“Apa? Kau pasti hanya becanda saja Mana mungkin, Ibu pergi menemui Karin!” sahut Ryan di tengah kabut kesadarannya yang hampir hilanng. Ditutupnya sambungan telepon itu dengan kesal, kemudian ia berjalan sempoyongan keluar dari kelab malam tersebut. Sesudah berada di luar Ryan memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia menyenderkan badan pada dinding kelab malam tersebut, kemudian merosotkan badannya ke lantai. Sayup-sayup Ryan mendengar suara yang memanggil namanya. Namun, ia tidak sanggup menggerakkan badan. Ia hanya menggumam tidak jelas saja. “Kau ini, ada masalah larinnya ke alkohol!” Tegur Kakak Ryan emosi. Diletakkannya satu lengan Ryan di pundak, kemudian ia memapah adiknya itu menuju mobilnya dengan dibantu sopir pribadinya. Direbahkannya Ryan di jok belakang, kemudian ia du

