Kak Dimas menatap ku dengan kedua akis yang diangkat tinggi-tinggi.
“Iya gak usah dijelasin, orang yang ngelihat dari jauh juga tahu”
“Tolongin saya ngangkat motor-motornya bisa kak?” Aku menatapnya dengan tatapan memelas.
Dimas mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
“Kenapa saya?”
Dimas sepertinya tidak berniat menolong ku keluar dari situasi ini.
“Ya karena yang ada disini cuman kakak dan saya,” balasku masih memasang tampang minta dikasihani.
Belum sempat aku melanjutkan kalimat persuasi ku untuk membujuk kak Dimas ketika sebuah pekikan kaget menghentikanku.
“ Ya ampun! ini ada angin topan atau apaan sampe bisa rubuh kayak gini motornya,” pekik suara tersebut. “Ya Allah vespa gua!”
Lingga berteriak histeris ketika melihat Vespanya menjadi salah satu dari puluhan motor yang menjadi korban keteledoran ku.
“Ini ulah siapa sih? sampe bisa kayak gini.”
Wah bisa mati di amuk Lingga aku kalau sampe dia tau penyebab kerusuhan ini adalah aku. Aku mengingat salah satu momen masa kecilku bersama Lingga dimana aku mencoret-coret buku gambar kesayangannya dengan sengaja dan berakhir dengan Lingga yang mematahkan semua pensil warna kesayanganku. Mungkin leher atau kaki ku yang akan patah kali ini.
“Jelasinnya nanti, sekarang bantuin gue dulu ngangkat nih motor-motor,” ujarku cepat mengalihkan perhatian Lingga. “Angkat motor yang diujung sana dulu tuh, supaya Vespa lo bisa di angkat juga.” lanjutku.
Kak Dimas yang sedari tadi hanya terdiam tiba-tiba bergerak ke arah motor yang aku tunjuk dan dengan upaya yang tidak terlalu berarti berhasil mengangkat motor tersebut dan memposisikannya di tempat semula.
Aku memandangnya heran
“Katanya tadi gak mau nolong saya,” ucapku heran.
“Kapan saya bilang gak mau nolong kamu?”
“Lah tadi kan situ nanya kenapa harus saya?” balasku sembari mempraktekkan nada menyebalkannya mengucapkan kalimat tersebut.
“Itu kan saya cuman nanya bukan berarti saya gak mau kan.” Kak Dimas kembali berbalik dan fokus mengangkat motor kedua yang juga dapat ia angkat dengan mudah.
Aku berbalik ke arah Lingga yang malah sibuk mengamati kak Dimas mengangkat motor tanpa berniat membantu.
“Woy monyett lu niat bantu gak sih.” Aku menggeplak kepala Lingga dan menyusul kak Dimas yang saat ini mengangkat motor ketiganya.
”Iya iya.” gerutu Lingga.
15 motor diparkiran ini berhasil kami angkat dalam waktu 10 menit yang sebagian besarnya diangkat oleh kak Dimas dengan bantuan ku. Tidak bisa dibilang membantu juga sih karena aku cuman menyentuh motor tersebut dan pura-pura mengerahkan tenaga seolah-olah aku juga mengangkatnya. Lagian tanpa bantuan ku kak Dimas dan Lingga juga bisa melakukannya sendiri, ini hanya bagian dari formalitas ku sebagai si penyebab kekacauan.
Oke masalah motor sudah beres!
Saatnya untuk...
Shitt... udah setengah dua belas, kuliahnya udah mulai dan makalahnya masih di tas ku.
Aku buru-buru pamit dan mengucapkan terima kasih kepada kak Dimas karena sudah sudi menolong ku. Kalau untuk Lingga... Heckk gak usah bilang makasih tampang dia cocok jadi tukang parkir jadi sah-sah aja dia ikut bantuin.
***
Persentasinya berjalan lancar, dosennya tiba sesaat setelah aku mendudukkan pantatku di kursi dan menyerahkan makalah yang telah di print tersebut kepada Adit beserta kunci motornya tanpa berniat menceritakan kejadian yang menyebabkan ku terlambat. Alamat bisa gak dipinjamin motor lagi nanti kalau ku ceritakan tentang insiden tersebut.
“Fio temenin ke kantin yuk,” teriak Mira dengan suara meleking sambil melenggang masuk ke dalam kelasku yang saat ini lagi ramai-ramainya. Dosen Pengantar Ilmu Komunikasi baru saja keluar. Doa Mira tidak terkabul, kami tidak sekelas. Sepertinya tuhan masih berpihak kepadaku dengan mengabulkan doa ku alih-alih mengabulkan doa Mira.
Tidak sekelas bukan berarti Mira berhenti merecokiku. Setiap sesi kuliahnya habis dia adalah orang pertama yang keluar dari kelasnya setelah dosen dan buru-buru melipir ke kelasku. Beda kelas tidak membuatnya mencari orang lain untuk menjadi temannya. Ia tetap mengikutiku kemana-mana. Sebenarnya tidak ada masalah berteman dengan Mira. She is a good friend, tapi masalahnya ada di diriku, aku hanya tidak nyaman berada di dekatnya. Dunia Mira itu berisik sedangkan aku butuh kedamaian. Bekerja di dunia malam yang penuh dengan kebisingan membuatku muak dan aku tidak butuh kebisingan-kebisingan lain untuk mengganggu sisa hari-hariku di luar Night Sky.
But I can’t stop her
There’s something about her that I can’t resist her existance.
***
Fio tidak tahu apa yang dia pikirkan ketika seorang Dimas Aryasatya menghadangnya di depan gerbang dan menyuruhnya naik dan duduk di mobil yg saat ini Dimas kendarai. Dia seperti terhipnotis dan tiba-tiba saja dia sudah berada di samping Dimas yang saat ini fokus menyetir. Dia sudah terlambat untuk mengajukan protesnya sekarang dan sibuk menerka nerka akan dibawa kemana ia oleh Dimas.
Karena tidak tahan dengan keheningan yg terjadi di mobil tersebut, Fio mencoba membuka percakapan untuk mengurangi suasana awkward ini.
"Ini kita mau kemana sih kak?"
"Nanti juga kamu bakal tau" balas Dimas tanpa menoleh kearah Fio.
"Setidaknya kasi clue lah kak" pinta Fio. Dimas tidak menjawab Fio dan masih saja fokus untuk menyetir. "Bisa mati penasaran saya kak" tambahnya. Dimas hanya mendengar fio yg menggerutu tanpa berniat menimpali ucapanya.
Fio yang mati gaya karena Dimas yang diam seribu bahasa ditambah keheningan yang tercipta, hanya mampu membuat Fio berdehem pelan sembari mengalihkan tatapannya ke jendela. Ia sibuk menerka-nerka akan dibawa kemana ia oleh Dimas. Mobil yang mereka berdua naiki meluncur dari kampus ke arah Bogor. Satu-satunya jawaban yang dapat Fio pikirkan adalah mereka akan ke Puncak,
Tapi untuk apa?
Gak mungkin nge-date, kan?
Jam di pergelangan tangan ku sudah menunjukkan pukul 3 sore, itu berarti sudah sejam jam yang lalu Dimas menyetir dan tidak ada tanda-tanda akan sampai ditempat yang ia tuju.
Karena tidak tau lagi bagaimana caranya agar suasana suram dan awkward di mobil ini mencair, Fio dengan lancangnya mengutak-atik mobil Dimas untuk menyalakan radio di mobil tersebut. Melihat gelagat Fio yang dengan santainya mengotak-atik mobilnya, Dimas yang dari tadi sibuk menyetir akhirnya membuka suara untuk protes
“Kamu mau ngapain?” tanya Dimas dengan mata melirik ke arah Fio.
“Mau dengerin radio kak, biar gak mati gaya lama-lama cuman bengong di mobil,” balas Fio sesaat sebelum suara musik yang menghentak mengagetkan Fio.
“Waw selera musik kakak benar-benar unik yah.” kataku dengan suara keras berharap agar suaraku tidak tenggelam dalam suara Robert Plant, vokalis Led Zeppelin yang sedang membawakan lagu Stairway to Heaven.
Kak Dimas tidak membalas apa-apa, ia hanya tersenyum mendengar komentarku. Tidak kusangka Kak Dimas bisa membalikkan perkataan ‘wajah preman tapi hati hello kitty”. Kalo kak Dimas sih ‘Wajah hello kitty tapi jiwa sangar’.
Nothing Else Matters dari Metallica masih mengalun ketika mobil tersebut berhenti di depan terminal bus.
"Kita ngapain kesini kak? tanya Fio
"Nanti juga kamu tau. Ayok turun,” balas dimas sembari beranjak dari balik kemudi.
Fio serta merta mengikuti Dimas turun dari mobil. Ia sungguh penasaran dengan tindakan sok misterius senior didepannya ini. Fio menghentikan langkahnya mengikuti Dimas yang berhenti di pinggir jalan yg di depannya berbaris tukang becak yang saat ini sedang menunggu penumpang.
pertanyaan bernada penasaran lagi-lagi dilontarkan Fio, kali ini dengan nada sedikit tinggi dan kesal.
"Kakak ini sebenarnya mau bawa saya kemana sih?" protes Fio. “kalo kakak masih aja gak jawab, saya bakal pergi" tambahnya dengan nada mengancam.
Dimas melirik Fio yg menampilkan raut kesal. Ia menghela nafas dan kembali memandang ke depan dan menunjuk tukang becak di seberang sana.
“Kamu lihat tukang becak di seberang sana?” Dimas mengarahkan jarinya ke arah tukang becak paling ujung yg saat ini memakan makan siangnya. Dilihat dari perawakannya, tukang becak tersebut adalah yg paling tua diantara tukang-tukang becak yang lain. Badannya kurus dan ringkih tapi Fio bisa melihat tekad yang masih kuat untuk mengais rezeki berkobar di matanya.
Dimas kembali melanjutkan perkataannya
“Namanya bapak Supardi. Tiap kali saya dan teman-teman se-angkatan punya kegiatan di Puncak, kami pasti selalu mampir ke rumah beliau. Di rumahnya piagam penghargaan waktu dia juara kelas di SD selama 6 tahun berturut-turut masih ia pajang di dinding ruang tamunya. Bagi beliau itu adalah pengingatnya kalau ia sempat merasakan yang namanya pendidikan.”
“Jadi beliau gak lanjutin sekolahnya,” ujarku setengah berbisik memotong penjelasan kak Dimas.
“Iya, beliau cuma lulus SD, terkendala biaya padahal dia termasuk siswa yang cerdas. Ia sering bercerita soal penyesalannya karena tidak berusaha lebih keras untuk memperjuangkan pendidikannya. Iya menyesal, kalau saja dulu ia lanjut mungkin ia sudah bisa membuat pesawat macam pak Habibie, katanya. Itu adalah cita-cita beliau dulu sekarang dia cuman bisa narik becak, soalnya hanya itu pekerjaan yang ia bisa dan sesuai kemampuannya. ” Dimas bercerita sembari menatap bapak Supardi di seberang sana dengan sendu.
“Beliau tidak ingin hal serupa terjadi sama anak-anaknya, karena itu meski di usianya yang sudah tua dan sudah waktunya untuk beristirahat dirumah sembari menikmati hari tuanya, ia tetap harus menarik becak demi pendidikan anak-anaknya.”
Dimas menoleh dan memamerkan senyum hangat kemudian melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul empat lebih seperempat. Ia menarik lembut tangan Fio yang ditanggapi Fio dengan kening berkerut tetapi ia tidak melancarkan protesannya kali ini. Mereka kembali ke parkiran dimana mobil Dimas berada.
Setelah menemui bapak Supardi, Dimas kembali membawaku menyusuri jalanan ibu kota. Kali ini Rubicon yg dikendarai oleh Dimas membawa kami ke pinggiran Kota Tua. Berbicara mengenai mobil Dimas yang tidak aku sangka adalah Rubicon, yang mana aku dan teman-teman perempuanku di Night Sky memiliki inside joke soal mobil jenis ini. Kami berteori bahwa sifat laki-laki bisa dilihat dari jenis mobil yang ia miliki. Nah rubicon yang sedang dikendarai Dimas ini biasanya dimiliki oleh para pria f**k boy. Teori ini bisa dibilang sering terbukti dari observasi kami terhadap pelanggan di Night Sky, rata-rata pengendara mobil ini selalu datang sendirian dan pulang dengan membawa wanita yang ia temui di Night Sky.
Aku tidak bisa membayangkan kalau orang seperti Dimas adalah seorang f**k boy. Tampang sopannya itu pasti sangat tidak mendukung ketika ia beraksi. Bukannya aku berpikir bahwa Dimas tidak tampan. Justru, ia sangat tampan tetapi tampannya Dimas itu tampan yang dimiliki pria baik-baik. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana raut Dimas saat melancarkan aksi menggodanya.
Aku terkekeh sendiri membayangkan hal itu.
Tapi Dimas ini sungguh orang yang sulit ditebak, dari selera musiknya, pilihan kendaraannya, dan tujuan ia membawaku pergi hari ini, benar-benar sulit ditebak.