Bab 12 - Wedding's Rules (1)

1024 Kata
“Biar aku saja ...” Aku tersentak saat Alfian mengambil kardus berisi belanjaan kami yang ingin aku bawa. Kembali tanpa bicara, pria itu menumpuk dua kardus itu dan membiarkanku membawa satu plastik sedang berisi cokelat dan makanan ringan untuknya. Menutup bagasi mobil miliknya, sebelum kemudian terkekeh dan menggelengkan kepala saat melihat itu begitu kuat mengangkat dua kardus berisi barang belanjaan kami. Aku melangkah cepat mensejajarkan tubuh kami agar bisa berjalan berdampingan menuju pintu basement. Sepertinya, aku memang harus membiasakan diri dengan seorang Alfian yang irit bicara dan lebih suka bertindak terlebih dahulu, jika ingin pernikahan ini berhasil. “Taruh di meja dapur saja, nanti aku yang beresin,” ujarku saat kami baru saja masuk ke dalam apartemen. Kulirik Alfian yang menaruh barang belanjaan kami di meja dapur sesuai dengan permintaanku. Napas pria itu terengah, bagian belakangnya basah karena keringat. Bergegas, aku berjalan ke arah dapur. Menuangkan air dingin ke gelas lalu memberikan ke Alfian yang langsung diminumnya hingga tandas. “Terima kasih,” ujarnya singkat sembari berusaha untuk mengatur napasnya. “Kamu istirahat saja dulu, capek banget kayaknya.” Alfian terdiam sejenak, melirik ke arahku. Mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu namun dia urungkan. Sebelum kemudian, dia menarik napas dalam dan berjalan ke kamarnya tanpa mengucapkan satu kata pun. Pintu kamar Alfian sudah kembali tertutup. Aku menundukkan kepala sembari berharap pria itu berusaha untuk menepati janjinya untuk mencoba menjalani pernikahan ini. Pernikahan ini memang tidak berdasarkan cinta, melainkan tanggung jawab. Tapi bukankah seiring dengan waktu berlalu, jika masing-masing dari mereka mencoba membuka hati bukan tak mungkin bahwa dengan seiringnya waktu, kami akan terbiasa satu sama lain dan menumbuhkan hal lain dalam diri kami nantinya. Aku menggelengkan kepala sebelum kemudian berjalan ke arah kardus yang ditaruh Alfian di meja dapur. Membongkar semua barang belanjaan kami, memilahnya sesuai dengan kebutuhan rumah. Menaruh persediaan sabun di rak dekat kamar mandi dan juga laundry room. Kemudian kembali memasukkan bahan makanan ke kulkas, sesuai dengan tempat yang sudah aku rapikan sesuai dengan tempatnya. Lalu berjingkit untuk membuka kabinet atas untuk menaruh cemilan asin milik Alfian. Untuk kali ini, aku menghardik tinggi badanku yang hanya rata-rata wanita Indonesia yang bahkan tidak dapat menjangkau lemari atas dapur itu. “Biar aku saja.” Aku terkejut saat melihat Alfian sudah berdiri di belakangku, mengambil makanan ringan yang tak dapat kutaruh lalu menaruhnya dengan mudah. Aroma tubuh sehabis mandi yang menguar dari tubuhnya membuat bulu kudukku meremang. Dengan cepat, aku menjauhkan tubuhku lalu berdiri di samping Alfian yang kini merapikan makanan ringan itu. “kalau tak sampai, seharusnya minta tolong,” katanya singkat yang hanya bisa kujawab dengan anggukan. Wangi sabun pria yang maskulin masih menggoda indera penciumanku sehingga aku hanya bisa menunduk dan menahan napasku. Aku mencuri pandang ke arah Alfian yang kini berdiri menjulang di depanku tanpa berniat untuk beralih. “Ada yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku mengangkat kepalaku, menatap wajah Alfian yang mengangguk. “Ada yang harus kita rembukan berdua sekarang.” “rembukan?” tanyaku bingung. Alfian menghela napas, dengan kedua tangan yang kini berkacak pinggang. “Iya .... tetang bagaimana kita menjalani pernikahan kita,” ujarnya membuat keningku cemberut sebelum kemudian dia menarik tanganku agar mengikutinya ke ruang keluarga. Napasku kembali tercekat saat tangan Alfian menggenggam tanganku. Berbeda dengan wajah dan penampilannya yang cenderung dingin. Kehangatan menguar dari tangan Alfian kembali membuat getaran aneh yang terasa membuat rona merah itu kembali datang. “Maaf ...” kata Alfian cepat saat menyadari tangannya menggenggam tanganku dengan begitu erat. Dia terlihat salah tingkah dan menggaruk tengkuknya. Sejenak aku dapat melihat wajahnya memerah sebelum dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aku duduk di tengah sofa panjang lalu mendongak ke arah Alfian. “Apa yang harus kita rembukan?” Alfian kembali tak menjawab ucapanku, melainkan berjalan ke arah lemari kecil yang ada di dekat pintu keluar, mengambil beberapa lembar kertas putih  dan juga pulpen dari sana, sebelum kemudian kembali dan duduk di ujung sofa, memberi jarak di antara kami yang kembali membuatku menghela napas. Dia meletakkan selembar kertas putih itu ke arahku, “Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?” Keningku berkerut mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Alfian. Rasanya telingaku memekak, seolah tuli ataupun salah dengar mendengar ucapan Alfian tadi, “Perjanjian?” ulangku yang dijawab Alfian dengan anggukan pelan. “Seperti Kontrak?” tanyaku pada akhirnya setelah keterdiaman yang kembali terjadi di antara kami. Kembali mengangkat kepala dan menatap ke arah Alfian, berharap pria itu hanya membuat lelucon atas permintaan yang dia ucapkan di mobil tadi. Aku menggigit ujung bibirku berharap Alfian tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Namun saat melihat wajahnya terlihat begitu serius membuatku menghela napas. Tatapan itu tak dapat kuartikan. “Bukan seperti kontrak.” “Lalu?” “Lebih ke Wedding’s rules. Bukankah kau ingin aku juga ikut mencoba?” Alfian menatap ke arahku, tatapan tajam yang dia perlihatkan seolah sedikit melunak, “Aku ingin kita berdua membuat peraturan dalam pernikahan kita agar kita tahu batasan dan hal-hal yang harus kita patuhi agar pernikahan ini berhasil.” Alfian kembali menatapku dengan mata Abunya yang membuatku terhanyut. Sorot mata tajam itu perlahan berubah menjadi lembut. Hal itu sontak membuat tubuhku kembali membeku. Seolah ada worm hole yang menghisap dan membawaku ke padang bunga cantik yang membuat perasaan sesak yang tadi kurasakan berubah menjadi lebih lega. Benarkah Alfian juga menginginkan agar pernikahan ini berhasil? Apakah dia memulai menerima pernikahan ini? Pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul di dalam pikiranku, membuatku kembali menolehkan kepala ke arah Alfian yang juga melihatku. “Aku bukan orang yang bisa dengan cepat bersosialisasi sepertimu, aku membutuhkan banyak waktu untuk penyesuaian. Dengan memiliki Wedding’s rules, aku tahu apa yang boleh dan tak boleh aku lakukan, begitu juga sebaliknya. Maukah kau melakukannya?” Ini pertama kalinya, Alfian berbicara panjang lebar seperti ini. Tatapan matanya dalam, menandakan keseriusan dari segala ucapan yang baru saja dia ucapkan tadi. Kutatap kertas putih yang ada persis di depanku itu lekat, sebelum kemudian aku menoleh dan membalas tatapan Alfian. “Kamu berjanji akan mematuhi peraturan-peraturan itu?” Perlahan senyumku kembali terukir saat melihat Alfian menganggukkan kepalanya, “Kita sama-sama mematuhinya.” Kata ‘Kita’ yang Alfian tunjukan membuatnya menyadari bahwa ada kesempatan untukku menjalani kehidupan pernikahan yang normal seperti impianku dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN