BAB 10 pergi keluar akademi

2188 Kata
Berita tentang munculnya rank –SS dalam tes pengujian bakat menyebar lebih cepat dari kobaran api. Nama Arthur menjadi bahan perbincangan hangat oleh para guru, murid dan bahkan wali murid setelah reporter mengabarkan berita tersebut di media. Ini baru satu hari lewat dari tes kemarin, jelas hal tersebut masih menjadi topik hangat yang paling diminati. Merekapun mulai penasaran dengan keluarga mana sosok Arthur tersebut. Karena hanya dialah satu-satunya murid yang merahasiakan nama keluarganya saat tes. Banyak yang berspekulasi bermunculan tentang kenapa Arthur tidak menunjukkan nama keluarganya. Mereka terbagi menjadi dua kubu. Kubu pertama berspekulasi bahwa kemungkinan Arthur memiliki latar belakang yang sangat mulai hingga dia harus merahasiakan identitasnya. Namun hal tersebut dibantah oleh kubu kedua yang mengatakan bahwa tidak mungkin identitas mulia justru masuk kedalam akademi Olympus, bukan akademi Royal. Semua orang di Negara Asternal tahu bahwa para bangsawan kerajaan jelas akan bersekolah di Royal akademi. Jadi mereka berspekulasi bahwa Arthur merupakan sosok latar belakang yang rendah yang benar-benar jenius dan dirahasiakan oleh Dekan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan—seperti di rekut untuk mendapatkan beasiswa di akademi Royal. Meninggalkan hiruk pikuk semua orang, sosok yang tengah menjadi perbincangan panas saat ini justru sedang berada di tengah pusat perbelanjaan di luar akademi. Itu bukan pusat perbelanjaan yang biasa dikunjungi oleh siswa akademi, itu dapat dikatakan sebagai pasar tradisional satu-satunya yang terbesar di Asternal. Dinamakan tradisional bukan berarti bahwa pasar ini kuno, namun pasar ini dikatakan tradisional karena menjual barang yang masih original atau belum di olah. Misalnya alat bertempur panah, jika membeli diluar maka kamu akan mendapatkan anak panah yang sudah dilapisi oleh sihir dengan beberapa level yang berbeda. Namun disini, kamu hanya akan menemukan anak panah biasa yang belum diolah. Itu hanya akan menjadi panah biasa yang bisa melukai warga biasa namun tidak dengan orang-orang dengan bakat apalagi melawan monster terendah sekalipun. Kali ini selain mengajak Aiden, Simoc dan Lohan, Arthur juga mengajak adiknya—Adele. Saat Arthur membalas pesan adiknya yang telah dia abaikan selama tiga hari, Arthur membalas pesan itu sekaligus mengajak Adele untuk ikut dengannya pergi ke pasar tradisional untuk membeli bahan yang belum diolah. Seperti yang Arthur duga, adiknya tidak mungkin untuk ikut dengannya dan menjadi satu-satunya gadis dikelompok mereka. Arthur dapat mendengar jeritan adiknya itu teramat antusias dari telepon, namun dia malu jika hanya menjadi satu-satunya gadis. Jadi Adele meminta ijin pada Arthur untuk mengajak sahabatnya—Prisilia. Siapa yang menduga bahwa Patrick—saudara kandung dari Prisilia memaksa untuk ikut adiknya. Sebenarnya Patrick melakukan hal itu dikarenakan dia tahu bahwa Arthur yang tengah menjadi perbincangan hangat ini tak lain adalah kakak dari sahabat adiknya ini. Gosip di akademi jauh lebih cepat menyebar dibandingkan dengan media. Dan para murid di akademi sudah banyak yang menyebarkan berita bahwa Arthur adalah orang yang membuat temannya menyandang gelar ‘si peringkat S’. Jelas Patrick merasa penasaran. Jadilah mereka menjadi kelompok yang beranggota tujuh orang yang menyusuri pasar tradisional. Patrick adalah pemuda yang mudah untuk bersosialisasi bahkan melebihi Arthur. Dia ramah, lincah, dan mengatakan hal seperti yang ada pada pikirannya. Jadi saat dia pertama kali bergabung dengan grup sebagai ‘tamu tak diundang’ dia dapat dengan mudah membaur dengan ke enam anggota lain selain adiknya. Dia bahkan dengan mudah untuk akrab dengan masing-masing dari mereka dan cepat tanggap dengan karakter OCD kebersihan milik Aiden. “Arthur, aku rasa kita tidak perlu menyamar seperti ini.” Simoc adalah orang yang pertama kali membuka suara sesaat setelah mereka memasuki tengah pasar. “Apa yang salah?” tanya Arthur balik. Saat mereka akan keluar akademi, Arthur memasang sihir ilusi pengubah wajah pada mereka. Sihir itu adalah sihir baru yang mungkin akan ditemukan beberapa tahun mendatang. Jadi untuk saat ini bahkan gurupun tidak akan tahu bahwa mereka memakai sihir untuk mengubah wajah mereka. Asal mereka tidak bertemu dengan penyihir bintang tujuh, atau ksatria tingkat tinggi, mereka akan aman. Masalahnya adalah Arthur belum sempurna memahami bagaimana mengubah wajah dengan sihir. Alhasil wajah yang dihasilkan oleh sihirnya dapat dikatakan dibawah standar dari kata baik. Arthur memiliki wajah seorang paman dengan wajah lemah. Lohan tampak seperti seorang prajurit yang telah lama berkecimpung di misi penyelesaian dungeon. Patrick tampak seperti remaja dengan wajah bayi. Aiden dapat dikatakan paling sempurna karena dia tampak seperti seorang profesor menara sihir—paling tampan diantara mereka. Masalahnya adalah Simoc, dari mereka berlima, Simoc adalah yang tertampan dari mereka. Namun dengan sihir ilusi wajah ini, wajah Simoc tampak seperti seorang paman warga biasa berumur lima puluhan tahun . Mengingat hal itu Arthur tidak dapat menahan suara terbahaknya, “Aku tidak dapat berbuat apapun. Sihir ini hanya bekerja sekali. Dan aku juga baru membuat pola sihir itu jadi belum sempurna. Bertahanlah, toh kami semua tahu bahwa kau sangat tampan diantara kita.” Simoc memasang wajah memelas. Lalu dia melihat sosok manis yang mengaitkan tangannya pada lengan Arthur. Dengan sihir Arthur, para gadislah yang paling baik dalam bertranformasi. Prisillia berubah tampak menjadi wanita dengan kecantikan dewasa yang memikat dan sedikit menggoda. Dengan berjalan bergandengan dengan Patrick, itu tampak seperti Patrick adalah adiknya yang dilindungi. Sedangkan Adele, itu seperti gambaran masa depan wajah Adele. Adele terlihat seperti gadis dewasa dengan kecantikan polos. Arthur sengaja memberi tambahan sihir memanjangkan rambut Adele karena dia satu-satunya yang wajahnya tidak berubah begitu banyak. Jadi saat ini Simoc tidak dapat memungkiri hatinya bergetar dengan sosok Adele. Simoc tidak menyangkal bahwa gadis seperti Adele adalah gadis yang dia impikan selama ini. Saat pertama kali bertemu di ruang pendaftaran, Adele memiliki tinggi seratus enam puluh tiga yang merupakan paling pendek diantara mereka. Memiliki kulit putih, dan rambut lurus terurai hampir menyentuh pinggang yang dihiasi dengan jepit rambut kupu-kupu putih di rambut sebelah kirinya—sangat manis. Namun sayangnya perkenalan pertama mereka justru dia harus menjadi kakek-kakek dihadapan gadis cantik seperti itu. “Aih…aku baru saja akan bersemi, namun penampilan ini membuatku seperti kakek-kakek yang penuh gairah.” Simoc tidak bisa tidak merasa kecewa dan mendesah panjang. Hal itu membuat keenam anggota lainnya terbahak. “Baiklah tidak bermain lagi. Hari ini aku akan mengajak kalian untuk mencari bahan sebelum sekolah resmi dimulai.” “Arthur, kau bukan orang yang akan miskin hanya karena membeli alat sihir di Alaska.” bantah Aiden. Alaska adalah toko terbaik di pusat kota yang menjual berbagai alat sihir. Disana kebersihan sangat terjamin, jadi Aiden merasa nyaman jika ada di sana. Sungguh Aiden sangat kesulitan menghindari orang-orang di tengah keramaian pasar. Untung saja penampilannya mendukungnya untuk memakai seperangkat alat kebersihan—dia merasa agak tertolong. Namun saat dia melihat Lohan, Aiden segera mengingat latar belakang Lohan. Segera Aiden memperbaiki kalimatnya, “Aku tidak tahan dengan keramaian. Aku harap tidak ada yang tersinggung.” Lohan tertawa, “ Jangan pikirkan aku. Aku sama sekali tidak tersinggung. Meskipun aku tidak pernah sekalipun membeli alat sihir di Alaska , namun aku memiliki teman yang bekerja disana. Aku juga pernah menjadi penjaga toko yang tidak jauh dari Alaska.” “Namun aku dapat menjamin, disini adalah tempat terbaik untuk menemukan senjata sihirmu. Tentu saja jika kau punya pengetahuan untuk merakitnya.” lanjut Lohan. “Bagaimana kau bisa yakin akan hal itu?” Patrick menimpali. “Aku dapat menjaminnya. Selama aku bekerja di toko pusat kota, banyak alat sihir disana yang kualitasnya tidak terlalu baik dikarenakan proses penempaan atau pemasukan elemen sihir yang kurang baik.” Mendengar penuturan Lohan, kini hampir semua dari merek menatap Arthur seolah mencari pembenaran. Entah sejak kapan Arthur merasa bahwa dia kini seolah seperti ayah yang mengayomi anak-anaknya dan seolah dialah yang menjadi penentu keputusan terakhir mereka. “Yang dikatakan Lohan itu tidak salah. Jadi hari ini aku akan membawa kalian untuk membeli beberapa bahan untuk menjadi senjata pemula kalian selama masa pelatihan di akademi.” ucap Arthur. “Kakak, apa kakak akan membuatkan alat untuk kami?” dengan lengan yang menempel pada Arthur, mata Adele mengedip polos meminta jawaban. Tidak dipungkiri bahwa Arthur merindukan saat-saat seperti ini. Mereka adalah yang paling dekat sejak kecil. Namun semakin dewasa karena sifatnya yang rendah diri membuat mereka menjauh. Sekarang saat dia mulai membuka diri, Arthur sangat senang bahwa hubungan mereka dapat seperti dahulu. “Apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku belum bisa menempa senjata untuk kalian. Aku hanya akan membuat pola dan rangkaian mekanik untuk senjata kalian.” “Memberikan mekanik ke tempat penempaan itu sangat mahal. Ayah tidak akan memberikan uang pada kita pada sesuatu tidak jelas.” Adele menjawab. Duke Glerand adalah orang yang disiplin dan tegas. Sejak kecil mereka sudah diajari tata krama sebagai seorang bangsawan dan juga uang saku yang adil setiap bulannya. Jika ada kelebihan dalam pengeluaran uang saku bulanan mereka, mereka harus memberikan alasan yang tepat agar tuan Hanz—sekretaris ayahnya dapat mengijinkan uang saku lebih. Arthur mengusap puncak kepala adiknya, “Kau tidak perlu khawatir. Kita memiliki mesin uang berjalan bersama kita.” “Siapa?” tanya Adele. “Siapa lagi? Coba tebak diantara kita siapa yang paling kaya?” “Hah?” Simoc merasa dirinya ditipu dua kali oleh Arthur. *** Hari ini Arthur berniat membuatkan senjata khusus yang akan digunakan untuk semua teman-temannya. Namun setelah berkeliling beberapa kali, Arthur sadar bahwa dia tidak mungkin membelinya hari ini juga untuk semuanya mengingat bahan baku yang cukup mahal untuk kantong mereka saat ini. Jadi saat ini Arthur hanya membelikan bahan untuk Prisillia , Simoc, Adele , dan Patrick. Mereka berempat adalah tipe penyerang yang tentu saja akan banyak praktik diluar untuk mengasah kemampuan mereka. Sedangkan untuk sisanya termasuk dirinya, dia akan membuatkannya dengan tangannya sendiri alat yang akan mereka gunakan untuk membela diri selama melakukan penelitian. Arthur telah mengingat dengan baik keahlian masing-masing temannya dan senjata apa yang paling cocok dengan bakat mereka. Jadi pertama-tama, Arthur membeli tongkat yang terbuat dari kayu elf berusia puluhan tahun, bahan mentah mytril, kristal monster level medium, dan beberapa bahan yang diperlukan untuk pembuatan senjata. Karena semua senjata hanya berupa bahan baku yang belum diolah, itu lebih murah dari harga senjata yang dibuat. “Arthur, kau tau apa yang akan kau buat dengan semua bahan ini kan?” Aiden memastikan. Bukan apa-apa, semua yang mereka beli ini sudah menghabiskan ratusan ribu pero dan semua itu juga merupakan andil dari uang saku bulanan miliki Aiden. Jika Arthur hanya membeli tanpa tujuan, Aiden bersumpah akan menghajarnya dengan sangat baik. “Tenang saja, aku pastikan ini akan menjadi senjata yang baik untuk kalian. Sementara aku hanya akan membuatkan senjata untuk Prisilia, Simoc, Patrick dan Adele.” jawab Arthur yakin. “Eh? Kami juga?” Patrick dan Prisillia bertanya secara bersamaan. “Tentu saja. Kalian adalah kelompokku sekarang. Tentu saja harus hebat.”sambil berjalan, Arthur masih melihat-lihat dagangan yang berjejer di pasar. Selain toko-toko yang terpercaya, banyak dari pemburu dungeon atau sering disebut hunter, menjajakan kristal monster disini. Atau beberapa tanaman yang aneh yang mereka temukan saat menjelajahi dungeon. Arthur berpikir mungkin saja mereka menemukan barang yang bagus. Mereka bertujuh berjalan beriringan dengan damai. Dengan penampilan mereka, itu terlihat seperti keluarga aristokrat dari beda generasi yang tengah melakukan inspeksi pasar. Banyak para pedangan meneriakkan dagangan mereka, namun mereka tak satupun mau untuk bergerak menipu kelompok mereka saat melihat wajah tegas Arthur dan Aiden. “Bagaimana dengan kami?” tanya Lohan. Arthur melihat Lohan. Sesaat Arthur baru ingat bahwa saat ini mereka memang belum mengenal dengan baik dan belum lama. Apalagi saat ini mereka masih dalam masa puber dimana rasa iri akan mudah muncul diantara mereka karena dangkalnya pertemanan mereka saat ini. Arthur tahu mungkin saja Lohan melihat bahwa dia lebih mendahulukan Patrick yang baru saja datang diantara mereka dikarenakan latar belakang yang baik tidak sepertinya. “Tenang saja.Lohan, alasanku membuatkan mereka terlebih dahulu dikarenakan mereka adalah tipe penyerang. Mereka membutuhkan senjata lebih dahulu ketimbang kita. Kau dan aku akan berada di departemen Chronos, kita akan menciptakan alat sihir kita sendiri. Aiden akan berada di departemen Invac. Dimana dia lebih butuh gulungan alkemis dan pola sihir dibandingkan senjata. Tapi saat waktunya tiba, aku akan menciptakan alat yang cocok untuk kita yang bersifat pasif.” saat Arthur menjelaskan panjang lebar, ada jejak kemerahan di pipi Lohan yang terasa memanas—dia merasa malu akan pikiran buruknya sendiri. Lohan tidak memungkiri bahwa dia sempat merasa iri pada Patrick dan benci karena terlihat dia dapat bergaul lebih baik darinya dan mendapatkan senjata terlebih dahulu. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Arthur dapat melihat kedalam hatinya dan menjelaskan dengan sangat jelas. Arthur menepuk pundak Lohan, “ Yakinlah, aku tahu ini seperti omong kosong. Tapi aku sungguh memiliki firasat bahwa kita ini ditakdirkan untuk menjadi teman satu perjuangan.” “Tentu saja sebagai teman seperjuangan, karena saat ini aku masih miskin, mari kita bergantung pada dompet Aiden dan Simoc untuk saat ini.” lanjutnya. Mendengar hal itu, ingin sekali Simoc melemparkan sepatu pada wajahnya, “Aku hampir saja menangis terharu oleh kata-katamu.” “Aku sudah tahu bahwa dia memang lelaki licik.” sambung Aiden. Arthur tertawa terbahak tanpa membalas ucapan keduanya. Arthur tidak berniat bergantung sesungguhnya. Setelah ini dia dapat memastikan bahwa dia dapat memiliki jutaan pero untuk dia belanjakan dengan baik. “wah…wah…wah, lihat siapa dua gadis manis ini?” Sebuah suara dari depan mereka membuat ketujuh dari mereka menatap kearah sumber suara. Wajah Arthur lalu berubah buruk tatkala melihat siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN