Ke Kota

1204 Kata
Syam menyudahi panggilannya di telepon, kemudian ia membalikkan tubuhnya lalu masuk ke dalam kamar untuk mencari Aisyah yang tidak nampak olehnya. Dan dia melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup. Syam tidak perduli walaupun sebenarnya ia tahu kalau sekarang ini sudah terlalu lama istrinya berada disana, tapi sekali lagi ia tidak ingin perduli karena di pikirannya sekarang hanya ada sang kekasih yang saat ini sedang hancur hatinya. Ya, saat ini wanita yang di cintainya pasti merasa hancur karena Syam telah menikahi wanita lain. Demi baktinya kepada orang tua membawanya pada kepasrahan untuk di jodohkan. Bersedia menikahi wanita yang bahkan wajahnya saja Syam tak pernah melihatnya. Menolak perjodohan sudah pernah ia utarakan. Namun seperti biasanya, keputusan sang Ayah bersifat mutlak dan tidak bisa di ubah atau di ganggu gugat. Syam ingin sekali pemberontak, namun lagi-lagi rasa baktinya mengalahkan gejolak penolakan di hatinya, sehingga kepasrahan menjadi titik terakhirnya menerima perjodohan ini paksa ini. Padahal bukan wanita ini yang ia inginkan, tapi wanita lain. Ya, ada wanita lain yang begitu sangat ia cintai yang sebenaranya ia ingikan untuk menjadi pendamping seumur hidupnya. Ceklek... Syam mendengar pintu kamar mandi terbuka. Wanita itu akhirnya keluar juga, pikirnya. Syam tersenyum kecut, begitu ia melirik Aisyah yang keluar dari kamar mandi dengan pakaian syar'i lengkap dnegan cadarnya. Syam menggeleng-gelengkan kepalanya begitu ia melihat Aisyah tetap memakai cadar di malam hari seperti ini, bahkan di dalam kamar di saat tidak ada orang lain seperti ini selain dirinya yang notabenenya kini adalah suami nya. Orang yang sudah halal bukan untuk melihat wajahnya saja, bahkan melihat seluruh tubuhnya pun ia bisa jika ia mau. Tapi beberapa saat kemudian, ia kembali tak peduli begitu ia melihat Aisyah berjalan mendekati ranjang, Syam tetap acuh. Syam kemudian bergegas memasuki kamar mandi, segera ia menutup pintunya dengan sedikit kasar sehingga memuat Aisyah kaget. Dibalik cadar yang di kenakannya, bulir-bulir air mata Aisyah kembali mengalir. Sambil mengambil satu bantal diatas tempat tidur, Aisyah menahan kesakitan yang amat dalam. Aisyah merutuki nasibnya, bukan saja akan diabaikan tapi tidak akan di terima. Sebagai istri harusnya ia di cintai, tapi suaminya justru memperlihatkan sikapnya yang dingin dan kasar. Beberapa saat kemudian. Syam mendapati Aisyah sudah berbaring di sofa ketika ia baru keluar dari kamar mandi. Syam merasa sangat lega, seakan wanita itu tahu akan ke inginannya jika malam ini tidak akan terjadi sesuatu. Bukan, bukan hanya malam ini. Syam memastikan jika tidak akan ada sesuatu diantara mereka juga di malam-malam berikutnya. Dia sudah berjanji pada Anita jika ia tidak akan pernah menyentuh istrinya, semuanya ia lakukan demi bukti cintanya pada Anita dan bukti bahwa pernikahan ini bukankah kehendaknya. Lagi pula, bagaimna ia bisa menyentuh Aisyah, hanya ikatan pernikahan saja yang menyatukan mereka hingga membuatnya berstatus suami istri. Namun baginya, wanita itu adalah orang asing yang tidak dikenal nya. Syam menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan memiringkan badannya untuk membelakangi Aisyah. Malam itu, tidak ada percakapan apapun di antara keduanya semenjak mereka telah sah menjadi suami istri. Mereka terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Syam sibuk memikirkan kekasih nya, sementara Aisyah dengan kesedihannya. Keesokan harinya. Pada saat sarapan, Syam berbicara kepada kedua orang tuanya jika ia harus segera kembali ke kota. Tentu saja orang tuanya kaget. Karena sepengetahuan mereka, masa cuti putranya belum habis. “ Rumah sakit membutuhkanku, tiba-tiba banyak pasien yang harus menjalani operasi. " Jawab Syan ketika ibunya menanyakan alasan kepulangannya ke kota di percepat. “ Baiklah, cepatlah kembali kenkota kalai seperti itu. " Ayah ternyata cukup mengerti. Syam terlihat senang, ia lansung berdiri dari duduknya. “ Aisyah, sebelum berangkat sebaiknya sekarang kalian pergi dulu ke Pondok Pesantren. Pamitan ke pada Ummi dan Abah." ucap Ayah yang melihat Aisyah sedari tadi diam saja. Syam terlihat kaget mendengar kerkataan Ayahnya, dia kembali duduk sambil melihat Ayah dengan tidak percaya. “ Kenapa? Jangan katakan kalau kamu tidak ingin mengajak istrimu. " Tanya Ayah yang melihat ke kagetan putranya. Syam terlihat gelagapan. “ Iya Ayah, aku pikir Aisyah disini saja bersama kalian. Jarak dari sini ke kota hanya sekitar dua jam saja, aku aka pulang seminggu sekali. " Ayah mengerutkan keningnya. “ Bagaimna bisa seperti itu ? Kalian suami istri tapi akan tinggal berjauhan.?" Tanya Ayah dengan nada sedikit meninggi. Syam terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk dijadikan alasan kepada sang Ayah agar Aisyah bisa ia tinggalkan disini saja. “ Iya nak, jangan seperti itu. Kalian suami istri harus selalu bersama-sama, lagi pula kamu juga bisa ada yang mengurus kalau Aisyah ikut bersamamu ke kota. " Ucap Ibu yang sepedapat dengan suaminya. Aisyah yang di perdebatkan hanya bisa terdiam dengan rasa sakit mengetahui jika suaminya sendiri enggan untuk mengajaknya tinggal bersama dan dia tahu alasan di balik semua itu. “ Tapi Ibu, aku hanya merasa kasihan pada Aisyah. Pekerjaanku sangat banyak, waktu kerjaku juga tidak menentu, aku akan sering mengabiskan waktuku di rumah sakit. Kalau seperti itu, Aisyah akan sendirian dirumah. Jadi lebih baik, jika ia tinggal disini bersama kalian. " Apapun alasan Syam, orang tuanya tetap tidak setuju. Kedua orang tuanya menginginkan Syam mengajak Aisyah bersama. Akhir nya, Syam menyerah. Dia mengikuti keinginan Ayah dan Ibunya, walaupun dengan berat hati Syam mengajak Aisyah ke kota. *** Walaupun jarak antara rumah orang tuanya dan pesantren tidak begitu jauh. Namun Aisyah, lebih memilih berpamitan sama Ummo dan Abah melalui telepon saja. Dia tidak ingin bertemu dengan sang Ibu. Karena dengan melihat wajahnya saja, Ibunya akan tahu akan kesedihan yang di rasakannya. Sudah setengah perjalanan yang mereka lalui, tapi keduanya hanya diam membisu. Tetap, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut suami istri itu. Sementara Syam yang sibuk menyetir, Aisyah yang duduk di samping nya hanya terus melihat ke arah luar jendela yang ada di sampingnya. “ Satu tahun. " Ucap Aisyah tiba-tiba tanpa melihat sang suami di sampingnya. Syam terlihat kaget, ia melirik Aisyah dan tidak mengerti dengan ucapannya. “ Setelah satu tahun, mari kita bercerai. " Ucap Aisyah datar, dengan tatapan kosongnya yang tetap melihat ke arah luar di samping jendelanya. Syam terlihat lebih kaget lagi, ia lansung menepikan mobilnya. “ Apa maksudmu.? " Tanya Syam yang mencoba melihat wajah istrinya yang tertutupi oleh cadar. “ Orang tua kita akan mengerti, pernikahan karena perjodohan banyak yang tidak berhasil. " Jawab Aisyah dengan tenang masih tanpa melihat wajah suaminya. Syam termenung sejenak. Kini dia sedikit mengerti, bukan hanya dia yang merasakan keterpaksaan dalam perjodohan ini. Namun, Aisyah juga merasakan hal yang sama seperti yang di rasakannya. “ Baiklah, kalau begitu. " Jawan Syam kemudian menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melajukan kembali kendaraannya. Kembali menyetir dengan perasaan lega dan senang tentunya, karena keputusan Aisyah barusan seperti memberikan angin segar untuk hubungannya dan sang kekasih. Sementara di balik cadarnya, Aisyah sedari tadi berusa tetap renang dan tegar. Walaupun pada kenyataannya, hatinya sangat rapuh dan pedih. Pedih karena akan banyak hati yang terluka akan keputusannya ini, sudah terbayangkan olehnya bagaimana reaksi ke dua orang tuanya ketika mengetahui tentang perceraian mereka nanti. Ayahnya akan merasa bersalah karena ke gagalan dalam perjodohan ini, sementara Ibunya akan terluka karena puterinya akan menjadi seorang janda. Tapi, keputusannya ini sudah ia pikirkan secara matang. Dan menurutnya, ininyang terbaik. Karena, bagaimana bisa mempertahankan rumah tangga jika salah seorang diantara mereka mencintai orang lain. Disisi akhir perjalanan mereka, dihabiskan kembali dengan kesunyian. Setelah membahas percakapan pertama mereka, yang justru membicarakan tentang perceraian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN