---
Aurel menerima balasan itu seminggu kemudian. Botol itu ditemukan oleh anak kecil yang bermain di dermaga dan membawanya ke perpustakaan, mengira itu benda antik. Aurel langsung mengenali tulisannya, dan diam-diam, ia membaca di antara tumpukan buku-buku lama.
Puisi Orionus berbunyi:
Laut menyimpan banyak hal, lebih dari yang bisa kau kira Tapi tidak ada yang seteduh huruf-hurufmu Mereka menepi padaku seperti gelombang sunyi Membawa cerita yang kutahu pernah kukenali, entah dari mimpi, entah dari langit.
Aurel menutup puisi itu perlahan, seakan takut mengusik makna di balik barisnya. Di malam itu, ia menyempatkan diri duduk di loteng perpustakaan, menatap bintang-bintang yang jarang tampak. Ia menulis dengan hati-hati, seperti memetik nada dari udara:
Kau yang belum pernah kutemui Tapi kata-katamu seperti peta langit di musim hujan Sekalipun tertutup awan, aku tetap tahu arahnya Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan menemukanmu di ujung petunjuk itu.
---
Hari-hari bergulir seperti pasir di jam tua. Orionus kembali ke laut bersama pamannya, menarik jala, mengikat simpul, mencatat arus. Tapi hatinya selalu mengarah ke tempat lain. Setiap malam, ia membaca ulang surat Aurel. Ia mulai membuat kalender langit di dinding kamarnya, mencatat kapan bintang tertentu muncul, seolah berharap bisa mengaitkan waktunya dengan kedatangan puisi berikutnya.
Aurel pun demikian. Rutinitasnya sebagai pustakawan yang tenang berubah menjadi ritus harian: menyusun buku, menata katalog, lalu menulis. Kadang ia menulis di kertas, kadang langsung di pinggiran halaman buku tua. Ia menyelipkan puisinya ke dalam botol dan menyerahkannya kepada ombak. Ia tak tahu pasti ke mana arah arus, tapi ia percaya laut punya cara menyampaikan.
---
Waktu berjalan, dan korespondensi mereka makin dalam. Mereka saling menceritakan kehidupan mereka lewat puisi. Orionus menulis:
Senjaku seperti mata pamanku yang diam Tenang, tapi menyimpan badai di belakangnya Aku belajar membaca angin, sama seperti aku belajar membaca sunyimu Dan aku tahu, ada suara di balik diammu.
Aurel membalas:
Aku hidup di antara halaman dan harapan Kadang sunyi terlalu keras, sampai aku menulis hanya untuk mendiamkannya Tapi suratmu tiba seperti hujan ringan di siang yang lengang Membasahi tanah tempat aku menumbuhkan keberanian.
---
Mereka mulai berbagi lebih dari puisi. Orionus mengirimkan sketsa bintang, bentuknya seperti lukisan anak-anak, tapi Aurel menyimpannya seperti harta. Aurel mengirimkan daun kering yang ia press di antara buku, dan Orionus menempelkannya di dinding kamarnya. Botol-botol itu menjadi pengikat antara dua kehidupan yang sederhana tapi sarat makna.
---
Pada bulan ketujuh, badai datang. Gelombang tinggi dan angin kencang memisahkan mereka sementara. Tak ada surat, tak ada botol. Aurel menunggu dengan cemas, Orionus kehilangan arah. Tapi ketika badai reda, botol kembali datang. Di dalamnya, hanya satu kalimat:
Aku masih di sini, langit belum kehilanganmu.
Aurel menangis malam itu. Tak pernah ia merasa sedekat ini dengan seseorang yang belum ia genggam.
---
Tahun hampir berganti. Korespondensi mereka telah mengisi dua buku catatan penuh. Aurel mulai membaca puisi-puisi mereka dalam sesi membaca di perpustakaan. Anak-anak menyukainya, tapi mereka tak tahu dari siapa puisi itu berasal. Orionus mulai mengajari anak-anak nelayan menggambar langit, dan ia menamakan salah satu rasi bintang buatannya dengan nama "Aurelida."
---
Lalu, pada hari yang cerah di akhir musim penghujan, Orionus mengirimkan puisi yang berbeda. Lebih seperti pertanyaan:
Kalau suatu hari, aku datang dengan kapal kecil, dan membawa satu buku dan satu pertanyaan Apakah kau akan menjawabnya, atau membiarkan laut tetap menjadi penyambung kata?
Aurel membaca itu dengan tangan gemetar. Ia membalas:
Datanglah, kalau kau tak takut melihat bentuk dari bayangan Tapi jangan bawa pertanyaan, karena jawabannya sudah kutulis di sepanjang pantai.
---
Dua minggu kemudian, sebuah kapal kecil terlihat di dermaga Pulau Seruni. Orionus turun, membawa satu tas kecil dan buku catatan tua. Ia mencari perpustakaan kecil, dan menemukan Aurel sedang menyusun buku di rak astronomi.
Aurel menoleh, dan senyum kecil itu—yang dulu muncul saat melihat Nebula Helix—muncul lagi.
"Orionus?"
Ia mengangguk.
Mereka tak langsung berpelukan, tak langsung menangis. Mereka hanya berjalan ke kepantai.dan mencari tempat
duduk berdampingan, membuka buku catatan mereka masing-masing, dan saling menunjukkan puisi yang belum sempat dikirim.
Langit menjadi saksi, seperti selama ini. Tapi kali ini, langit juga ikut tersenyum.
Dan laut, untuk sekali ini, tak perlu membawa pesan apa-apa lagi.
---
Di antara deru ombak dan bisik angin yang menerobos helai-helai rambut mereka, Aurel dan Orionus masih duduk dalam diam. Buku catatan yang mereka buka kini seperti jendela—bukan ke masa lalu, tapi ke dunia yang tak sempat mereka tempuh bersama. Masing-masing kata yang mereka tunjukkan seperti isyarat rahasia, seperti satelit yang selama ini mengitari orbit yang sama, hanya tak pernah benar-benar bertemu.
"Aku tulis ini waktu kau menghilang dari peta langitku," kata Orionus perlahan, suaranya nyaris tersapu debur ombak.
Aurel membaca puisi itu, dan matanya menelusuri tiap larik seperti mengenali jalan pulang yang nyaris dilupakan. Ia tak menangis, tapi sebaris senyum pilu menggantung di bibirnya.
"Aku menulis ini waktu aku sadar kau tak pernah benar-benar pergi," balas Aurel, menunjukkan puisi yang penuh metafora tentang cahaya yang tertinggal di lensa teleskop.
Mereka tak saling menilai, tak saling menanyakan "kenapa" atau "bagaimana". Kata-kata di antara mereka bukan alat tukar jawaban, melainkan pengakuan yang terhimpun pelan-pelan, seperti embun di ujung malam.
Di kejauhan, langit mulai berganti warna. Bukan senja, bukan fajar, tapi semacam transisi abu-abu yang hanya dikenal oleh mereka yang menunggu.
"Masih ingat suara nebula?" Aurel tiba-tiba bertanya.
Orionus mengangguk, lalu menutup bukunya perlahan. "Masih. Seperti nada paling sunyi yang bisa didengar oleh yang sedang menunggu
___
Tiba tiba Aurel menggenggam tangannya lebih dulu.
Bukan genggaman yang erat, tapi cukup untuk mengatakan: kita masih bisa mulai dari sunyi ini.
orionus tak menjawab ia hanya memandangi wajah Aurel,
dan menikmati debaran yang saat ini dia rasakan,
karena tindakan Aurel yang tiba tiba
___
---
"Di Sunyi Aku Menemukanmu Lagi"
Saat jarak tak lagi berupa kilometer,
melainkan hela napas yang enggan lepas,
aku temukan tanganmu di antara jeda kata,
dan kugenggam,
bukan untuk menarikmu kembali,
tapi agar kita diam bersama
dalam satu sunyi yang tak ingin lekas hilang.
Kau tahu, Orionus,
langit pernah mencatat namamu
dalam serbuk bintang yang gugur ke mataku
di malam yang tak bersuara.
Dan aku menuliskannya,
di tiap lembar buku yang tak sempat kau baca.
Bukan karena aku tahu caranya menunggu,
tapi karena semesta tak memberiku pilihan lain.
Ada waktu-waktu
saat aku berharap kau muncul
bukan sebagai kenangan,
tapi sebagai langkah pelan
di dermaga tempat kita pernah berselisih mimpi.
Hari ini,
kau di sini.
Dan tanganku menemukanmu lagi
bukan dengan gegap gempita,
melainkan dengan luka yang sudah berhenti mencari alasan.
---