Agacia menatap ponselnya yang berdering berulang kali dan menunjukkan barisan nomor tanpa nama. Ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Meskipun begitu, Agacia sudah tahu siapa si empunya nomor, tanpa perlu mengangkatnya. Ia mematikan ponselnya kemudian dan memilih untuk menghisap batang rokoknya yang hanya tinggal setengah.
Beberapa bulan belakangan, ia kecanduan merokok dan minum alkohol jika dibutuhkan. Menurutnya, kebiasaan ini lebih baik dibandingkan bunuh diri. Ia tidak akan merelakan uang santunannya hangus begitu saja. Karena pergantian walikota baru, beberapa peraturan aneh bermunculan. Salah satunya adalah uang santunan kematian tak akan dibayarkan jika orang tersebut bunuh diri.
Anehnya, hampir semua kematian terindikasi bunuh diri karena depresi setelah pemecatan dan uang tersebut tidak pernah dibayarkan. Mungkin, itu salah satu alasan yang membuat beberapa keluarga korban tak terima dan melakukan demo secara sukarela di depan sebuah pabrik pupuk kimia yang berada tidak jauh dari Hutan Alemenia.
Agacia menginjak puntung rokoknya, wanita itu mengalami insomnia beberapa hari ini dan memilih menikmati udara bebas di atas rooftop kantornya. Meskipun lampu telah padam, ia tidak takut sendirian. Sesekali, ditatapnya layar laptopnya yang masih menyala, menampilkan sebuah berita yang sedang panas akhir-akhir ini. Ia berencana untuk menanganinya dan mengalahkan unggahan Candala Berita. Ia akan membuat atasannya mengakui kemampuannya.
“Jangan sampai kau berurusan dengan Delacorte Company, Agacia…” ucap seseorang yang muncul dari pintu rooftop.
Agacia menutup laptopnya dan beranjak dari pembatas rooftop untuk pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti saat pergelangan tangan kirinya digenggam tanpa izin oleh pria itu, Kelen. Rupanya, ia berhasil menemukan Agacia setelah mati-matian menghubunginya dan meminta pertemuan diam-diam.
“Lepaskan tanganmu sebelum aku memukulmu! Kau tahu aku sabuk hitam, bukan?” ucap Agacia mengancam sambil mengepalkan tinjunya, siap menghantam hidung mancung Kelen jika diperlukan.
Kelen melonggarkan genggamannya perlahan. Ia berdiri di depan Agacia untuk menghalau jalan wanita itu, meskipun akhirnya ia tersungkur karena dibanting tanpa persiapan. Kali ini, Agacia tidak memberikan ruang padanya untuk menjelaskan maksud dan tujuannya seperti biasanya.
“Tunggu…” teriak Kelen sambil mengelus lengan kirinya yang sakit, “Aku tidak ingin kau kesulitan. Berhentilah! Apakah kau benar-benar gila? Mengapa begitu keras pada diri sendiri? Come on, Agacia, perusahaan ini tidak akan memberikan uang lebih, meskipun kau terbunuh sekalipun. Cobalah untuk sedikit realistis.”
“Jika bukan karena kau, hidupku baik-baik saja!” tandas Agacia dengan marah, “Jika saja kau setia dan tidak selingkuh dengan Liona, mungkin aku bisa naik ke posisi yang lebih tinggi dan lebih baik. Kau tahu seluruh ambisiku, aku bahkan dengan senang hati membantumu mendapatkan pekerjaan. Apakah ini balasanmu?”
“Aku sudah minta maaf. Aku menyesal. Aku tidak tahu jika Liona akan memperlakukanmu dengan buruk. Aku hanya terbawa nafsu, Agacia. Aku ingin memperbaikinya…”
“Berhentilah membuat drama dan jangan menemuiku lagi. Jika kau menyesal, jangan berada di sekitarku!” ujar Agacia dengan kesal dan benar-benar meninggalkan Kelen sendirian di rooftop.
Agacia mengumpat sepanjang jalan. Ia menuruni satu per satu anak tangga dengan terburu-buru. Untungnya ia telah mengganti heals-nya dengan sepatu kets yang nyaman. Toh, ia akan segera melakukan pekerjaan lapangan yang sangat penting mulai hari ini. Ia sudah mempunyai bahan bakar.
Sesampainya di halaman, ia melihat sebuah mobil yang tidak asing masih terparkir di sana. Tak lama kemudian, wanita dengan dress merah keluar sambil menatapnya serius. Agacia terdiam, menunggu wanita itu membuka suara lebih dulu.
“Apa kau senang bersama kekasih orang lain di malam hari?” tanyanya dengan aura congkak yang begitu kentara.
“Tidak. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku,” ujar Agacia yang memperlihatkan laptopnya.
Wanita itu tersenyum sinis, terlebih ketika melihat Kelen baru saja keluar dari gedung kantor. Kelen mendekati wanita itu dan menariknya.
“Kita pulang sekarang juga!” ucap Kelen memerintah.
“Kau berduaan dengan wanita bodoh ini?” tanyanya sinis, kepada Kelen yang berada di sampingnya.
“Liona cukup!” Sela Kelen.
Wanita yang dipanggil Liona itu melepaskan genggaman tangan Kelen dan mendekat kembali ke arah Agacia.
“Harusnya kau tahu diri dan tidak mendekati barang milik orang lain. Bukankah kau ingin masuk ke timku? Kau sudah berusaha keras, Agacia. Jadi, jangan ceroboh!” tandas Liona.
“Aku akan berusaha dengan keras untuk masuk timmu. Aku akan mencari tahu tentang pabrik pupuk yang tengah viral itu. Jadi … aku membutuhkan bantuanmu untuk menyampaikannya pada Bos,” ujar Agacia seraya menatap Liona.
Liona tertawa dan kemudian menjawab, “Semua orang tahu bahwa kejadian itu bukan kesalahan pabrik. Para pekerja itulah yang melakukan bunuh diri dengan sukarela. Kau tidak dapat menulis berita murahan yang kebenarannya sudah dapat kita lihat…”
“Miss Lio, aku bisa…”
“Kau, bisa? Jangan mempermalukan diri sendiri. Sekelas Candala Berita sekalipun, sudah melampirkan faktanya. Tidak hanya sekadar bercerita omong kosong, tetapi bukti konkret!” jawab Liona sambil tertawa.
“Lalu … bagaimana dengan artikel yang sudah dihapus? Kau memiliki salinannya bukan? Biarkan aku membuktikannya padamu!” ucap Agacia optimis.
Sebelum menjawab pertanyaan Agacia, Kelen menarik Liona, membuka pintu mobilnya dan memasukkan wanita itu ke dalam. Kelen sudah tidak tahan lagi dengan ocehan kekasihnya yang merendahkan Agacia. Mungkin inilah jalan satu-satunya agar Agacia menyerah dan berhenti mengorbankan dirinya. Kelen tahu seperti apa konglomerat-konglomerat yang berkoalisi dengan para petinggi dan Agacia tidak dapat menanganinya.
Setelah mobil itu melesat pergi, Agacia berjalan ke halte bus yang lampunya telah padam karena seluruh bus berhenti beroperasi. Wanita itu masih memeluk laptopnya, bergumam sesekali untuk menyanyikan lirik lagu random yang berputar-putar di kepalanya untuk mengusir sepi.
Ia menghidupkan kembali ponselnya yang sempat mati. Ditancapkannya kabel earphone untuk mendengarkan radio. Ia lebih sering mendapatkan ide untuk menulis berita atau sekadar mendengarkan ocehan si penyiar radio agar kepalanya tidak terus memproses hal-hal aneh. Ia baru saja hendak melangkah meninggalkan halte, tetapi kemudian terhenti karena suara sang penyiar radio yang membacakan kiriman pesan dari seseorang.
“Kiriman pesan kali ini dikirim oleh seseorang bernama Jas Hujan. Ngomong-ngomong, nama pengirimnya sangat unik dan aku cukup tertarik dengan pesan yang dikirimkannya. Apakah ini benar-benar lelucon?”
“Aku ingin mengungkapkan rahasia terbesarku. Aku baru saja membunuh seorang gadis dan meninggalkannya di Hutan Alemenia.”
Jantung Agacia hampir berhenti ketika mendengar pesan yang dibacakan oleh si penyiar radio. Sepertinya, ini bukanlah sebuah lelucon semata, sehingga ia memutuskan untuk berlari ke pinggir jalan raya dan menyetop taksi secara mendadak.
“Hutan Alemenia,” ucap Agacia setelah masuk ke dalam taksi.
Perasaannya buruk, ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Tidak berapa lama, terdengar suara sirine yang mobil polisi dan ambulans yang memecah keheningan jalanan di malam hari. Mereka semua menuju Hutan Alemenia!
***