Chapter 9

2254 Kata
Guncangan Lingga pada tubuh Fio sepertinya tidak membuat sang pemilik tubuh tersadar. Fio tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun dari tidur nyamannya. Fio masih tidur dengan lelapnya dan guncangan itu juga masih tidak berhenti. Laki-laki itu tidak kehabisan akal. Ia memencet hidung Fio dan tidak melepaskannya hingga si empunya megap-megap kehabisan napas dan terpaksa bangun dari tidur lelapnya. Wajah Fio sungguh tidak bersahabat ketika melihat siapa orang yang telah berani menganggu tidurnya. “Lingga brengsekk lo ngapain di kosan gue jam segini. Berani-beraninya lo gangguin tidur gue. Lo udah bosan hidup.” Lingga menatap tidak percaya sahabatnya itu. “Kosan lo, lo bilang. Look around you Fi. Ini yang lo bilang kosan lo.” Lingga merentangkan tangannya dan melihat sekeliling kosannya diikuti Fio yang juga mengedarkan pandangannya ke seantero kamar ini. Fio baru ingat semalam dia mengantar Dimas ke kosan Lingga, karena ia merasa tidak cukup kuat untuk pulang ke kosannya dia memilih tdur di sofa Lingga yang untungnya muat dengan tubuh kecilnya. Fio yang menyadari itu segera turun dari tempat tidur. Wait... tempat tidur? Sejak kapan sofa yang ia tempati berubah jadi tempat tidur. “Kok gue bisa ada di tempat tidur lo? Tadi subuh kan gue tepar di sofa.” Fio menatap sengit Lingga. “Lo mindahin gue yah?” “Gue aja baru pulang dan syok lihat lo ada disini.” Balas Lingga “Trus kok gue bisa di kasur lo sih.” “Ya mana gue tahu lo jalan sambil tidur kali.” “Hehh lo belum jawab pertanyaan gue yah, ngapain lo bisa ada di sini?” tanya Lingga lagi. Fio tidak merespon ucapan Lingga. Ia teringat Dimas yang subuh tadi ia bawa kesini. Fio menengok keseluruh kamar kos ini dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan cowok tersebut. “Hehh kalo ditanya itu yah di jawab neng.” Protes Lingga sewot. Ia sebal melihat Fio yang bukannya menjawab pertanyaannya malah celingak-celinguk tidak jelas. “Lo cari apaan sih?” Fio masih menghiraukan pertanyaan Lingga malah balik bertanya. “Dimas mana?” “Yeee gimana sih lo, orang gue yang nanya malah balik nanya. Lagian ngapain nanyain Dimas sih, noh dia ada dikamarnya di lantai tiga?” “Dimas kos disini?” Fio terkejut mengetahui Dimas juga ngekos disini. Ia terkejut karena tidak mungkin Dimas yang mobilnya aja Rubicon itu ngekos di tempat Kosan Lingga yang kendaraan paling mahal para penghuni kosan ini adalah Honda Jazz itu pun keluaran lama. Gak mungkinlah Dimas ngekos disini. Dia lebih mungkin nyewa apartemen dekat kampus dibanding ngekos disini. “Ya iya udah tiga tahun kali. Dimas Mulyanto kan?” tanya Lingga memastikan orang yang dicari Fio. “Yee si begoo, kenal juga kagak, ngapain juga gue cariin tu orang.” “Lah yang namanya Dimas di kosan ini tuh cuman si Dimas Mulyanto itu. Emang lo cari Dimas yang mana?” Fio mengarahkan bola mata ke atas sambil berdecak. “Dimas Aryasatya, Ling-Ling” balas Fio sewot. Kali ini Lingga menatapku dengan tatapan curiga. “Jujur sama gue apa yang lo lakuin di kosan gue berduaan sama Dimas?” Pandangan Lingga kepada Fio seolah-olah berniat mengulitinya hidup-hidup. Dia kelihatan murka sekali. Nyali Fio menciut. Ia tidak suka berhadapan denga Lingga yang mengaktifkan mode seriusnya. “Semalam kak Dimas mabuk jadi aku bawa dia kesini gak mungkin ku bawa ke kosan aku dong.” Tampaknya penjelasanku itu belum cukup memuaskan rasa penasarannya. Air mukanya masih kelihatan tidak berubah. “Gue gak tahu rumah kak Dimas jadi pilihan satu-satunya adalah kosan lo, berhubung kalian juga saling kenal jadi gue rasa itu adalah pilihan paling aman. Tadinya gue berniat pulang setelah nganter dia kesini tapi berhubung lo gak ada dan gue gak tahu gimana nanti gue jelasin ke dia kalau dia udah sadar kenapa dia bisa sampai disini, makanya gue memutuskan buat tidur disini juga. Ditambah gue juga udah ngantuk banget buat pulang ke kosan. Dan satu lagi gue awalnya tidur di sofa lo tapi gak tau kenapa gue bisa bangun di tempat tidur lo.” Fio harap penjelasannya yang sepanjang commuter line itu berhasil membuat Lingga tenang. Lingga manggut-manggut mendengar penjelasan panjang lebar Fio. “Ya udah lo cuci muka gih sono, nanti gue tanya anak-anak dibawah sapa tau mereka liat Dimas.” Balas Lingga sembari melangkahkan kakinya keluar kamar dan memberi Fio privasi. *** Aku duduk di sofa sembari memaikan ponsel ketika pintu kamar kos Lingga dibuka. Itu Dimas, ia sudah berganti pakaian. Pakaian yang ia kenakan berbeda dengan semalam. Ia juga kelihatannya sudah segar dan sepertinya ia juga sudah mandi. Jejak orang habis mabuk semalaman sudah menghilang dari dirinya. Dimas selalu membuatku iri dengan penampilan dan karismanya. Ia tipikal orang yang walau dalam keadaan sekacau apapun selalu menampilkan sisi terbaik dari dirinya. Lihat saja ia, ini masih jam 10 pagi, untuk orang yang semalam bahan tidak bisa jalan dengan benar karena mabuk, pagi ini ia kelihatan tampil prima berbeda dengan aku yang masih berpenampilan kacau ini. Aku hanya mencuci muka di kamar mandi Lingga dan memakai facial washnya. Aku betul-betul iri dengan dia. “Hei kamu udah bangun? Ini masih jam 10. Kamu bisa tidur lagi aja. Saya tahu kamu pasti capekkan kerja semalaman.” “Omaigatt, gue gak nyangka Dimas bisa secerewet ini.” “Saya bawain sarapan, dimakan, itu masih hangat. Saya gak tahu kamu sukanya apa. Jadi saya beliin makanan kesukaan saya. For your information, siapa tahu nanti kamu mau masakin saya.” “What the hell is going on?? Ini dia lagi ngegombal apa gimana? Kalo bukan karena yang ngomong ini Dimas, gue udah muntah kali denger gombalan itu. Tapi kenapa kalo yang ngomong Dimas rasanya tuh sah-sah aja, mau gombalan se-cringe apapun juga gue pasti bakal meleyot dengernya. Hahh dasar jatuh cinta emang gak ada otak.” “Hei kok ngelamun? Masih ngantuk yah?” Dimas melambaikan tangan di depan wajahku yang sedari tadi melamun memperhatikannya. Sial, muka gue gak mupeng-mupeng amat kan ngeliatin dia. Tengsin banget kalo ketahuan tadi gue mikirnya apaan. “O..oh gak kok, iya ini masih rada ngantuk dikit,” jawabku ngeles. “Makasih yah kak makanannya.” Aku dengan segera mengambil Lontong Sayur yang sedari tadi ia sodorkan kepadaku. “Oke catat Fio, makanan kesukaan Dimas itu Lontong Sayur. Abis ini aku bakal langsung kursus otodidak buat bikin Lontong Sayur,” tekadku dalam hati. “Wuih lagi pada makan apaan tuh?” Lingga tiba-tiba nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Aku terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Dasar temen gak ada akhlak. Aku menoleh kesal kearahnya. “Lontong Sayur, tuh masih ada, gue sisain buat lo.” Dimas menjawab sambil menunjuk satu bungkus Lontong Sayur yang belum di buka di atas meja di depan kami. Aku dan Dimas sedang makan ketika tahu-tahu Lingga memunculkan dirinya dengan tidak tahu diri. Nih setan emang gak bisa liat orang berduaan yah, bawaannya pengen gangguin aja. “Wuihh mantap sering-sering aja nginep disini Dim, makan gratis terus gue tiap hari.” Aku mencibir Lingga. “Kasian amat sobat fakir gue satu ini. Numpang sarapan di kos gue tiap hari emang gak cukup ya, lo masih aja nyari-nyari sedekah ditempat lain. Malu-maluin gue aja lu.” “Ya kalau rejeki masa gue tolak Fi.” Lingga terkekeh sambil melanjutkan mengambil lontong sayurnya. Ia berjalan dan duduk di antara kami. Sofa ini kecil, tubuhku dan Dimas masih muat untuk duduk berduaan tetapi dengan adanya Lingga yang nyelip di tengah membuat sofa ini tidak muat untuk kami bertiga. “Lo ngapain ikutan duduk disini sih Ling, kan sempit,” protesku. “Kan sofanya cuman ini, gue gak ada tempat duduk lagi.” “Lo kan bisa duduk di lantai.” “Gak bisa, gue mau duduk disini.” Lingga ngotot. Ia tidak mau pindah. Mereka akhirnya memakan lontong sayur tersebut dengan keadaan berhimpitan. Setelah menghabiskan seporsi Lontong Sayur, Lingga berpamitan untuk mandi, aku yang tidak tahu harus ngapain memutuskan untuk berpamitan dan berencana melanjutkan tidurku di kosan saja. Rencana awalku sih ingin tidur disini saja seharian tapi berhubung disini ada Dimas, aku tidak mau ia berpikiran yang tidak-tidak terhadapku. Di hadapan Dimas aku selalu takut untuk bertindak, aku takut ia berpikiran tidak-tidak terhadapku. Mengetahui niatku yang ingin pulang ke kosan, Dimas menawarkan dirinya untuk mengantarku pulang yang tidak mungkin kutolak. *** Aku menyesal tidak menerima ajakan Mira buat pulang bareng dan lebih memilih melipir ke kantin menuruti perut ku yang meronta-ronta ingin diberi makan. Alhasil disinilah aku, dihadapan para senior yang tempo hari melabrakku ditambah dua personil yang menjadi penyebab awal mula permasalahan ini, kak Deva dan kak Rama. Aku bisa saja langsung kabur ketika melihat mereka menuju ke meja tempat aku sedang menyantap bakso di depanku tapi itu hanya tindakan yang dilakuan oleh seorang pengecut dan pengecut gak pernah ada dalam kamus aku. Sekarang aku hanya bisa menunggu apa yang ingin mereka lakukan selanjutnya. Aku memasang sikap siaga ketika kulihat kak Gita menarik kursi dihadapanku dan duduk diikuti oleh beberapa temannya yang mengambil tempat duduk di samping kiri dan kananku. Mereka yang tidak kebagian tempat hanya bisa berpuas diri dengan berdiri di dekat meja tempatku makan. Jantungku berdetak sangat kencang, aku seperti dikepung oleh musuh. Bakso di depanku sudah tidak menarik lagi. Perutku tiba-tiba terasa kenyang melihat mereka. “Gue gak mau basa basi, jadi gue langsung aja,” kak Gita membuka suara. “Gue.. maksudnya kami mau minta maaf buat tempo hari,” tambahnya dengan suara pelan. “Minta maaf soal?” pancingku pura-pura tidak tahu arah pembicaraannya. “Minta maaf soal kami yang udah labrak lo,” sambar teman kak Gita yang duduk di sebelah kiriku. “Ngapain minta maaf?” “Kami tahu kami salah, kalau perlu gue dan temen-temen gue bakal buat klarifikasi soal gosip itu. Kita bakal klarifikasi kalo itu semua cuma salah paham aja,” ujar kak Gita Aku heran mengapa mereka tiba-tiba mendatanginya dan meminta maaf. Tiba-tiba kak Deva yang sedari tadi berdiri diam di samping kak Gita angkat bicara. “Kita disini mau minta maaf sealigus mau ngucapin makasih sama lo. Kita gak tau lo ngomongin apa sama dekan soal masalah ini, tapi apapun itu udah bikin gue sama temen-temen gue gak jadi di DO dan masih boleh lanjut semester depan. Thank you Fio it means a lot for us.” Penjelasan panjang lebar kak Deva membuat aku paham tujuan mereka. Aku terdiam tidak menanggapi ucapan kak Deva. Seharusnya aku senang, kan? Iya, seharusnya aku senang mendengar mereka mengakui kesalahannya dan meminta maaf tapi nyatanya aku tidak begitu senang mendengar permintaan mereka. Rasanya maaf itu sudah tidak ada gunanya lagi Tidak ingin lama-lama berada di situasi ini, aku buru-buru membereskan buku dan tasku dan segera bangkit. Sebelum beranjak pergi, aku menoleh ke arah kak Gita dan teman-temannya. “Gue bukan orang pemaaf, jadi gue gak bakal munafik dengan bilang kalo gue udah maafin kalian, dan juga gue gak bisa terima ucapan terima kasih dari kak Deva,” ucapku sambil melirik e arah kak Deva. “Gue ngelakuin itu buat ketenangan hati gue sendiri. Biar gue gak terus-terusan dibebani rasa bersalah. Jadi gak perlu bilang makasih, gue ngelakuin itu buat diri gue sendiri.” lanjutku sembari beranjak pergi. Aku melupakan satu hal dan berbalik. “Oh ya satu lagi, gak usah buat klarifikasi soal gosip itu. Gue gak masalah.” Tanpa menunggu balasan dari mereka, aku buru-buru pergi dri tempat itu, malas meladeni mereka lebih jauh. *** Sepulang dari kampus, aku mampir di kosan Lingga yang memang lebih dekat dari kampus dibanding kosanku. Aku sedikit menyesal meninggalkan baksoku yang belum sama sekali ku sentuh. Aku baru ingin memakannya ketika manusia-manusia tukang keroyok itu mendatangiku. Dan perutku kembali berbunyi tidak lama setelah aku meninggalkan kantin. Kosan Lingga mejadi destinasi utamaku mencari makanan sebelum pulang ke kosan. Kosan ku butuh waktu 30 menit dari kampus dan perutku sepertinya sudah tidak tahan untuk menunggu selama itu buat diisi. “Lo denger gak sih gue ngomong apa?” kataku kepada Lingga yang malah dengan khidmat memakan indomie di depannya. Aku dengan semangat berapi-api menceritakan bagaimana kesalnya aku di datangi oleh gerombolan rusuh itu dan berakhir dengan aku harus merelakan baksoku tidak digubris sama sekali. Aku berdecak kesal “Dasar lo gak ada gunanya banget jadi temen, gak asik banget lo” Lingga menoleh “Trus gue harus ngomong apa?” “Bantuin gue kekk buat nyumpah-nyumpahin mereka biar kesel gue lebih tersalurkan gitu.” “Tapi kan mereka juga temen gue.” Aku mencibir. “ Tapi gue kan sahabat lo.” Lingga menghela nafas “ Ya udah nih gue bantu ngata-ngatain mereka.” “Emangg anjingg si Gita!!” “Devaa si bocah guoblok bener-bener minta dirujak tuh anak!!” “Kamprett bener emang tuh si Rama, gue jorokin ke kali ciliwung baru tahu rasa dia!!” “...” “Kok berenti misuhnya?” “Gue lupa nama anggota gengnya si Gita” Kami saling berpandangan, lalu tertawa ngakak. Tidak sia-sia aku ke kosan Lingga siang ini, selain rasa laparku yang hilang, bad moodku juga hilang. “Karena perut gue udah kenyang dan mood gue udah balik, gimana kalo kita ke timezone malam ini. Lo yang traktir,” cetusku tiba-tiba. Lingga mengeluarkan protesannya. “Loh kok yang traktir gue?” “Ya gak apa-apa, hitung-hitung sedekah buat gue,” balasku sambil nyengir. “Cmon bebihh, cuci piringnya dan ganti baju, gak usah mandi lo udah cakep,” tambahku sembari menyodorkan piring kearahnya sambil mendorong tubuhnya menggunakan kakiku untuk menyuruhnya bergerak lebih cepat. “Cepetan, gak usah lama-lama siap-siapnya. Lo gak lagi pergi buat nge-date.” Perintahku lagi. “Sopan sekali ya anda jadi tamu,” sindirnya tapi tetap mengerjakan apa yang kuperintahkan. That’s my Ling-ling he he he. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN