagalkan pengiriman anak-anak ke pulau Rhodonka. Tapi itu sungguh sulit dan mereka hanya bisa menyelamatkan beberapa anak. Setelah berhasil menyelamatkan beberapa anak, kelompok itu membuka terowongan sebagai tempat persembunyian. Del adalah angkatan pertama yang tinggal di terowongan." Del mengangguk ketika namanya disebut. "Kelompok pemberontak terus bekerja secara rahasia, setiap tahun mereka berhasil mendapatkan anak-anak dan membawanya ke terowongan." "Sayangnya kelompok pemberontak terakhir sudah tertangkap dua tahun lalu," lanjut Hany. "Karena itu aku dan Korie mengusulkan untuk membentuk tim operasi." Del menambahkan. "Kami merekrut Hany dan Anya, juga Lim. Bisa dibilang, kami memiliki pengalaman paling banyak keluar dari terowongan. Tim operasi sebelumnya telah mengajari kami sedikit mengenai Siprus, cara menangkap anak-anak yang akan dikirimkan, juga mencari kebutuhan dan lainnya." "Kami punya koneksi di kota. Mereka adalah para pendukung kelompok pemberontak yang bekerja diam-diam membantu kami. Makanya kami bisa mendapatkan stok makanan dan kelengkapan hidup lainnya." Lim juga menjelaskan. "Tapi," kata Anya. "Kita sudah mulai krisis. Ada rencana pembangunan yang kami dengar, dan akan mengganggu aliran pipa air bersih kami." "Orang-orang kota semakin miskin," Gail ikut bicara. "Kata mereka, mereka sudah tidak punya uang lagi jika harus terus membeli barang dari luar kota. Sementara pekerjaan mereka di Siprus hanya menghasilkan upah rendah, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari." Korie mengangguk membenarkan setiap penjelasan teman-temannya. "Berapa jumlah orang yang ditangkap?" Tanya Edgar. "Dua puluh tujuh jika mereka semua masih hidup," jawab Anya dengan raut pesimis. "Kami sudah menyusup ke dalam Lapas, tapi tidak pernah berhasil menemukan di mana mereka memenjarakan kelompok pemberontak," kata Hany. "Aku menemukan pintu terowongan bawah tanah," kata Gail sambil mengangkat tangannya. "Yeah, Gail mengaku menemukan pintu itu," kata Anya dengan ekspresi meragukan. "Hei, aku serius!" Seru Gail ngotot. "Kita bisa masuk lewat sana jika ingin menyusup lagi!" "Senjata apa yang kalian gunakan untuk melumpuhkan para penjaga?" Edgar mengingat kejadian penyusupan anak-anak ini di Lapas, mereka membuat para petugas itu pingsan. "Obat tidur." Jawab Del. "Kami punya stok obat tidur selundupan. Area perawatan menggunakannya untuk mengatur anak-anak. Jadi para pemberontak merampoknya." Edgar mengangguk-angguk. Ia mengusap dagunya, mulai berpikir untuk menyusun rencana. Lapas, Area Perawatan dan Kota. Anak-anak ini bisa pergi dengan leluasa ke ketiga lokasi itu. "Jadi apa ide cemerlangmu?" Tanya Anya tidak sabaran. "Kuharap bukan ide yang mengerikan." "Iya, kita tidak boleh tertangkap!" Cicit Lim. "Teman kami pernah tertangkap satu orang dan tidak pernah kembali!" "Biarkan dia berpikir," sela Del pada teman-temannya yang terus ribut. Ia melirik pada Edgar dengan sorot penuh harap. Tentu Del yang sudah ditunjuk sebagai pemimpin tidak ingin menunjukkan sikap putus asa. Namun sepertinya Del telah menyadari jika ia sudah mulai kehabisan energi untuk melanjutkan aktifitas bawah tanah mereka. "Ideku adalah..." Kata Edgar, akhirnya membuka suara. "Membuat keributan dimana-mana." Seketika setiap anak memasang tampang bingung. "Keributan?" Ulang Del. "Apa maksudmu?" "Berapa jumlah kalian?" "Empat puluh sembilan," jawab Lim segera. "Berapa jumlah anak yang siap keluar dari terowongan selain kalian?" Tanya Edgar lagi. Kali ini Korie dan Del menerima lirikan ragu. "Mungkin sekitar sepuluh," jawab Korie. "Untuk apa kau menanyakan jumlah mereka?" "Karena aku butuh pasukan pembuat keributan," Edgar tersenyum dan tidak bisa menahan seringainya. "Kedengaran buruk," keluh Anya. Sementara Lim perlu menghapus keringat yang bercucuran di pelipisnya, tampak sangat gugup. "Kita dan sepuluh anak itu akan membuat keributan. Dan satu orang menjaga markas bersama sisa anak-anak yang lain." Kata Edgar, memulai penjelasannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN