Berjarak

1099 Kata
Pagi kembali menyapa Asha dengan setumpuk pekerjaan yang sama. Bangun tepat pukul lima lebih lima belas menit, menyiapkan baju kerja Harris selama lima belas menit kemudian menyiapkan sarapan Harris selama setengah jam lalu kembali ke atas untuk mandi pagi setengah jam hingga tepat pukul tujuh pagi Harris dan Asha sarapan bersama dan tak lebih dari pukul setengah delapan Harris pergi bekerja.   Pekerjaan sama yang di lakukan berulang memang akan bosan suatu saat nanti. Itu sebabnya setiap pasangan disarankan untuk meluangkan waktu berlibur bersama.   Sialnya Harris bukan pasangan yang mengerti akan kebutuhan berlibur. Buktinya selama enam bulan menikah mereka tidak pernah berlibur bersama. Alih-alih bulan madu setelah menikah, Harris justru memilih untuk bekerja sehari selepas menikah dahulu.   Dan Asha sudah cukup bersabar untuk ketidak pekaan Harris akan hubungan mereka. Asha sudah cukup sabar menghadapi sikap Harris yang sulit bicara. Bahkan saat Harris libur di akhir pekan, Harris lebih banyak menghabiskan waktu untuk berolahraga di ruang fitness sederhana di rumahnya. Terkadang Harris menghabiskan waktu liburnya di depan tablet untuk membaca berita kriminal terkini ataupun indeks pasar saham. Selepas menikah Harris mulai belajar menjadi seorang pialang saham kecil-kecilan. Lumayan, menambah pemasukan katanya.   Seperti halnya orang normal, Asha mulai merasa bosan dengan aktifitasnya. Apalagi sejak keharmonisan pernikahannya mulai berjarak. Rasa jenuh itu semakin menusuk dalam, menghancurkan suasana hatinya.   ***   Asha tengah mengukus beras yang dibungkus daun pisang. Dia hendak membuat lontong kari ayam untuk sarapan. Asha sudah merebus daging dan tulang ayam sehari sebelumnya untuk mendapatkan kaldu ayam alami. Tentu saja karena Asha tahu jika waktu pagi tak akan cukup untuk memasak lontong kari ayam dari awal.   Asha menunggu kukusan lontong dan rebusan kuah kari ayam dengan berselancar di sosial medianya. Asha mendapati pembukaan kursus menari. Asha membacanya dengan penuh minat, dia sungguh ingin mengikuti kursus menari itu. Asha menyimpan berita itu di ponselnya meski setelahnya Asha bermuram durja. "Aku masih belum tahu akan seperti apa pernikahanku. Mungkin saja aku dan Mas Harris akan bercerai. Jadi sebaiknya aku mencari lowongan pekerjaan dari lupakan kursus menari itu." gumam Asha seraya meletakan ponselnya di atas meja makan dan kembali sibuk dengan masakannya.    Harris sudah turun ke dapur, menarik kursi dan terduduk mantap di depan meja makan. Harris bahkan tak berniat melirik Asha sedikitpun. Dia memilih membuka ponselnya seraya menunggu Asha mengulurkan piring makan yang sudah berisi potongan lontong dengan kuah kari ayam yang masih menguapkan uap panas dan wangi yang menggoda lidah. Asha yakin betul masakannya lezat. Sebab kali ini Asha tak lupa untuk mencicipinya terlebih dahulu, ia tak ingin kejadian kemarin terulang. Meski Harris tak marah, Asha tetap saja malu setengah mati.   Harris melahap lontong kari ayamnya dengan mudah dan cepat. Padahal masakan itu dibuat tanpa celah dengan resep dari Chef ternama. Malangnya, Harris melahapnya tanpa ekspresi. "Terima kasih" ucap Harris setiap kali selesai makan. Harris berdiri dari tempat duduknya. Sebelum beranjak ia memerhatikan Asha yang tengah merapihkan meja makan, menyingkirkan piring-piring kotor untuk ia cuci kemudian selepas Harris pergi bekerja. Hubungan keduanya menjadi begitu jauh. Pernikahan mereka kini bagai cangkang tanpa nyawa. Hampa!   ***   Malam menyapa Harris dan Asha dengan hawa dingin yang membekukan tulang. Bukan karena Jakarta tiba-tiba menjadi dingin seperti negara subtropis. Tetapi karena Harris membiarkan hubungan dingin di antara mereka semakin beku. Dan Asha bersikeras untuk tak jadi pengemis cinta pada Harris jika memang suaminya itu tidak bisa membuktikan pengakuannya. Asha sudah cukup baik dengan tak gegabah melangkah dan memberi waktu pada Harris untuk memutuskan nasib pernikahan mereka. Meski Asha sendiri tak tahu batas sabarnya dimana.   "Baru setengah sepuluh Sha." ujar Harris yang melihat Asha berbaring memunggunginya. "Mas Harris mau aku ngapain?" tanya Asha tak mengubah posisinya. "Temani saya sampai jam sepuluh." balas Harris datar. Sikapnya yang dingin dengan konflik yang tengah mereka hadapi membuat Asha semakin gemas. Andai Asha bisa pura-pura amnesia jika Harris suaminya, tentu Asha sudah merdeka meraih mimpinya. "Mas Harris sibuk sendiri kan dengan tablet. Aku juga sedang malas bicara. Jadi untuk apa menemani?" "Temani duduk saja Sha." balas Harris segera. Dahi Asha mengerut dalam sekali. Dia keheranan dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia jatuh cinta dengan pria sedingin Harris?    Asha pun mengubah posisinya menjadi duduk menyandar di kepala ranjang dengan rambut kusut yang sebelumnya dia acak-acak sendiri. Harris terlalu cuek dengan hubungan yang tidak normal ini. Membuat Asha kesal sendiri. Andai saja mencekik bukan termasuk k*******n dalam rumah tangga, pasti sudah Asha lakukan beberapa menit yang lalu.    ***   Harris masih betah di kursinya, sementara piringnya sudah kosong melompong. Harris mengurut pelipisnya yang tegang karena terlalu lama berpikir. "Saya belum siap terbuka Sha. Tapi saya takut kamu akan pergi dari saya." ujar Harris yang tak di dengar Asha sama sekali, sebab kalimat itu hanya terucap di dalam hatinya.    "Sudah hampir jam setengah delapan." tegur Asha yang baru selesai mencuci tangan. Harris terperanjat. Dia melirik arlogi di tangan sebelum berseloroh, "Pagi ini mau antar saya sampai depan?" "Mas Harris mau aku antar sampai depan?" tanya Asha retorik. Harris berdiri dari kursinya, meluruskan pandangannya pada Asha yang berdiri dengan jarak lima langkah. "Besok libur akhir pekan, saya dan Mariana akan bertemu. Kamu bisa ikut saya supaya kamu tahu siapa Mariana." Asha membatu di sana, dia terlalu terkejut dengan ucapan Harris.   Ada kelegaan di sudut hati Asha saat mendengar Harris akan memberi penjelasan tentang wanita yang menyentuh suaminya mesra. Tapi juga ada takut yang menyelimuti sebagian besar hatinya. Bukan tak mungkin jika pertemuan ketiganya akan berakhir dengan Harris memilih Mariana. Bukankah Asha yang meminta Harris untuk memilih? Apa Asha takut bersaing dengan wanita lain?   "Demi tuhan saya tidak pernah berselingkuh Sha!" aku Harris meraih telapak tangan Asha yang dingin. Asha bahkan tak sadar Harris sudah berada dekat di hadapannya. "Asha, kamu akan tahu siapa Mariana" lirih Harris dengan suara yang berat. Harris merekatkan pegangan tangannya pada Asha yang tak merespon apapun atas perkataannya. Harris terlalu frustasi dengan sikap Asha yang tanpa ekspresi. Harris tak sadar jika dia4 terlalu sering menampilkan ekspresi lurus itu. "Mas Harris aku --" "Kamu bisa percaya sama saya Sha!" sela Harris secepat kilat. Asha serasa berdiri di bawah air terjun yang segar membasahi hatinya yang kering kerontang. Entah mengapa, tatapan Harris begitu meyakinkan hatinya.    "Kamu sudah gak ada alasan kan untuk gak antar saya sampai depan!?" tambah Harris yang lebih terdengar seperti perintah. Asha pun mengangguk pelan dan berjalan di samping Harris sampai mereka di teras depan rumah.   Saat Asha hendak mengikuti Harris hingga ke pintu gerbang, Harris justru menahan Asha. "Kamu cukup antar saya sampai sini, sisanya saya bisa kerjakan sendiri!" Asha pun kembali mengangguk pelan. Harris hendak mencium kening Asha meski akhirnya ia urungkan. Harris hanya mengacak puncak kepala Asha sebelum berlalu pergi dengan mobilnya yang melesat menghilang dari pandangan Asha.   ***   Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN