Satu hal yang tak dapat kubayangkan dari seorang Alfian Abiyaksa adalah bagaimana pria itu bisa menjadi begitu romantis seperti ini. Genggaman tangan yang sedari tadi tak pernah dia lepaskan, atau bahkan bagaimana pria itu menarik kursi dan mempersilahkanku untuk duduk terlebih dahulu. Tindakan sederhana memang tapi tetap saja hal itu membuatku takjub. Pria itu benar-benar berusaha untuk berubah dan membuka hatinya. Walaupun sikapnya terkadang masih kaku, namun setidaknya pria itu memikirkanku. Aku sendiri tak mengerti mengapa tiba-tiba Alfian mengajaknya untuk Dinner di malam Valentine seperti ini. Mungkinkah pria itu merasa cemburu karena melihat banyaknya cokelat yang kudapatkan dari pria lain. Aku menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pemikiran yang terlalu mengada-ada itu. seb

