“Jadi... Beberapa hari yang lalu, lo beneran bertengkar sama suami lo?” tanya Rena mencondongkan tubuhnya, tangannya bergerak menyentuh punggung tanganku sebelum kemudian menekannya pelan. Aku tersenyum tipis, bahkan mungkin setipis seutas benang. Tak tahu harus mengatakan apa. Tak menyangka bahwa Rena bisa sesensitive itu sehingga menyadari kalau aku datang ke kampus dengan mata sembab sehabis menangis setelah pertengkaran pertama yang terjadi di antara aku dan Alfian tempo hari. “Ran...” Panggilnya lagi, memintaku untuk menjawab pertanyaannya. Aku menarik napas dalam, mengambil minuman milikku sebelum kemudian menyedotnya. Membiarkan air es itu membasahi kerongkonganku yang kering. Aku bukannya tak ingin menjawab pertanyaan Rena, hanya saja... Rasanya, terlalu personal jika aku membah

