“Kira-kira kamu sudah rindu belum, ya?”
Burung-burung pun berbunyi, ayam-ayam berkokok. Harap-harap sudah melangit, menyapa Tuhan sang Maha Kuasa. Sesubuh sudah ada banyak mobil bak terbuka yang mengangkut sayur-mayur dari desa, untuk dijajakan di pasar. Memenuhi jargon empat sehat lima sempurna orang-orang baik yang bahagia.
Tidak tahu. Tidak pernah tahu. Uang-uang hasil penjualan akan dipergunakan untuk apa oleh pedagang? Ada yang usianya sudah senja, tetapi tetap berusaha untuk mengais rezeki, penyambung hidup sehari-hari. Ada yang masih remaja, berusaha untuk tetap melanjutkan sekolah. Ibu-ibu yang ingin menyukupkan kebutuhan anaknya. Dan, segala upaya dan usaha terbaik yang dilakukan manusia untuk dirinya dan manusia lain tentunya.
Dengan membeli dagangan mereka yang berjualan di pasar tradisional, maka kita sudah membantu mereka. Membantu mereka membeli s**u untuk anaknya yang masih balita. Membantu mereka membayarkan sekolah anaknya agar tetap bersekolah. Membantu mereka menebus obat yang mahal untuk kesembuhan. Membantu seorang ayah untuk memenuhi kebutuhan anaknya yang bersekolah di tanah rantau. Membantu mereka. Membantu mereka melakukan kebaikan dan menyambungi hidup ke hari depan.
Di sudut Kota Kediri, di kompleks perumahan menengah. Di dalam sebuah kamar, ada sepasang mata yang masih terlelap dalam mimpi buruknya. Terlena meratapi nasibnya. Kehilangan tidak pernah menyediakan obat untuk tetap baik-baik saja.
Matahari terbit, tetap di ufuk timur. Menyapa muka bantal Rinjani yang baru saja sadar dari tidur lelapnya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, menetralisir cahaya mentari yang mencuri masuk melalui jendela. Pagi di hari Minggu ini cerah, mungkin cocok untuknya menenangkan diri.
“Hoam!”
Rinjani turun dari ranjangnya, berdiri sebentar dan merenggangkan otot-ototnya yang sudah pegal bukan kepalang. Mochi, kucing kesayangannya berlarian masuk dan mengelus-elus kakinya. Hal yang dilakukan kucing menggemaskan cukup ampuh untuk menaikkan perasaan buruknya menjadi lebih baik.
Gadis kelas dua SMA tersebut bergerak ke arah jendelanya. Membuka lebar tabir yang menghalangi sang surya memberi warna terang di kamarnya. Memandang sejenak kompleks yang sudah lima belas tahun ia tinggali. Menatapi jalan, ada banyak laki-laki tanggung yang menggunakan training, mungkin baru pulang marathon pagi. Juga ada ibu-ibu, tetangga di samping rumahnya yang sedang menyiram tanaman yang sedang mekar-mekarnya.
Agak lebih jauh memandang, ada bapak-bapak yang sedang mencuci mobil mahalnya yang berwarna merah. Ada juga asisten rumah tangga yang tengah membawa jalan-jalan anak majikannya yang masih balita, tertawa ceria, mengajak berbicara, menganggap balita itu adalah anaknya. Juga, Oma Firda, tetangganya yang lain yang sedang membaca koran terbaru ditemani segelas the dan beberapa potong kue bolu. Pagi Minggu dengan kegiatan yang beragam.
Minggu yang indah, batin Rinjani.
Rinjani mengembuskan napasnya sejenak, “Tapi di sini enggak ada kamu, Meru,” keluhnya.
KLENTANG!
Rinjani terperanjat.
“Argh!”
Rinjani menoleh, “Astaga, Abang!” pekiknya.
Rinjani langsung berlari ke arah dapur demi mendengar suara barang yang berasal dari stainless stell yang jatuh ke keramik rumahnya. Tergopoh-gopoh menuruni tangga demi melihat dapurnya yang berbeda, sangat berbeda. Terpampang nyata Elo yang masih memakai boxer dan kaos putih oblong bercorak minyak sayur dengan muka kesalnya yang tidak terkontrol.
“Abang ngapain?” tanya Rinjani keheranan sembari menahan tawanya.
Elo melengos. “Masak telur dadar.”
“Udah jadi?”
Elo mengangguk.
“Mana?”
Elo menunjuk ke arah meja makan mereka yang sudah kusut. “Tuh,” katanya.
Rinjani berjalan mendekati meja makan seraya menutup mulutnya, menahan tawa. Ternyata memang susah mempercayai laki-laki untuk turun ke dapur. Mahal harganya, banyak barang Mamanya yang sudah berhasil dirusak oleh Elo. Kompor gas yang semula berwarna hitam dan mencling menjadi penuh minyak dan lengket. Wajan kesayangan Mamanya yang berwarna merah sudah berserakan di lantai, juga ada minyak di sekitarnya. Spatula pun sudah patah menjadi dua. Dapur yang sangat dicintai Mamanya sudah porak-poranda.
Rinjani menoleh, kemudian mengernyitkan keningnya, “Hangus?”
Elo mengangguk patah-patah sembari menggaruk tengkuknya, “Maaf, telur dadar buat Jani jadi banyak karbonnya.”
“Karbon itu bakal menyebabkan kanker ‘kan, Abang?”
Elo mengangguk, kemudian menunjukkan gigi gingsulnya melalui cengiran tak berdosa.
“Ya udah, Jani aja yang masak. Nanti Jani masak nasi goreng.”
“Enggak sekolah?”
“Abang enggak kuliah?”
“’kan hari Minggu.”
“Nah, tuh tahu!” Rinjani menahan tawanya saat melihat muka linglung Elo. Kenapa justru Elo menjadi seperti orang yang sudah kebanyakan tidur, sih?
Elo menepuk keningnya, “Oh iya!” Lalu, ia tertawa dan pergi meninggalkan adiknya yang juga sudah melayangkan tawa.
Rinjani hanya menggeleng pelan. Tangannya perlahan membersihkan sisa-sisa peperangan yang Abangnya sebabkan. Spatula yang sudah patah ia buang, lalu ia mengambil spatula yang baru dari lemari penyimpanan. Wajan yang bawahnya hangus dan berminyakan di lantai, ia bersihkan. Taplak meja yang kusut, dia rapikan. Kompor yang dipenuhi minyak, dia lap dengan baik. Karya cipta Abangnya sukses membuatnya berkeringatan di pagi Minggu ini.
Selesai menghidangkan nasi goreng buatannya, Rinjani buru-buru membereskan rumah, agar kembali rapi seperti sedia kala. Ternyata semalam akibat perbuatan Elo yang mengajak teman-teman kampusnya mengerjakan tugas di rumah mereka menyebabkan ruang tamu hingga ruang keluarga banyak berserakan kulit kacang, tumpahan kopi, juga ada tisu yang mendeplak di mana-mana.
“Abang ngerjain tugas atau dugem, sih!?” teriak Rinjani sebal. Betapa Elo pikir membereskan rumah adalah pekerjaan yang semudah menarik napas?
“Nyambi!” balas Elo, sama-sama berteriak dari kamarnya. Setelah itu, terdengar tawanya menggelegar. Gila!
“Abang minum amer, ya?” tanya Rinjani lagi.
“Abang minum tolak angin biar enggak masuk angin,” sahut Elo. “Nanti kalau kamu sudah kuliah pasti kamu akan merasakan susahnya menjadi mahasiswa dan harus siap meminum tolak angin setiap malam,” sambungnya sembari tertawa kencang.
“Kalau Abang jadi sinting, Jani siap membawa Abang ke Rumah Sakit Jiwa! Enggak apa-apa tinggal sendiri di rumah!” dumal Rinjani, ia masih sebal. Sekarang ia tengah memunguti tisu-tisu yang bertaburan. Abang dan teman-temannya ini berbuat apa, sih? Sampai menghabiskan banyak tisu.
“Itu buat riset temen, Jan.” Elo ada di belakang tubuh adiknya yang masih mengomel dengan kecepatan cahaya.
Rinjani menoleh kebingungan, “Riset apaan, Bang?”
“Nanti juga kamu tahu.”
“Ah, terserah! Nih, buang!” Rinjani memberikan seplastik sampah pada Abangnya.
Elo terkejut, sampah yang mereka produksi banyak juga. Pantas adik semata wayangnya ini mengomel tanpa henti. Dengan senang hati ia membantu.
Rinjani menyipitkan matanya, “Kenapa bengong?”
“Maaf, ya?”
“Dih!”
***