Alfian berjalan masuk ke dalam kantornya dengan was-was. Otaknya masih memikirkan adik sambungnya sekarang. Dia mendesah, wajah adiknya memang terlihat ceria, tapi dia tahu bahwa ada yang gadis itu pikirkan, terutama saat keluar dari lift apartemennya tadi. Dia berjalan memasuki ruangannya, duduk di kursi kerja, menghidupkan komputer. Sembari melihat ke arah ruang karyawan yang sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Dia melirik ke arah laporan yang menumpuk di meja kerjanya. Dia mengambil salah satu stop map hitam, membaca laporan keuangan kuartal I lalu mendesah. Tok... tok... tok.... Ketukan di pintu, mengalihkan fokusnya. Matanya melirik ke arah pintu dan melihat sekretarisnya membuka pintu. “Masuk...” Sekretaris pria itu berjalan mendekati Alfian, kemeja biru dan celana

