“Bi...” Suara bergetar yang terdengar dari ponsel pintarnya membuat Bianca yang awalnya ogah-ogahan mengangkat telepon, kini sontak bangun dari tidurnya. Matanya yang awalnya merem melek akhirnya terbuka lebar. “Mama kenapa?” ujarnya ketakutan. Kekhawatiran memenuhi dirinya mendengar suara Mamanya yang terdengar lemah dan bergetar. Kondisi Mama Ambar yang naik turun selalu membuatnya dan juga Tari yang kini berjauhan dengan beliau tak tenang. Isakan-isakan yang terdengar, bukannya jawaban membuat Bianca sontak tertidur. Matanya menatap ke arah jam dindingnya yang menunjukkan jam 1 pagi waktu Paris yang berarti baru jam 6 pagi Jakarta. Apa yang membuat mamanya menangis hebat sepagi ini. “Mama baik-baik saja kan?” tanya Bianca lagi mengusap rambut panjangnya. “Ujian akhir kamu sudah

