Mia merasa guyuran air yang menepa tubuhnya seperti sebuah panggilan lembut dari kenyataan, menariknya perlahan dari dunia mimpi yang nyaman. Dia membuka matanya perlahan, menemukan dirinya terbaring di sofa yang asing, di dalam sebuah ruangan yang sepertinya belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Suaranya mengecil, mencoba mencerna kebingungannya, dan keningnya mengkerut ketika ia berusaha mencari petunjuk tentang tempat ini. Kecerdasannya terus berlomba dengan kebingungannya, mencoba mengenali ruangan ini meskipun semuanya begitu asing.
Di tengah-tengah kebingungannya, sesosok tubuh terlihat. Mia mengawasi orang itu dengan hati-hati. Orang itu terasa asing, tapi ada sesuatu yang memancing kenangan samar di dalam pikiran Mia. Itu adalah Alex, seseorang yang Mia berusaha sekuat tenaga untuk menghindari. Sudut bibir Mia mengecil, mencerminkan keraguannya akan situasi ini.
Mia terduduk dengan terkejut di ujung tempat tidurnya, matanya membulat dalam kebingungan. Dia memandang Alex, orang yang selama ini paling ia hindari. Raut wajah Alex tampak serius, matanya menatap Mia dengan ekspresi campuran antara kekhawatiran dan keputusasaan.
"Kamu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mia, suaranya bergetar karena kebingungannya.
Alex menghela nafas dalam-dalam sebelum berbicara. "Mia, aku tau ini tidak terduga, tapi seharusnya aku bukan yang bertanya! apa yang kamu lakukan disini... hahahahaha......" tawa alex yang menggelagar di ruangan itu membuat mia semakin takut.
Mia merasa hatinya berdegup kencang. Dia tidak pernah membayangkan bahwa satu hari nanti dia akan melihat ataupun mendengar suara Alex seperti saat ini.
"Dimana aku, kenapa aku bisa disini?"
"Tentu saja di kamarku! memang dimana lagi hm"
Mendengar itu mia terkejut bukan main, bagaimana bisa ia berada di kamar alex bukankah ia semalam sedang bekerja seperti biasa di bar tempat ia bekerja, susah beberapa bulan berlalu dan mia bahkan sudah hampir bisa melupakan peristiwa yang terjadi antara ia dan alex tapi kini mia malah bangun dari tidur di ranjang kamar alex.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" teriak mia.
"Hussshhh... Jangan berteriak di pagi hari mia, itu tidak baik untuk tenggorokan mu...bukankah seharusnya kamu mandi karena badanmu yang sudah basah kuyup itu." tunjuk alex pada tubuh mia yang kini hampir terlihat secara keseleuruhan oleh mata alex.
Mia mencoba untuk bergerak cepat, hatinya berdebar keras, dan dia merasa kepanikan merayap di dalam dirinya. Dengan langkah panik, dia berusaha untuk melangkah menuju pintu, namun sebelum dia bisa mencapainya, tangan kuat Alex sudah menahannya dengan mantap.
"Jangan mencoba kabur, Mia," bisik Alex dengan suara serak. Tatapannya tajam, penuh dengan tekad untuk tidak membiarkan Mia pergi.
Mia menoleh, matanya memohon pada Alex. "Tolong, biarkan aku pergi. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa berada di sini."
Alex menggelengkan kepala dengan tegas. "Kita perlu bicara, Mia. Ada hal-hal yang harus kita selesaikan."
Mia merasa jantungnya semakin berdegup kencang. Dia tahu dia tidak punya banyak pilihan. Dengan hati-hati, dia duduk kembali di sofa, mencoba untuk menahan diri agar tidak panik.
"Tidak, tidak ada hal yang peru kita selesaikan,"
"Tentu saja ada Mia,apa kamu lupa apa yang pernah terjadi dulu hm?"
"Tidakk... bukankah aku sudah meminta maaf?"
"Tapi aku belum memaafkanmu mia! dan..." alex menggantung kata-katanya membuat mia semakin takut.
"Dan apa" teriak mia yang ketakutan.
"Dan kamu kabur saat itu sebelum hukumanmu selesai mia."
Mereka duduk berhadapan, ruangan dipenuhi dengan keheningan tegang. Mia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menderu di dalam kepalanya. Bagaimana dia bisa berakhir di kamar Alex? Dan apa yang harus mereka selesaikan?
"Jadi apa kamu tidak ingin pergi mandi dan ingin menggodaku dengan pakaian itu" ucap alex santai.
Mia merasa wajahnya memanas mendengar kata-kata Alex. Dengan cepat, dia meraih selimut basah yang tergeletak di lantai dan dengan canggung, dia berusaha menutupi tubuhnya. Matanya menatap tajam pada Alex, mencoba untuk menahan rasa marah dan tidak nyaman yang meluap di dalam dirinya.
"Tidak ada yang ingin menggodamu, Tuan. Aku hanya mencoba memahami apa yang terjadi di sini," ucap Mia dengan suara tegas, meskipun hatinya masih berdegup kencang akibat situasi yang aneh ini.
Alex tersenyum sinis, matanya menyimpan keinginan yang sulit untuk disembunyikan. Tatapannya menusuk Mia seperti belati tajam, membuatnya bergidik ngeri. Dia merasa terjepit di antara perasaan takut dan rasa tidak berdaya. Mia tahu dia harus tetap tenang, mencoba untuk mempertahankan kendali atas situasi ini.
"Berhenti menatapku, tuan." ucapnya dengan suara bergetar, mencoba menolak kehadiran yang mengancam dari pria di depannya. Tetapi senyuman licik Alex tetap bertahan, memenuhi ruangan dengan ketegangan yang melekat di udara.
"Tubuhmu lumayan juga" celetuk alex.
Mia merasa nafasnya tersangkut di tenggorokannya, kehilangan kata-kata untuk merespons komentar c***l Alex. "Jangan seperti ini, tuan," desis Mia dengan suara yang penuh ketegangan.
Alex hanya tertawa dengan nada yang mengganggu. "Kau selalu memikat, Mia. Apakah kau benar-benar berpikir aku akan bisa menahan diri?"
Mia merasa kebingungannya semakin bertambah. Dia merasa terjebak dalam situasi yang semakin sulit dikelola.
"Tuan, aku mohon yang mendekat lagi" Mia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk mempertahankan ketenangan diri dan memohon pada alex agar tidak mendekatinya.
Namun, Alex tidak tergerak oleh kata-kata Mia. Dia mendekat dengan langkah-langkah berat, memenuhi ruangan dengan kehadirannya yang mengancam. "Jangan pura-pura kau tidak merasakannya juga, Mia. Kita berdua tahu ada sesuatu di antara kita."
Mia merasakan dinding kasur yang keras di belakangnya, membuatnya terpojok. Matanya terus memantau setiap gerakan Alex yang semakin mendekat. Hatinya berdebar kencang, mencari jalan keluar dari situasi yang semakin memanas. Namun, ruang geraknya semakin sempit, hingga akhirnya tubuhnya terpentok oleh kasur yang tak kenal belas kasihan.
Mia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit di punggungnya, sementara matanya masih memandang tajam pada Alex, mencoba untuk mempertahankan wibawanya. "Alex, hentikan ini sekarang juga!" desis Mia dengan suara yang penuh peringatan.
Kekuatan Mia mulai melemah di bawah pegangan kasar Alex. Dia merasa putus asa, setiap usahanya untuk membebaskan diri terasa seperti membuang-buang tenaga. Teriakan minta tolong yang berusaha dikeluarkan Mia hanya terdengar sebagai suara gemeretak lemah di telinga Alex. Bagi Alex, itu hanyalah seruan yang mengiringi alunan musik kepuasan yang ia rasakan dalam kendalinya. Dia tersenyum menikmati keadaan ini, merasakan kelemahan Mia sebagai kemenangannya.
"Tolong siapapun tolong keluarkan aku dari sini" Mia berteriak histeris, mencoba sekuat tenaga untuk melawan cengkeraman Alex. Tubuhnya terasa lemah, namun nalurinya memaksa ia berjuang. Dia meronta, mencoba menghindari sentuhan kasar Alex yang mencabik-cabik pakaiannya.
Namun, kekuatan Alex terlalu besar, dan Mia merasa putus asa."Kubilang jangan berteriak dipagi hari mia karena itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri"