** Remaja tampan itu melangkah ragu memasuki sebuah rumah minimalis bercat putih sederhana dihadapannya, sekali lagi menatap dompet merah muda ditangannya dengan mata biru indahnya memastikan jika ia tidak salah. Ini tidak biasa, pasalnya sejak kecil ia sudah didik menjadi penerus tahtah kerajaan bisnis orang tuanya sementara trauma tahun lalu masih membekas diingatannya yang membuatnya semakin sulit berinteraksi dengan orang lain. Hanya saja. Melihat gambar keluarga kecil dengan senyum bahagia disana membuatnya bergerak ingin mengembalikan benda tersebut pada pemiliknya. "Alan! Jangan ganggu aku!" Pekikan itu membuat ia mengangkat wajahnya, pintu yang terbuka dengan lebar membuatnya mampu melihat nyaris seisi ruangan. "Kakak!" Tubuh mungil itu berlari menghindari

