Chapter 6

1072 Kata
Tavie baru saja akan berlari menemui Zendra yang sudah bersandar di mobilnya, ketika Aidan menghampirinya dengan motor gede yang ia kendarai. "Hai, Tavie." Tavie tersenyum canggung pada mantan ketua basket di sekolahnya ini. "Hai, Aidan." "Kamu mau pulang?" Tavie mengangguk. Matanya diam-diam melirik pria berkacamata hitam dengan kemeja putih yang dilipat sampai siku, pria itu memerhatikannya, Tavie mengetahui itu. “Iya," ujarnya pelan. "Ayo, aku antar. Tidak baik cewek cantik seperti kamu pulang sendirian." Iwh. Tavie tidak suka dipuji seperti itu. Aidan sangat berbeda dari Zendra, maka sudah pasti, pria itu tidak diinginkan Tavie. "Maaf, aku sudah ada yang menjemput." Tavie melirik Zendra untuk kesekian kalinya.Aidan mengikuti pandangan Tavie. "Itu bodyguard dari ayahmu atu sopirmu?" "Itu... Kakak aku." Muka Aidan langsung pucat pasi. "Ma-Maaf, Tavie--" Tavie tersenyum kecil. "Maaf, Aidan, aku harus pergi." Tavie berlari kecil menemui kakaknya. Zendra tidak menunggu Tavie mengatakan sepatah katapun, ia melengos dan masuk ke mobilnya. "Siapa dia?" tanya Zendra ketika Tavie di sampingnya. "Teman seangkatan aku." "Dekat?" "Hm?" Tavie tidak mengerti. "Kamu dekat dengannya?" Please say no. "Tidak." Zendra tersenyum kecil. "Aku hanya kenal dia, tidak dekat," lanjut Tavie. "Good." "Huh?" "Bagus. Kamu masih bocah, belum waktunya berpacaran." Zendra mengemudikan mobilnya dengan santai. Degup jantungnya yang awalnya menggila karena melihat Tavie dengan cowok lain akhirnya lambat laun menjadi normal. "Kakak bilang aku sudah besar." Zendra bergumam. "Tapi untuk berpacaran, kamu ini masih bocah." "Berpacaran tidak boleh, ya. Berarti kalau menikah boleh?" goda Tavie pada kakaknya dan hampir saja membuat Zendra tersedak ludahnya sendiri. "Langkahi dulu mayatku."Tavie tertawa melihat wajah masam kakaknya. Zendra selalu berperan menjadi kakak yang posesif. Iya, hanya sebagai Kakak.                                                                                             *** "Hai, Ma." Tavie mengecup pipi ibunya ketika ia dan Zendra sampai di rumah.Violet tersenyum. "Hai, Sayang." Tavie memerhatikan ibunya yang sudah cantik dengan gaun malam berwarna hitam yang elegan. "Mama mau pergi ke mana?" "Oh, Mama lupa memberitahumu dan Zendra, Opa dan Oma kamu akan mengadakan ulang tahun pernikahan mereka malam ini." Astaga, Tavie hampir saja lupa. Padahal Nenek Alesya sudah memberitahunya dari jauh hari. Bahkan Nenek memberikannya gaun cantik berwarna hijau padanya. "Ya Tuhan, aku lupa. Oma sudah memberitahuku, Ma.” Violet menggelengkan kepalanya. "Cepat ganti baju. Kita akan langsung berangkat begitu Ayahmu pulang." Tavie mengangguk dan bergegas ke kamarnya. "Zendra, kamu juga datang. Oh iya, Anaya tadi menelepon Mama, ia juga akan hadir di sana." Zendra yang sedari tadi diam memerhatikan adiknya akhirnya mengangguk mengerti. "Aku siap-siap dulu, Mama." Sial. Kenapa Anaya harus hadir? Sebenarnya, masalah mereka masih mengawang-awang, dan Zendra belum memiliki niatan untuk meluruskannya.                                                                                               *** "Astaga, Alesya, lihat cucumu, sangat cantik. Ia mewarisi kecantikanmu." Alinissia, saudari dari Alesya, memeluk Tavie ketika ia menemui Neneknya. Tavie tersenyum lebar. Ia memang dekat dengan keluarga Papanya ini. "Nenek juga cantik sekali," ucap Tavie. "Kamu memanggilku Nenek, membuat aku merasa semakin tua saja," goda Alinissia. Matanya masih terpana pada kecantikan gadis belia ini. Ia yakin semua pria di sini bisa melihat kecantikan dan keanggunan yang terpancar darinya.Alesya menggelengkan kepalanya. "Dia memang cantik. Aku sampai lelah mengatakan betapa cantiknya dia." Alesya mencubit pelan pipi cucu kesayangannya. Tavie tersenyum malu-malu. Ia tersipu. "Oma." Zendra menghampiri mereka. Pria itu Alesya dan memeluknya. "Selamat ulang tahun pernikahan. Aku doakan Oma dan Opa selalu bahagia." Alesya tertawa kecil. "Kami selalu bahagia selama ini, Zen. Terima kasih doanya." Setelah berbincang dengan kedua Neneknya, Tavie dan Zendra memutuskan untuk pamit dan menikmati pesta di ballroom hotel milik Kentzo, anak bungsu Alesya.Zendra berjalan di belakang Tavie. Ia bisa merasakan semua tatapan pria tertuju pada adiknya itu, padahal adiknya masih belia, namun bisa menyita perhatian kaum adam di sini."Tunggu." Zendra menahan pinggang Tavie. Ia melihat hiasan rambut Tavie sedikit longgar. Ia mendekat pada Tavie. Aroma peach langsung menguar dari tubuh Tavie, sangat wangi. Andai ia kehilangan kewarasannya, ia sudah merengkuh tubh Tavie, menghirup aromanya dalam dan menciumnya habis-habisan. Tidak peduli bahwa Tavie adalah adiknya sendiri--walaupun bukan adik kandungnya. Sayangnya, Zendra masih waras."Hiasanmu longgar." Setelah merapikannya, Zendra mengelus pelan rambut Tavie. "Terimakasih." Tavie tersenyum.Ia melingarkan tangannya di lengan sang kakak. Tentu hal itu jadi perhatian semua orang. Sebagian besar kaum adam yang sirik pada Zendra karena bisa sedekat itu dengan Tavie. "Itu Anaya." Tavie berbisik pada Zendra dengan tatapan pada Anaya yang juga melihat mereka. "Biarkan saja." Zendra membawa Tavie menemui Adele dan Addy, sepupu mereka dari Sean Wijaya. Sementara, ia sendiri berkumpul dengan para pria dan meninggalkan Tavie di sana. Tavie-nya, maksudnya, adiknya, akan baik-baik saja, bukan?                                                                                                *** "Magentha Taviella." Tavie yang awalnya sedang berbicara dengan sepupunya menoleh. Ia melihat Anaya berada di depannya dengan tangan terlipat di depan d**a. "Aku ingin bicara." Anaya melangkahkan kaki ke meja bar yang disediakan di sana. "Jadi, ini bocah manja yang selalu mengganggu aku dengan Zendra?" Tavie mengeryit. "Maksudmu?" Anaya mengejeknya dengan senyuman miring. "Zendra meninggalkanku karena kamu, perempuan manja yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri." Wow. Tavie kira mereka masih bersama. "Aku tidak pernah melakukan itu. Zendra kakakku, tentu saja dia lebih memprioritaskan keluarganya dibanding siapapun." Anaya tertawa."Oh begitu? Baiklah, mari kita lihat siapa yang akan ia prioritaskan ketika aku mengumumkan bahwa kami akan bertunangan." Anaya melangkahkan dirinya ke panggung. Tavie memerhatikan itu semua. Astaga, Ratu Drama. Mulai saat ini Tavie akan mengibarkan bendera perang pada wanita itu." “Selamat malam semuanya." Perhatian kini tertuju pada Anaya. "Maaf mengganggu pestanya. Tapi, aku yakin Alesya dan Kent Wijaya tidak akan keberatan mendengar sedikit.pengumuman dariku, benar kan?"Anaya tidak harus melihat wajah heran dari Kent dan istrinya, ia sudah tau itu. "Malam ini, aku ingin memberitakan pada semuanya, kabar gembira dari aku Anaya Harris dan Zendra Wijaya." Semua orang menunggu apa yang akan dikatakannya."We are getting engaged. Aku dan Zendra akan segera bertunangan." Riuh tepuk tangan langsung mengisi ballroom hotel itu.Tavie bisa melihat sepupu laki-lakinya menggoda kakaknya. Bahkan, orangtua, dan Oma-Opanya menatap Zendra dan Anaya tidak percaya. Demi Tuhan, Tavie tidak peduli, karena kini ia tiba-tiba merasa pusing dan tidak kuat berdiri. Tangannya sigap mencari pegangan untuknya. Tavie sedikit terkejut ketika ia meraba hidungnya dan keluar darah dari sana. "Kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang padanya. Tavie tidak sempat menjawab. Kegelapan sudah menjemputnya. Di tengah suara riuh itu, seseorang berteriak minta tolong ketika Magentha, cucu kesayangan Alesya pingsan di sana.                                                                                             ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN