BAB 7.

1070 Kata
Mansion mewah itu tiba-tiba terguncang oleh dentuman keras. Gemuruh langkah berat menyeruak di koridor marmernya. Alex segera tersentak dari kursinya, mata tajamnya menyapu sekitar ruangan. "Anak buahku, siapkan diri kalian," bentak Alex, suaranya menggema di dinding-dinding mewah. Ia segera mengenakan jas hitam tebalnya, dan mengamankan senjata-senjata tersembunyi di laci khususnya. Sesaat kemudian, pintu-pintu besar di hall utama terbanting dengan gemuruh. Di baliknya, berdiri sepuluh sosok hitam yang mengenakan jas kulit dan topi fedora yang rendah. Mereka adalah komplotan penjahat dari kelompok Mafia lain, terkenal dengan kekejamannya. "Waktunya membayar utangmu, Alex!" ujar Angelo, pemimpin komplotan tersebut, sambil tersenyum sinis. Tanpa sepatah kata lagi, serangan pun dimulai. Ruangan itu menjadi arena pertarungan, langkah-langkah cepat dan serangan balik yang tajam. Suara tembakan dan benturan logam memenuhi udara. Pintu-pintu pecah, lukisan-lukisan tergantung roboh, dan segerombolan serpihan marmer melayang di udara. Anak buah Alex bertempur dengan gigih, mempertahankan tanah air mereka dengan penuh semangat. Mereka telah mengalami pelatihan yang keras dan menguasai seni pertarungan tanpa tanding. Namun, kelompok Mafia yang menyerang tidak kalah tangguh. Alex sendiri berdiri di tengah pertarungan, matanya memancarkan kemarahan dan tekad yang tak tergoyahkan. Ia mengayunkan pedangnya dengan presisi mematikan, menghadapi setiap serangan dengan kecepatan kilat. Setiap gerakannya adalah kombinasi dari keahlian, kekuatan, dan instingnya yang luar biasa. Pertarungan itu berlangsung dengan kejam, detik demi detik berubah menjadi menit. Mansion yang dulu tenang dan megah, kini menjadi saksi bisu dari kekerasan yang terjadi di dalamnya. Darah terpercik di lantai marmer yang indah, dan suasana mencekam terasa di udara. Namun, keberanian anak buah Alex mulai membuahkan hasil. Salah satu dari penjahat Mafia terjatuh, wajahnya tertutup oleh lumpur darah. Yang lainnya mulai mundur, terhuyung-huyung dari serangan-serangan mematikan. Akhirnya, pertarungan itu mencapai puncaknya. Alex, dalam kelelahan yang mendalam, melihat komplotan penjahat itu mundur dari mansionnya. Mereka meninggalkan jejak kehancuran, tetapi tidak sebanding dengan kekuatan dan semangat anak buahnya. Dengan nafas tersengal-sengal, Alex mengangkat pedangnya sebagai tanda kemenangan. "Kita bertahan!" serunya, suaranya menggetarkan ruangan yang hancur. Mansion itu mungkin telah dilanda kehancuran, tetapi semangat dan tekad tidak bisa dihancurkan begitu saja. Mereka akan bangkit kembali, lebih kuat dari sebelumnya. Dan pertarungan tanpa batas ini hanya menjadi awal dari perang yang akan mengubah nasib mereka selamanya. Di kejauhan, seseorang tengah tersenyum melihat kondisi mansion yang dihuni oleh Alex kini telah berantakan akibat pertarungan tersebut. Mata mereka menyipit senang, menikmati pemandangan kehancuran dengan puas. Mereka adalah mata-mata dari kelompok musuh tersembunyi, yang selama ini telah memantau setiap langkah Alex. "Tampaknya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan," gumam sang mata-mata dengan nada dingin. Mereka membuat catatan mental tentang kerusakan besar yang terjadi di mansion tersebut. Namun, di balik senyum dingin itu, ada kehati-hatian yang tak terelakkan. Mereka tahu bahwa meski mansion itu berantakan, kekuatan dan semangat anak buah Alex tidak bisa diabaikan begitu saja. Pertempuran ini mungkin hanya awal dari konflik yang lebih besar. Mata-mata itu memutar tubuhnya dan menghilang di balik bayangan pepohonan, meninggalkan tempat itu dengan hati-hati. Mereka tahu bahwa perang belum berakhir. Kedua belah pihak akan kembali untuk mengukir jejak-jejak keberanian dan pengorbanan mereka di medan pertempuran yang lebih luas. Di balik kegelapan, langkah-langkah itu berdesir pergi, menyatu dengan malam. Mereka telah menyaksikan sejarah terbentuk, dan sekarang, mereka akan bergerak untuk membentuknya sendiri. Hanya waktu yang akan memberi tahu siapa yang akan mendominasi pertarungan ini, dan siapa yang akan menderita kekalahan yang menyakitkan. Ditempat lain, Mia kini telah bekerja di sebuah bar yang cukup ternama di kota B. Cahaya neon yang berkilauan memancar dari pintu masuk, menyambut tamu-tamu yang memadati ruangan. Suara tawa, musik, dan percakapan riuh rendah memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang hidup dan penuh semangat. Mia, dengan pakaian hitamnya yang modis dan senyuman ramahnya, bergerak lincah di sekitar bar. Ia adalah salah satu bartender terbaik di kota ini, mahir dalam mencampurkan koktail-koktail eksotis dan memenuhi permintaan pelanggan dengan tepat. Kecepatan dan ketepatannya dalam melayani membuatnya dikenal di seluruh kota. Setiap malam, Mia menyaksikan berbagai cerita hidup yang berlangsung di sekitarnya. Ada yang merayakan kemenangan, ada yang tenggelam dalam kesedihan, dan ada pula yang mencari pelarian dari rutinitas sehari-hari. Mia menjadi saksi bisu dari berbagai emosi yang terungkap di depannya. Namun, di balik senyum profesionalnya, Mia menyimpan rahasia dan impian pribadi. Ia bermimpi memiliki bar miliknya sendiri suatu hari nanti, tempat di mana ia dapat menciptakan atmosfer yang dia idamkan dan memenuhi hasrat bartendingnya dengan sepenuh hati. Kehidupan Mia di bar ini bukan hanya tentang menyajikan minuman dan mencampurkan koktail. Ia juga menjadi pendengar setia bagi para tamu yang mencari teman bicara. Banyak dari mereka datang untuk melupakan masalah sejenak, dan Mia selalu siap memberikan saran atau sekadar mendengarkan. Saat matahari terbenam dan kota B semakin hidup, Mia tetap berdiri kokoh di balik bar, mengaduk-aduk cairan dengan penuh dedikasi. Baginya, setiap minuman adalah karya seni yang mencerminkan keterampilan dan ketertarikannya terhadap dunia bartending. Dengan setiap gerakan, Mia mengukir jejaknya di industri bar kota B. Ia tidak hanya seorang bartender, melainkan juga seorang seniman yang menciptakan pengalaman tak terlupakan bagi setiap pelanggan yang melangkah ke bar yang dikelolanya. Mia sudah mulai melupakan kejadian kelam yang membuatnya harus pindah ke tempatnya saat ini. Meskipun bayangan-bayangan masa lalu masih terkadang menghantuinya, dia telah menemukan kedamaian dalam rutinitas bar yang sibuk dan dinamis. Setiap langkahnya di sekitar bar adalah langkah menuju pemulihan. Dia menemukan kekuatan dalam setiap minuman yang dia buat, setiap percakapan dengan pelanggan, dan setiap senyum yang mereka berikan. Di sini, dia menemukan komunitas baru yang mengerti arti mendukung satu sama lain. Mia juga menemukan inspirasi untuk mewujudkan mimpinya memiliki bar sendiri. Setiap kali dia memandang sekeliling, dia melihat potensi untuk menciptakan tempat yang akan menjadi oase bagi orang-orang yang mencari pelarian. Dia mulai merencanakan, mengumpulkan ide, dan menabung untuk mewujudkannya. Namun, ada kalanya saat Mia terdiam di balik bar, membiarkan ingatannya menyusup masuk. Dia tahu bahwa dia tidak akan pernah benar-benar melupakan kejadian itu, tetapi dia telah belajar untuk berdamai dengannya. Mereka adalah bagian dari dirinya, tetapi bukanlah definisi dari siapa dia sekarang. Saat malam berlalu dan matahari terbit, Mia menghadapi setiap hari dengan tekad dan semangat yang baru. Dia tahu bahwa kehidupan tidak selalu mudah, tetapi dia juga tahu bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengatasi setiap rintangan. Di balik bar yang cemerlang dan gemerlap, Mia menemukan ketenangan dan tujuan. Di sinilah dia menemukan tempatnya di dunia, di antara cairan-cairan yang berkilau dan cerita-cerita yang terus berlanjut. Dan dengan setiap langkah yang diambilnya, Mia terus melangkah maju menuju masa depan yang lebih cerah, membawa dengan dia kebijaksanaan dan kekuatan yang diperoleh dari pengalaman masa lalunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN