“Divya. Kamu ngapain kesini?” tanya Dimas menyuarakan pertanyaan yang juga ingin ku tanyakan. Sudut bibir Divya menarik sebuah senyuman sebelum melangkah masuk kedalam apartemen tanpa lebih dulu dipersilahkan. Ia memasuki apartemen itu seolah-olah dia adalah pemilik unit ini. Tidak ada kecanggungan sama sekali sebagaimanaseorang tamu pada umumnya. “Tangan kamu kenapa?” tanya Divya meneliti tangan Dimas yang dipasangkan gips dan penyangga. “Oh ini tadi ada insiden kecil. Gak apa-apa kok,” balas Dimas enteng. “Di gips kayak gini kamu bilang gak apa-apa. Untung aku kesini, kalau nggak siapa yang jagain kamu.” “Gak usah hiperbola deh Vy, disini juga udah ada Fio kok.” Entah mengapa aku benci Divya setiap kali Dimas memanggil namanya dengan penggalan yang sama seperti ketika ia memanggi

