Suasana ruangan milik Amerta jadi sunyi, mencekam, dan juga berwhawa dingin. Tiga puluh meneit berlalu, Kennet yang berada di ruangan yang sama merasa tercekik luar biasa. Beberapa kali dia meneguk air hingga hampir satu teko dihabiskannya. Melihat dua orang yang duduk berhadapan tanpa bicara sama sekali membuat waktu semakin lama. Rasanya, Kennet ingin kabur dari tempat ini sekarang juga. “Kau bisa pergi, Ken,” kata mereka berdua serempak. Kennet sedikit terkejut dengan kekompakkan mereka. Dia tak akan menunda waktu, dan memilih untuk segera meninggalkan tempat itu. “Apa ayng kau sembunyikan dariku?” tanya Glory dengan sarkasme. Amerta tersenyum tipis, “Tidak ada.” Glory tidak tahu kalau Amerta belum mengetahui identitasnya sebagai peramal sekaligus pelindung dari Planet Aques.

