** Amoura melompat kepunggung tegap yang berdiri membelakangimnya, memeluk erat leher pria yang tertawa kecil seraya menoleh menatapnya yang kini meletakkan dagunya di bahu tegap kekasihnya. "Maaf menunggu Romeoku." Ia mengecup pipi pria tampan yang menjadi kekasihnya beberapa bulan ini setidaknya hingga dua hari yang lalu. "Kau ini, kau benar benar ingin membuatku tinggal, hum?" Amoura tersenyum lebar meakipun tatapan penuh kekecewaan itu masih terlihat dengan jelas di mata indahnya. "Bagaimana lagi, aku mencintaimu. Aku yang sedang bertanya tanya apa kau benar benar mencintaiku atau tidak?" Romeo tersenyum kecut mengusap kepala rambut Amoura dengan lembut yang masih meletekkan dagunya dibahu tegapnya. "Kau jelas tahu sebenyak apa aku mencintaimu Amoura, tapi aku benar benar tidak

