Dimas tidak berhenti tertawa melihat wajah kagetku ketika ia menyebut soal makan malam dengan keluarganya. “Kamu harus liat tampang kaget kamu tadi Fi, bener-bener lucu banget.” Aku hanya bisa terdiam menahan kesal melihatnya yang masih sibuk menghentikan tawanya itu. Kami tidak jadi makan malam bersama keluarga Dimas. Ah, bukannya tidak jadi tapi memang tidak pernah direncanakan. Itu hanya akal-akalannya saja untuk mengerjaiku. Sepertinya ia berniat balas dendam karena tadi aku menggodanya. “Segitu menakutkannya ya ketemu keluargaku sampai-sampai reaksi kamu kayak gitu?” kali ini Dimas bertanya serius tidak ada sisa-sisa tawa dalam nada suaranya. Aku berpikir sejenak merangkai jawaban yang tepat untuk kukeluarkan. Bukannya aku tidak ingin bertemu keluarganya. Hanya saja untuk saat in

