Bus berguncang pelan menyusuri jalan luar kota yang terlihat sepi. Beberapa kali aku memalingkan wajah dengan melihat ke luar jendela agar tidak bertatapan langsung dengan Nino. Karena sejak ucapannya tadi, aku selalu merasa salah tingkah jika tatapan mata kami bertemu. Kenapa perjalanan ini terasa lama sekali? Setiap aku melihat ke arah jendela, selalu saja yang terlihat hanya pemandangan kendaraan yang lalu lalang. Vio dan Jo telah tertidur dari tadi. Vio tidur di pangkuan Nino, sedangkan Jo, kepalanya menempel pada jendela. Tingkah mereka sungguh menggemaskan, padahal teman-temannya yang lain sedang bernyanyi dengan riangnya. Melihat keadaan kami yang seperti ini, aku, Nino dan dua orang anak. Aku merasakan seperti sedang piknik bersama keluarga kecil. Lagi-lagi hanya membayangkannya

