Tavie tidak tau berapa gelas yang sudah ia minum, namun ia tau pasti sekarang ia sudah akan kehilangan kesadarannya. "Jangan kasih tau Zendra, okay?" ucapnya pada Ares setengah mabuk.
Ares mengangguk. Sebenarnya ia tidak akan bertanggungjawab dengan Tavie yang mabuk karena itu sangat merepotkan. Ia berbohong pada Tavie dan memilih untuk memberitahu Zendra. Akhirnya, ia meninggalkan Tavie sebentar dan menghampiri Zendra. "Tavie mabuk. Sorry."
Hanya sebaris kalimat sederhana itu, tapi Zendra sudah kalang kabut luar biasa. Ia menyentak Anaya yang menempel padanya seperti lem. "Dimana dia?" tanyanya panik.
Ares menunjuk tempat seorang perempuan muda yang menelungkupkan wajahnya di meja bar. u*****n berawal F dan berakhiran K keluar dari mulutnya.
"Tavie--"
"Zendra, kamu mau kemana?" tanya Anaya. Ia sudah menahan lengan berotot Zendra, tidak rela pria tampan itu pergi dari pestanya yang ia persiapkan sedemikian rupa hingga memesan satu malam di bar ini hanya untuk pestanya.
"Tavie mabuk. Aku harus pulang."
"What? Tapi kamu janji tidak akan meninggalkan pesta sebelum kita--"
"Anaya, adikku mabuk dan ini pertama kalinya dia seperti itu. Aku tidak mau dianggap sebagai kakak yang tidak bertanggungjawab."
Anaya mencebik kesal. "Tapi pesta ini belum selesai. Kita juga belum selesai." Semua orang menatap mereka.
Zendra menghela napas. Ia meraup wajahnya kesal. "Aku harus pergi sekarang."
"Tapi, pesta ini penting."
Zendra melepaskan tangan Anaya, sedikit menyentaknya. "Magentha lebih penting."
***
Zendra membopong Tavie yang sudah setengah sadar. "Kamu wangi.." ucap Tavie seraya mengendus leher Zendra dan itu mampu membuat Zendra meremang.
"Aku sudah bilang pada Ares untuk tidak memberitahu kamu." Tavie menyenderkan kepalanya di d**a bidang Zendra.
"Aku tau kamu pasti marah."
Sangat, Magentha. Aku sangat marah.
"Kak Zendra, harusnya aku memberitahu kamu; jangan marah-marah terus, nanti kamu cepat tua seperti Ayah."
Zendra mendudukan adiknya di kursi depan. "Jangan muntah." Ia berucap dingin. Tavie hanya mengangguk-angguk tidak jelas.
Zendra menghela napas. Harusnya ia tidak meninggalkan Tavie sendiri. Harusnya ia menjaga perempuan lugu itu. Harusnya ia tidak memercayai Ares karena temannya itu berengsek. Harusnya ia menjaga Tavie-nya. Maksudnya, adiknya.
***
Violet memekik kaget dan Kenneth memelototkan matanya ketika melihat anak pertamanya dan Tavie masuk ke rumah mereka.
“Astaga, Tavie...” Violet menghampiri Tavie yang sudah tidak sadarkan diri. Zendra tersenyum kecut dan merasa bersalah pada kedua orangtuanya karena membiarkan adiknya mabuk.
“Maaf, Mama.”
Violet mendesah lelah. “Zendra, bawa saja adikmu ke kamarnya.” Violet mengusap wajahnya melihat kelakuan Tavie yang semakin bengal.
“Kenneth, lihat kelakuan anakmu.” Violet duduk kembali di samping suaminya. Kenneth tertawa melihat Violet yang kelimpungan seperti ini.
“Sayang, tidak apa, kelakuannya tidak kelewat batas.”
Violet mengeryit kesal. “Apa menurutmu mabuk-mabukkan adalah hal yang tidak kelewat batas, Kenneth?!”
Kenneth tertawa kecil. “Tapi dia ditemani Zendra, Violet. Tenang saja.”
"Tapi dia masih SMA, Kenneth. Ia masih kecil."
Kenneth tertawa lagi. "Kamu terlalu banyak khawatir."
***
Zendra menidurkan adiknya di ranjang wanita itu. Ia meletakkan tubuh Tavie dengan lembut. Baru saja ia akan pergi, tangan Tavie sudah menahan kemejanya.
Zendra mengeryit bingung.
"Kamu tampan."
Tavie mengecup pipi Zendra. "...dan wangi. Aku suka pria wangi."
"Tapi, kamu sering marah-marah padaku, dan aku tidak suka itu."
Zendea tidak sadar saja, selama Tavie mengatakan semua hal itu. Ia menahan napasnya.
***
Besok paginya, Tavie bangun dengan sakit kepala yang teramat sangat. Ia mengaduh dan bersiap untuk bergelung kembali di dalam selimut sebelum suara seseorang mengintrupsinya.
"Bangun. Kamu harus sekolah." Sial. Tavie tahu siapa itu.
"Lima menit lagi."
"No, lima menit bagimu itu setengah jam lamanya, Tavie. Cepat bangun."
"Kak, aku pusing." Tavie menyerah dan menyibak selimutnya. Ia menatap Zendra dengan mata sayu.
"Suruh siapa kamu mabuk semalam?"
Zendra mendelik dan meninggalkannya. Tunggu, kenapa pria itu yang sekarang marah padanya? Apakah ia melakukan sesuatu yang aneh? Setaunya--walau dengan keadaan setengah sadar--ia tidak macam-macam tadi malam. Ia hanya minum dengan Ares, tidak melakukan apapun lagi. Kenapa pria itu marah padanya?
Kepalanya semakin pusing memikirkan itu. Tidak mau diamuk massa--a.k.a orangtuanya dan Zendra--karena ia malas sekolah, Tavie memilih bangkit dari kasurnya dan menyeret kakinya ke dalam kamar mandi.
"Tapi bukannya perusahan Paman Sean sedang baik-baik saja?"
"Iya, hanya saja, Zendra, dia tidak memiliki orang kepercayaan untuk memimpin anak perusahaan di Sydney. Addy dan Adele tidak akan berkecimpung di dunia bisnis. Sedangkan, Regan masih muda. Kakakku itu ingin kamu yang menggantikannya."
Tavie mendengar obrolan ayahnya dengan sang kakak ketika ia menuruni tangga, bersiap untuk sarapan.
"Ayah, tapi aku bukan bagian dari keluarga kalian."
"Kami selalu menganggap kamu keluarga, Nak." Violet tersenyum dan memberikan sarapan Zendra. Sementara, Tavie sudah duduk manis di samping ayahnya, tepat di hadapan Zendra yang sepertinya masih marah padanya.
"Morning, Ayah." Tavie mengecup pipi Kenneth.
"Morning, Princess." Kenneth tersenyum pada anaknya ang sudah cantik dan rapi dengan seragam sekolahnya.
"Jadi, aku akan mengurus perusahaan di Australia?" tanya Zendra kembali ke obrolan sebelumnya.
"Jika kamu mau, dan memang kami mengharapkan kamu mau." Kenneth berbicara seraya tersenyum pada istrinya yang menyuguhkan kopi untuknya. "Thanks, Vio."
"Kakak akan pindah ke Australia?" tanya Tavie penasaran. Zendra hanya mengangguk.
"Ayah percaya padaku?"
Kenneth tertawa kecil. "Kamu anakku, Zendra. Tentu Ayah percaya." Zendra Elpratama Wijaya sebenarnya bukan anak kandung Violet dan Kenneth. Zendra adalah anak adopsi Kenneth dengan istri pertamanya, Olivia Mitchell yang merupakan adik dari Violet. Ia diadopsi sejak umurnya tujuh tahun. Setelah Olivia, Ibunya, meninggal dunia, dan sang ayah menikahi Violet, Zendra resmi diasuh Kenneth dan Violet. Zendra sendiri belum pernah bertemu orangtua kandungnya, toh tidak penting juga, karena ia sudah menyanyangi Kenneth-Violet lebih dari dirinya sendiri.
"Jadi, benar Kakak akan pergi? Lalu, siapa yang akan menjagaku nanti?" Tavie mencebik dengan kepanikan di wajahnya.
Violet menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Tavie. "Maksudmu, siapa yang akan menolongmu dan menjemputmu jika kamu mabuk?" sindir ibunya. Ayolah, harusnya mereka paham bahwa itu adalah kali pertamanya mabuk, dan ia tidak sengaja—secara harfiah, ia tidak sengaja walaupun hal itu disebabkan ia yang tidak mau kalah dengan Ares. Tapi, c’mon!
"Mama, aku tidak mabuk parah, kan? Maksudku, mabukku masih normal." Tavie membela diri walau sekarang tatapan tajam Zendra menghunusnya. Ia yakin sekali Zendra akan memarahinya setelah ini—tidak bisa ditoleransi. Tavie sangat paham dan ia sedang menyiapkan mentalnya sekarang.
"Iya, mabukmu normal hingga Zendra harus menggendongmu semalam." Kenneth menambahkan. Jika sudah diserang begini, Tavie hanya diam. Mukanya masam dan dia mengalihkan pandangannya pada makanan di depannya, mencoba untuk tidak melawan.
Tavie bahkan masih merasakan tatapan tajam kakaknya walau ia tidak melihatnya sekalipun.
***