Cara Melepas Penat

1773 Kata
Lola, Gunawarman, Senopati, Jakarta – 2021 Setelah percakapan terakhir ku bersama dengan Irene Tjana di Sudeot Tjerita, aku mengemudikan mobil ku tanpa tentu arah menyusuri jalanan Senopati yang gak terlalu ramai padahal jam telah menunjukkan pukul sebelas malam lebih lima belas menit, hingga beberapa saat kemudian Hyundai Sontana N Line berwarna hitam milik ku masuk menyusuri Jalan lenggang Gunawarman. Saat mata ku menangkap plang bertuliskan Japanese Teppanyaki Restaurant – Fujin – aku tahu bahwa hari ini mungkin aku akan pulang sedikit terlambat dan mungkin bisa juga akan sangat larut malam dan mungkin juga keesokan harinya aku terlambat untuk pergi bekerja ke INASDAQ Sekuritas namun walaupun sudah tahu konsekuensi yang akan menanti diriku itu kedepannya, aku tetap kekeuh dan dengan perlahan membelokkan setir mobilku dan parkir di plataran Fujin Japanese Teppanyaki, setelah memastikan bahwa mesin mobil ku dalam posisi off dan aku telah mengaktifkan lock system pada mobil ku untuk menghindari thief tragedy, aku akhirnya berjalan menuju masuk ke dalam. Setelah memberitahukan tujuan ku kepada staff bagian front officer di depan pintu aku dipersilahkan melanjutkan perjalanan menuju ke baseman gedung yang letak tangganya berada di paling ujung sedikit tersembunyi, langkah kakiku yang ringan menyusuri lorong temaram yang akan membawa ku untuk menuju Lola – sebuah Bar and Longue yang letaknya tepat berada di lantai Basemen Fujin Tappanyaki – Begitu kaki ku menuruni satu persatu anak tangga lampu temaram berpendar kekuningan dengan interior amerika latin –atau lebih tepatnya Mexico yang sangat kental– yang khas menyambut kedatangan ku, di pintu utama ada patung Lady Of Sorrow Dolores terpahat sempurna di sana ciri khas Lola yang begitu eye catching lalu semakin turun ke bawah live music show terdengar keras juga suara sayup-sayup orang-orang dibawah terdengar semakin ramai. aku bertemu dan berpapasan dengan banyak pengunjung Lola dengan style hipster khas mereka tersebar di semua penjuru ruangan. Mencoba meliukkan tubuh besar ku dari keriuhan aku mengarahkan kaki ku menuju ke kursi stoll bar duduk di sana bergabung dengan orang lainnya yang hari ini ingin minum, “Good night Sir, welcome to Lola Espíritu y Libación.” Sambut bartender di depan ku dengan ramah, pria ber-vest coklat muda itu bersiap mengambil order dari ku. “Cognac, please.” Kataku menyebut salah satu Liquor jenis Brandy yang belakangan ini sedang ku gandrungi karena rasanya yang kaya dan aromanya yang khas. “Aye aye aye sir, wait a minute.” Kata Bartender itu lalu mulai meracik liquor yang ku minta. Selagi menunggu pesanan ku selesai dibuat mata ku mengedar ke seluruh penjuru ruangan mengamati bagaimana orang-orang menghabiskan malam mereka di Lola – apa yang dilakukan b***k perusahaan ketika mereka lelah dan terlalu stres dengan pekerjaan mereka – solusi paling umum dan mudah adalah minum-minum seperti yang ku lakukan sekarang ini aku tidak ada bedanya dengan mereka semua. “There is definitely nothing ordinary about Lola Espíritu y Libación right?” sebuah suara yang berasal dari samping ku yang terdengar begitu jelas, membuat diriku mau tidak mau menoleh dan menemukan seorang pria yang mungkin akhir tiga puluh tahunan itu melemparkan senyum tipis ke arah ku. Merasa bahwa memang diriku lah yang diajak bicara oleh pria asing itu aku akhirnya hanya mengangguk sopan, walaupun malam ini aslinya aku hanya ingin minum dengan tenang namun mengabaikan seseorang yang tengah berbicara dengan ku apalagi kalau umurnya kelihatan lebih tua dari ku bukanlah hal yang terpuji maka yang aku lakukan adalah membalasnya dengan singkat. “Yeah, The elegant, classy and edgy is worth your visit at least once in your life.” Jawab ku dengan umum, Lola memang terkenal dengan citra seperti itu dan jawaban yang ku berikan juga agaknya sedikit membenarkan tindakan ku mengunjungi Lola hari ini. “Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?” tanya orang asing itu sambil mensesap liquor dari dalam gelasnya, pertanyaannya yang aneh dan membingungkan membuat diriku berpikir sejenak bagaimana harus menjawabnya padahal ini bukan ujian. Aku hendak membuka mulut ku untuk menjawab pertanyaan sang pria asing saat, Bartender di depan ku menyela untuk meletakan gelas berisi pesan ku di depan ku. “Your order sir.” “Thank you.” Balasku dengan singkat, sebelum melanjutkan percakapan ku dengan orang asing di sampingku itu aku mensesap Cognac di dalam gelas ku dengan perlahan, “Kenapa apanya the bar or the person?” tanya ku memastikan konteks apa yang sedang dibicarakan oleh pria itu, gak lucu kalau aku sampai menjawab dengan gak masuk akal ataupun tidak sesuai dengan pertanyaan yang di berikan padaku kan kalau itu ku lakukan kesannya aku pasti aneh dan bodoh banget terlalu njomplang lah dengan pakaian ku yang super formal ini – yang terkadang memiliki pencitraan yang pakai suit itu pasti berkelas dan cerdas – “Both, karena bagi saya Lola tidak se edgy dan classy itu, sedikit kecewa.” sambungnya dengan pelan pria itu meletakkan gelasnya di meja bartender lalu bersedekap d**a, dia sepertinya gak peduli kalau bartender di dekat kami mendengar ucapannya yang jelas merendahkan Lola. Karena jawaban yang diberikan oleh pria itu aku jadi dapat menyimpulkan dua hal tentang eksistensi pria di sampingku ini – satu pria itu adalah kalangan old money yang sedang bosan dari five star longue lalu memutuskan untuk mampir ke Lola dan ternyata Lola tidak sesuai dengan ekspektasinya, atau dua pria itu adalah new money yang sedang dalam fase-fase angkuhnya judge everything he seen– “Why?” tanya ku pada akhirnya, pria di samping ku ini sepertinya menganggap bahwa jawabanku tidak lah selalu sesuai dengan pemikirannya jadi daripada aku menghabiskan tenaga untuk mencari jawaban untuknya aku lebih baik langsung meminta jawabannya kan? Pada akhirnya akan sama saja. “Look.” Kata pria itu membalik badannya membuat diriku juga ikut berbalik ke belakang mengamati semua orang yang berada di Lola. Tempat duduk kami yang berada di dekat meja bartender merupakan tempat strategis yang dapat membuat kami mengamati seluruh ruangan. “Mereka yang menyebut Lola Edgy dan Classy, tapi mereka juga yang mengacaukannya. The Fake Louis Vuitton bag ...” pria itu menunjuk seorang wanita yang duduk tidak jauh dari kamu, mata ku menyipit dan menyadari barang yang pria asing tunjuk itu adalah sebuah tas yang terletak di atas meja – sebuah tas keluaran Luis Vuitton, tas Permata Kusama Pumpkin Minaudiere yang dibandrol dengan harga hampir satu miliar – “Kamu yakin pria di ujung sana itu juga menggunakan Versace?” lanjutnya lagi setengah mencibir tentang bagaimana orang-orang di Lola menggunakan barang-barang palsu untuk memenuhi kebutuhan mereka. Aku yang mendengar perkataan pria itu hanya terdiam dengan pikiran berkelana, menebak-nebak mau di bawa kemana percakapan kami ini. Apakah pria itu sedang mencibir gaya hidup kebanyakan orang yang terlalu hedonis hingga melupakan daya paritas beli mereka? Atau pria itu sedang mencibir tentang bagaimana orang-orang berusaha sangat keras memenuhi gaya hidup mereka? Percayalah keduanya merupakan hal yang berbeda. “Kalau anda sendiri ada di golongan yang mana?” tanya pria itu santai, seolah apa yang baru saja ia lontarkan seringan bertanya tentang ‘bagaimana cuaca hari ini’. Aku menatap gelas berisi Cognac ku, memikirkan aku berada di kelas yang mana. Aku bukan hedonis ataupun termasuk urban people garis keras aku hanyalah aku yang ingin kehidupan stabil dan uang yang cukup, gaya hidup tentang barang-barang tersier hanyalah bonus untuk ku. “Stable money.” “I see, semua orang memang suka uang. Jawaban yang bagus.” Katanya mengangguk-anggukan kepalanya seolah jawaban yang ku berikan adalah jawaban standar yang diberikan hampir semua orang. “....” “Anda butuh hal-hal seperti mereka?” tanyanya merujuk tentang barang-barang tersier untuk melengkapi kebutuhan hidup. “Saya tidak pernah menolak.” Jawabku dengan aman, siapa juga yang akan menolak barang mewah kan? Aku bukan naif dan sok rendah hati. “Anda sama seperti saya kalau begitu mencintai uang namun terlalu malas untuk menghabiskannya untuk barang-barang tersier jika harus membeli dengan uang sendiri” Katanya dengan satu tarikan membuat alisku berkerut dalam. “Pardon me sir?” “Stable Income, lazy life. but it's okay biasanya tipe-tipe orang seperti itu mengejar hal yang kadang tidak pernah terbayangkan oleh orang-orang biasa.” Katanya ambigu namun beberapa kata dalam kalimatnya sepertinya cukup mendeskripsikan aku. Butuh penghasilan uang yang stabil, tidak terlalu peduli dengan gaya hidup dan hiduplah seperti air mengalir. Tapi statement pria itu tentang Lazy life agaknya tidak sesuai dengan aku, aku bekerja keras kok! “...” Pria asing itu meraih sesuatu di saku armani nya, lalu mengeluarkan benda berbentuk persegi panjang berbahan kulit yang kelihatannya asli itu. Dia mengulurkan kartu namanya padaku dan aku pun buru-buru melakukan hal yang sama mengeluarkan dompet milik ku dan meraih satu lembar kartu namaku. Kami bertukar kartu nama, pria itu mengamati kartu nama ku yang sangat berbanding terbalik dari miliknya – milik ku yang di cetak dengan sederhana dan minimalis berbanding terbalik dengan miliknya yang berwarna hitam eklusif dengan tinta berwarna emas Julian Dewanto - Psychologist (Medals Psychology Center) Ada banyak pertanyaan yang ada di otak ku setelah membaca kartu namanya, pria itu terlalu aneh dan benar-benar tidak sesuai dengan pekerjaannya. Aku mengenal beberapa psikologis dan psikiatri dan mereka tidak se necis dan di build se well-classy ini aku malah menyangka pekerjaannya menjadi psikologis dilakukan hanya untuk membunuh waktu senggang who knows? kadang orang kaya dengan pemikiran itu memang agak gila dan absurd. “Anda seorang broker?” tanya pria itu lagi. “Iya benar.” jawab ku sambil mengangguk tegas, berpikir bahwa bisa aja orang di samping ku ini jadi nasabah prospektif aku gak akan melewatkan kesempatan untuk menambah nasabah ku. ada sedikit jeda bagi pria di samping ku untuk kembali berbicara, “Mau ku beritahu sebuah hal yang sangat menarik?” tanyanya dengan misterius, membuat diriku bertambah yakin kalau pria itu benar-benar aneh, tapi juga memupus harapan ku untuk menjadikannya nasabah prospektif ku. “Besok, don’t buy Evalean Stock saat penutupan.” Katanya dengan senyum tipis, pria itu lalu turun dari kursi stoll bar dan berbalik menjauh dariku meninggalkan kebingungan yang tercetak jelas di wajah ku. Apa itu tadi? apa yang baru saja terjadi? Pria itu sedang bercanda denganku atau bagaimana? apa katanya tadi Evalean Tbk Stock? perusahaan multinasional yang itu? perusahaan raksasa yang baru saja melakukan IPO gak lama ini? GILA! Saham Evalean Tbk minggu ini seingat ku masih berada dalam tier second linier walaupun harganya fluktuatif dan terkadang likuid tapi tadi sore saat penutupan saham Evalean Tbk merupakan salah satu yang tertinggi harganya dan bahkan kalau di lihat dari Trendline dari kurva permintaan dan kurva penawaran di market semuanya normal dan kelihatan akan terus bergerak naik Evalean Tbk masih menjadi favorit untuk transaksi di pasar modal dan pria asing itu baru saja mengatakan pada ku untuk tidak menyarankan Evalean Tbk sebagai salah satu portfolio yang paling memiliki capital gain? dia gila! benar-benar luar biasa gila!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN