Setelah mendengar kabar buruk tentang Alex, Mia bisa sedikit bernafas lega karena dirinya tidak harus bertemu dengan Alex. Namun, kekhawatiran atas nasib Alex masih membayangi pikirannya.
"Tunggu, kenapa kau harus kawatir dengan keadaan pria b******k itu? Jika ia mati, aku akan terbebas darinya kan," gumam Mia di dalam kamarnya. Suaranya penuh dengan campuran antara kekhawatiran dan ketidaksenangan.
Mia duduk sendirian dalam kamar, pikirannya penuh dengan pertanyaan dan emosi yang bergejolak. Dia tahu bahwa situasi ini bisa menjadi peluang untuk menghilangkan ancaman yang selama ini mengganggu hidupnya.
Namun, di balik rasa muaknya terhadap Alex, ada ketidakpastian dan kekhawatiran akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Hei bocah, apa kamu sudah siap?" teriak seorang pria.
"Namaku Alpha, jangan panggil aku bocah. Namaku sangat berarti bagi orang tuaku!" balas Alpha dengan suara tegas, tidak terima dengan panggilan tersebut.
Sorot matanya penuh dengan tekad dan harga diri yang tinggi. Dia tidak akan membiarkan dirinya dianggap enteng.
"Baiklah, Alpha, kamu sudah siap untuk menjalankan rencana ini?" tanya pria itu lagi.
"Aku kan selalu siap jika itu menyangkut kakakku," jawab Alpha dengan mantap, ekspresinya penuh dengan determinasi.
"Bagus, bocah pintar," puji pria tersebut, namun Alpha segera menegur, "Jangan panggil aku bocah."
Pria itu terlihat jengah berdebat dengan alpha dan memilih segera pergi dari tempat itu, diikuti oleh Alpha yang tetap bersikap tegas.
Van dan para anak buahnya kini sibuk mencari keberadaan Alex. Mereka menyusuri jurang-jurang tersembunyi, tanpa mengenal lelah, untuk mencari jejak-jejak keberadaan Alex.
Mereka menyadari bahwa entah Alex masih hidup atau telah tiada, mereka harus menemukan jawaban secepat mungkin.
Setiap sudut jurang mereka telusuri dengan teliti, mengabaikan bahaya-bahaya yang mengintai.
Mereka saling berkomunikasi dengan isyarat tangan, bergerak dengan hati-hati, dan menyimpan harapan bahwa mereka akan menemukan jejak-jejak Alex atau mendapatkan petunjuk yang dapat membimbing mereka.
Waktu berlalu tanpa henti, namun semangat mereka tidak surut. Di tengah ketegangan dan ketidakpastian, mereka terus maju, bertekad untuk membawa Alex kembali, atau setidaknya mengetahui nasibnya.
Keselamatan Alex adalah prioritas utama mereka, dan mereka tidak akan berhenti sampai menemukan jawaban.
Sementara di tempat lain, pria tua dan Alpha berdiri memandangi tubuh seorang pria yang terluka.
"Jadi dia orangnya?" tanya Alpha, matanya fokus pada pria tersebut.
"Iya, dia orangnya. Dia adalah Alexander Nathaniel Anderson," ucap pria tua itu dengan suara rendah, ekspresinya penuh dengan kebencian.
"Kenapa namanya belakangnya sama dengan aku?" batin Alpha ketika mendengar nama panjang Alex.
Rasa penasaran dan kebingungannya semakin bertambah. Mungkin ada lebih banyak rahasia yang tersembunyi di balik pertemuan mereka dengan Alex. Alpha harus mencari tahu lebih lanjut untuk mengungkap kebenaran di balik semua ini.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat bingung, bocah?" tanya pria tua itu.
"Jangan panggil aku bocah," tegur Alpha dengan nada tegas.
"Baiklah," jengah pria itu, "jadi pria ini adalah pria yang sudah menculik kakakku, Mia?"
"Iya, betul sekali," jawab Alpha dengan suara penuh kebencian.
"Dasar b******n b******k," ucap Alpha dengan amarah, mengagetkan pria tua itu dengan perkataannya yang tajam dan tegas. Keputusasaan dan kemarahan dalam dirinya semakin terlihat jelas.
"Apa? Apa kau tidak pernah melihat remaja mengumpat menggunakan kata-kata kasar?" sindir Alpha pada pria tua itu yang terlihat terkejut dengan umpatan yang ia lontarkan. Alpha tidak memedulikan tatapan terkejut dari pria tua itu.
"Sudahlah, kamu harus berpura-pura menjadi penyelamatnya dan berusahalah untuk menjadi orang yang paling ia percaya selain Van," kata pria tua itu, mencoba memberikan arahan kepada Alpha.
"Van? Siapa dia?" tanya Alpha, mencari kejelasan.
"Dia adalah saudara angkat Alex yang seperti sahabat sejati baginya sekaligus tangan kanan Alex," jelas pria tua itu dengan serius.
Kembali kepada Van yang masih menyusuri jurang, tiba-tiba ia mendapat telepon.
"Hallo, Tuan Van," suara dari ujung telepon terdengar.
"Hallo, ada apa?" tanya Van, rasa waspada langsung terpicu.
"Maaf, Tuan. Nona Mia berusaha kabur dari mansion," suara itu menjelaskan.
"Apa?... Baiklah, aku akan segera kesana," ucap Van dengan nada serius.
"Baik, Tuan," jawab suara di ujung telepon.
Setelah mendapat kabar tersebut, Van langsung bergegas kembali menuju mansion Alex. Ia tahu bahwa situasi ini semakin rumit dan harus diatasi dengan cepat.
Tidak lama kemudian, Van sampai di mansion Alex. Dia melihat Mia yang berusaha memberontak dari cekalan para pengawal mansion itu.
"Lepaskan aku, bodoh!" desak Mia dengan keras.
"Maaf, nona, tapi saya tidak bisa membiarkan Anda pergi," ucap salah seorang pengawal dengan tegas.
"Aku tidak peduli! Tuanmu yang b******k itu sudah mati, aku tidak ingin disini lebih lama lagi!" Mia bersikeras, matanya penuh dengan ketidakpuasan.
"Maaf, nona, tapi itu bukan keputusan Anda," balas pengawal dengan tenang, tetap memegang lengan Mia.
"b*****h, lepaskan aku!" teriak Mia dengan marah, keputusasaan terlihat jelas dalam suaranya.
Dia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari genggaman pengawal tersebut. Situasi ini semakin tegang, dan Van harus segera campur tangan sebelum hal ini berakhir dengan lebih buruk lagi.
"Maaf, Mia. Bukan keputusanmu ataupun mereka untuk bisa pergi dari tempat ini!" teriak Van keluar dari mobilnya. Mia terdiam mendengar suara yang tidak asing.
"Kau? Kau juga sama brengseknya dengan tuanmu itu," Mia menggertak dengan penuh kebencian.
"Maaf, nona. Aku hanya mengikuti perintah," jawab van dengan tegas.
"Aku tidak peduli dengan perintah! Perintah siapa yang kamu maksud, huh? Tuanmu yang b******k itu sudah mati, jadi untuk apa kamu masih menahanku di sini? Itu sia-sia dan tidak berguna!" Mia membalas dengan suara gemetar, dipenuhi dengan emosi yang membara.
Van melihat situasi semakin genting. Dia harus menemukan cara untuk menenangkan Mia dan membawanya pergi dari mansion tanpa menimbulkan lebih banyak masalah.
Van, tanpa berpikir panjang, langsung memukul tengkuk Mia untuk membuatnya pingsan. Setelah Mia tak sadarkan diri, Van membawanya masuk ke dalam mansion.
Dia tahu bahwa saat ini Mia hanya dianggap sebagai tawanan dan mainan oleh Alex. Namun, Van tidak akan membiarkan Mia kabur dan pergi begitu saja. Tidak sebelum sahabatnya sendiri, yang kini terbaring tak berdaya di dalam mansion, yang membebaskan Mia.
"Maaf, Mia. Aku harap kamu bisa memaafkan aku. Aku memang bukan manusia baik, tapi aku yakin jika musuh Alex mengetahui tentang dirimu, pasti mereka akan menyerangmu juga. Meski mereka tidak tahu kebenarannya, kau hanyalah mainan bagi Alex," ucap Van setelah membaringkan Mia di tempat tidur di kamar Alex.
"Tolong jaga nona dengan ketat, jangan biarkan dia meninggalkan kamar ini," perintah Van kepada penjaga dengan suara tegas.
Van meninggalkan kamar dengan hati-hati, mengetahui bahwa situasi ini semakin rumit. Dia harus segera mencari sahabatnya dan membawa Alex ke keadilan.