Sudeot Tjerita, Pantai Indah Kapuk – Jakarta 2021
[8:00 PM]
HARAPAN ku setelah work hours selesai pada petang nya adalah Irene Tjana melupakan janjinya untuk bicara denganku. Namun sepertinya harapan tinggal harapan karena yang ku dapati sekarang adalah Irene Tjana yang telah selesai lebih dulu membereskan barangnya tengah berdiri tepat di samping meja ku, dengan menenteng Tory Burch Perry Triple Compartment Leather Tote berwarna light umber, walaupun Tory Burch miliknya terlihat begitu polos dan sederhana aku dapat memastikan bahwa harganya lebih dari lima ratus dollar karena gak ada barang dari wanita itu yang murah.
“Pak Arsenio, saya percaya bahwa anda bukan tipe orang yang lamban dalam melaksanakan berbagai hal apalagi untuk merapikan hal remeh yang seperti ini.” Kata Irene sedikit mengagetkan ku yang baru saja hendak memasukkan laptop ku ke dalam briefcase hand bag berwarna hitam di atas meja. Aku menoleh ke samping dan mendapati wajah kesalnya.
Memang benar aku bukan orang yang lamban, aku memang sengaja untuk mengulur waktu, agar wanita itu kesal dan membatalkan janji kami. Jangan menghakimi ini namanya adalah sebuah trik, “Ibu Irene bisa ke basemen lebih dulu kalau keberatan untuk menunggu saya di sini kok, saya juga kan nggak memaksa Ibu buat menunggu.” Jawab ku dengan ringan, memberi dia pilihan untuk memutuskan.
Wanita itu berdecak sebal, “Tidak perlu kok, saya tunggu Bapak Arsenio saja di sini, nanti kita turun bareng ke basemen.” jawabannya diucapkan dengan setengah gak ikhlas.
Aku mengangguk mempersilahkan dia menunggu, hei para wanita kalian gak sabar kan? Ini yang selalu di rasakan oleh laki-laki kalau menunggu wanita. Padahal kalau di pikir-pikir Irene Tjana hanya baru menunggu delapan menit menurut perhitungan kasar ku namun dia sudah kesal dan tidak sabar? Apa kabar para pria yang menunggu mereka dandan dan menghabiskan waktu berpuluh-puluh menit? – ya untungnya aku belum pernah merasakan itu sih.
Aku menarik resleting tas ku menutupnya dengan rapat lalu berdiri, ku raih blazer yang teronggok rapi di punggung kursi dan tak lupa aku mematikan komputer ku sebelum beranjak dari kubikel kerja ku.
“Mari Bu Irene.”
Aku mempersilahkannya berjalan lebih dulu, menyusuri deretan meja kerja para pialang saham yang kebanyak telah ditinggalkan penghuninya. Hampir semua orang yang bekerja di INASDAQ Sekuritas mengimplementasikan datang dan pulang tepat waktu, datang tepat jam delapan pagi dan pulang tepat pukul empat lebih tiga puluh sore kalau lembur banter ya mungkin hingga jam lima sampai jam enam sore seperti yang ku lakukan sekarang tapi kebanyakan dari pegawai INASDAQ Sekuritas gak menyukai lembur sama sekali – lembur ya kalau kepepet aja selebihnya gak.
Kami memasuki lift yang kosong, Irene menekan tombol B1 di panel layar lift. “Mau ngobrol dimana?” tanyaku pada akhirnya, kamus ngobrol antara aku dan Irene itu tidak pernah menjadi sebuah percakapan singkat jadi kalau ngobrol di kantor rasanya gak etis kalau orang lain melihat kan kesannya jadi gak banget untuk citra kami berdua.
“Aku pengen ngobrol di GIOI atau ke Sudoet Tjerita di Pantai Indah Kapuk.” Jawabnya, menyebutkan nama tongkrongan yang gak asing di pendengaran ku.
“Jauh banget sampai ke PIK.” Kata ku heran, sedikit enggak setuju dengan pemilihan tempat wanita itu untuk mengobrol. Aku tinggal di The Capital Residence yang jaraknya hanya delapan menit jalan kaki dari Treasury Tower gak praktis banget kalau diriku harus ngobrol sampai ke PIK lalu balik lagi ke Sudirman buat pulang, kenapa gak ke Coffe Shop di dekat-dekat sini saja? pilihannya juga banyak.
“Setengah jam aja kalau pakai tol.” Bujuknya. “Sen ya ya ya kita ke sana ya?”
Pintu lift terbuka dan mengantarkan kami ke arah Basemen, aku melangkahkan kaki ku keluar lebih dulu dari ruangan sempit berbentuk kotak itu lalu diikuti oleh Irene di belakang. “Ke Sudoet Tjerita aja ya vibe nya soalnya kayak Santorini banget, istilahnya tuh Santorini versi mini, gak perlu lah kita sampai ke Yunani buat lihat Santorini.”
“Kamu kan bisa ke Santorini langsung gak perlu yang nyari yang vibe-vibe sama gitu.” Cibir ku, sebenarnya setengah menyindirnya sih, hal ini kulakukan bukan tanpa sebab ya karena Irene Tjana itu kalau kepengen sesuatu kadang gak pakai pikir dua kali –gak pakai otak– dulu pernah karena pengen banget makan sashimi dan dia pernah langsung terbang ke Jepang menggeret ku ikut buat ke Jepang cuman buat makan sashimi.
“Hemat kalik Sen, masa boros mulu.” Jawabnya dengan berkelit, boros kan memang gak bisa dipisahkan dari wanita itu.
Aku mendengus, setahu ku gak ada kamus hemat di dalam hidup Irene Tjana, “Saya ambil mobil dulu di The Capital Residence kalau gitu.”
“Gak pakai mobil ku?” tanyanya menunjuk Aston Martin berwarna hitam yang gak jauh dari kami.
“Gak, nanti saya pulang naik apa kalau pakai mobil mu.” Jawabku gak santai, Irene kan enak dia tempat tinggalnya memang di dekat PIK lah diriku yakali masa harus naik ojol buat pulang mahal di argonya dong!
“Nanti ku antar deh pulangnya.”
“Ogah lah.” Tolak ku mentah-mentah, di setirin Irene Tjana itu sama aja uji nyali gak mau lagi pokoknya. “Kita ketemuan di Sudoet Tjerita aja dah sana.”
“Lah masak gak bareng sih!” kata Irene tidak suka, tapi aku buru-buru mengabaikan wanita itu dan berjalan keluar dari basemen tapi baru beberapa langkah terdengar klakson berbunyi lalu mobil Irene Tjana melaju pelan di sampingku. “Ayo aku anter ke The Capital Residence keburu kemalaman.” Katanya.
Karena yang dikatakan oleh Irene Tjana sangat masuk akal dan lebih logis aku akhirnya memutuskan untuk menurunkan ego ku dan mengikuti penawaran wanita itu, perjalanan dari Treasury Tower menuju Capital Residence hanya membutuhkan waktu empat menit dan setelah sampai di Capital Residence aku harus naik lebih dulu ke apartemen ku untuk meletakkan tas tangan ku dan mengambil kunci mobil ku kegiatan itu ku lakukan membutuhkan waktu gak lebih dari lima menit.
Saat aku sampai kembali di lantai dasar, Irene masih berada di posisi terakhirnya; di balik kemudi dengan mesin mobil yang masih menyala. Tidak ingin membuat sang tuan putri menunggu terlalu lama aku buru-buru memasuki Sonata N Line hitam ku begitu Irene melihat mobil ku menyala dia melajukan Aston Martin miliknya memimpin jalan untuk ke Sudoet Tjerita yang letaknya kurang lebih setengah jam perjalanan via tol seperti yang telah di janjikan Irene.
Mobil kami memelan saat memasuki wilayah deretan pertokoaan di Pantai Indah Kapuk yang memang terkenal banget dengan berbagai tempat ngopinya dan tempat makan recommeded dan insta worthy selera khas anak-anak milenial dan pemenuhan kebutuhan urban people banget gimana ya menyebutnya pokoknya ini tuh ciri khas kebiasaan hidup hedonistik yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan dari bangun tidur hingga tidur kembali.
Melihat itu semua pikiranku jadi melayang memikirkan kapan terakhir kali aku mengunjungi tempat-tempat seperti ini dan ya kurasa itu udah sangat lama sekali. Mobil Irene berbelok lalu terparkir di kawasan parkir depan pertokoan dan aku melakukan hal yang sama.
Saat kami sampai di Sudoet Tjerita, hal pertama yang terlintas di benak ku adalah selera Irene telah berubah dan itu merupakan kejadian yang langka. Irene yang sukanya nongkrong di Michellin star atau yang paling banter di longue high-end kini berubah menjadi suka nongkrong ala anak muda – tempat tongkrongan sejuta umat kalau bahasa gaulnya sih.
Tok tok tok
Pintu kaca ku di ketuk dan aku mendapati wajah Irene Tjana yang menempel di kaca pintu membuat diriku harus menghela nafas karena kelakukan nya yang kadang kayak orang i***t. Karena tidak ingin lipstik merah menyala wanita itu menempel di kaca Sonata N Line kesayangan ku, aku akhirnya keluar dari dalam mobil sambil melayangkan tatapan datar.
“Lama banget sih Ndoro Raja.” Cibirnya.
“Gak sabaran banget sih kamu.” kata ku, membuat dirinya meringis merasa t***l.
“He he he ayokk keburu penuh, kita gak reservasi dulu soalnya ayo ayo cepat.” Lanjutnya sedikit mendorong ku untuk memasuki sebuah ruko dengan lima bangunan bertingkat.
Irene mengarahkan ku untuk menaiki tangga di sudut ruangan yang mana katanya akan membawa kami ke Sudoet Tjerita berada. Begitu kami telah berada di ujung tangga, bangunan vintage ala santorini namun dengan d******i hampir sembilan puluh persen berwarna putih menyambut kami, sekarang aku mengerti kenapa Irene Tjana bersikeras ke Sudoet Tjerita.
“Sen mau makan apa kamu?” tanya Irene Tjana berdiri di depan counter order, wanita itu menyempatkan menoleh keprahku yang tengah mengobservasi ke sekeliling.
Aku maju sedikit melongok untuk melihat menu ditangannya hanya butuh beberapa detik bagiku untuk memutuskan mau makan apa, “Truffle Bacon Carbonara.”
“Minum?” tanyanya lagi.
“Iced Caramel latte.”
“Mas Truffle Bacon Carbonara nya satu, Aglio E Olio nya satu, Mix Platter nya satu, Iced Caramel Latte satu terus Bintang Radler-“
“Mau ng-beer kamu Rene? Yang bawa mobil kamu siapa nanti.” Potong ku cepat saat mendengar pesanan wanita itu aku kadang gak habis pikir dengan kelakuannya itu.
“Gampang lah nanti gak usah mumet.” Jawabnya ringan banget tanpa beban.
“Irene–”
“Berisik kamu Sen kayak kakek-kakek, eh tambah Madeira Afternoon sama air mineral satu ya Mas.” Kata Irene Tjana dengan satu tarikan nafas.
“Baik kak...enam Ratus sepuluh ribu rupiah totalnya sudah termasuk pajak ya kak, mau pakai debit, kredit atau cash ya Kak?” tanya sang kasir.
“Eummm pakai kartu kredit aja deh Mas.” Jawab Irene Tjana lalu menyenggol ku, aku memandangnya dengan ragu.
Tunggu sebentar.
Dia sedang gak menguras isi dompet ku kan setelah memesan begitu banyak jenis makanan dan minuman? Tolong katakan tidak untuk kali ini, karena aku sudah kapok dengan tingkahnya, beberapa detik berlalu dan Irene Tjana hanya berdiri mematung di sampingku sambil tersenyum tipis kepada mas-mas kasir di depan kami yang menunggu.
Aku menyerah, ku hela nafas ku dengan pasrah sebelum mengeluarkan kartu kredit hitam dari dalam dompet hitam ku, “Ini Mas kartunya.” Kata ku dengan setengah tidak rela.
Irene Tjana tersenyum puas wanita itu menepuk-nepuk bahu ku dengan bangga, “Gini dong Sen jadi cowok itu harus gentle, kalau gini kan aku jadi bangga dengan kamu.”
Aku menatapnya dengan helaan nafas kasar yang tidak lagi ditutup-tutupi, gentle your head. kalau ngomong suka nya memang pada gak pakai otak. Otaknya memang fiks hanya buat pajangan aja gak lebih gak kurang.
“Ini Mas kartunya udah saya bill, mohon ditunggu ya mas pesanannya.”