“Ha ha! Tuan muda, aku rasa kita tidak saling mengenal bukan?” Arthur benar-benar mengabaikan tatapan tajam dari pemuda di depannya. Arthur tahu siapa itu. Pemuda itu bernama Arsene—bangsawan menengah atas yang selalu memamerkan hartanya. Di kehidupan sebelumnya, Arthur ingat bahwa pemuda ini selalu mengganggunya hanya karena Simoc lebih menyukai dekat dengannya dibandingkan dengan Arsene. Meskipun pemuda di depannya ini angkuh, sombong, dan egois, namun Arthur sama sekali tidak menaruh dendam padanya. Bagi Arthur, sosok Arsene hanyalah anak manja egois yang haus akan pujian. Dia bukanlah pemuda yang jahat dari tulang. Jika dulu dia membencinya karena dia dekat dengan Simoc, Arthur merasa kali ini dia mendatanginya karena dirinya telah merebut banyak perhatian akhir-akhir ini. Di sisi lai

