5

900 Kata
Greisy berangkat pagi pagi sekali ke kantornya. Dia tak ingin melihat Rico, bertemu dengan Rico dipagi hari bisa membuat suasana hati dan pikirannya memburuk.   "Waah tumben kamu sudah datang pagi pagi, biasanya datang dan pergi sesukamu," ujar Mayla salah satu rekan kerja Greisy. "Berisik" ujar Greisy kesal.   Greisy tak ingin paginya yang indah merusak semuanya. Dia ingin bertemu dengan Rendal. Mengingat Rendal, membuat perasaan Greisy kembali bahagia.   "Luna dipanggil Pak Bintang" Nia memanggil Greisy.   Greisy menghela napasnya, apa dia harus bertemu dengan pak Bintang lagi. Tawaran pak Bintang memang menarik tapi dia ragu. Dia menyukai Rendal dan terlibat hubungan yang rumit dengan Rendal.   "Luna bagaimana dengan tawaranku kemarin? Kau menerimanya?" "Maaf pak Bintang, saya tidak dapat menerimanya" "Sayang sekali Luna, ini lah kesempatanmu. Kamu masih muda, pintar dan cantik, Rendal Miller terkenal pria yang suka bermain wanita. Saya yakin dengan modalmu ini bisa dekat dengan Rendal Miller dan bisa menjadikan Rendal batu loncatan agar karirmu sebagai jurnalis menjadi makin meningkat" "Maafkan saya pak," "Baiklah Luna. Aku tidak akan memaksamu tapi kalau kamu berubah pikiran, bisa segera hubungi saya"   Greisy tak habis pikir dengan pemikiran atasannya. Dia sudah menolak tapi masih saja terus memaksanya untuk mendekati Rendal Miller. Seandainya pak Bintang tahu dia pernah bercinta dengan Rendal tentu akan memanfaatkan hal tersebut.   ********   Malam harinya Greisy mencari Rendal lagi di club malam tersebut. Greisy melihat Rendal sedang bersama dua wanita cantik dan sexy. Greisy menjadi kesal, pria itu memang terkenal seorang play boy. Banyak sekali wanita yang berbaris untuk bersama Rendal. Greisy membalikan badannya, dia benci keadaan ini.   "Semua pria sama saja, b******k!!." Ujar Greisy dengan marah lalu dia akan meninggalkan club malam mewah tersebut.   Rendal melihat Greisy dan menyapanya.   "Hai Greisy... kita berjumpa lagi," Sapa Rendal sambil menyentuh wajah Greisy. "Lepaskan tanganmu dari wajahku," ujar Greisy dengan marah. "Kamu kenapa? Kamu marah padaku?" tanya Rendal. "Aku?? Marah padamu??" Greisy berbohong menutupi rasa kesalnya. "Kamu cemburu Luna??" tanya Rendal lagi. "Aku cemburu?? Memangnya kamu siapa aku? Sampai aku harus cemburu padamu" ujar Greisy lalu meninggalkan Rendal. "Luna..."   Greisy kaget dari mana dia tahu nama pena nya Luna tapi dia tetap melangkahkan kakinya pergi, pergi dari club malam mewah itu. Greisy kecewa, dia salah berharap lebih pada Rendal.   "Please... Luna jangan pergi"   Langkah Greisy terhenti, Rendal memintanya jangan pergi. Apa dia tak salah dengar. Rendal memeluk Greisy dari belakang,   "Aku tau kamu mencariku," "Aku tau kamu menungguku berjam jam," "Dan asal kamu tau, aku ada didekatmu. Memperhatikanmu dari jauh Luna."   Greisy tak percaya, Rendal mengetahui kalau dia menggunggu pria itu.   "Apa maksudmu?" tanya Greisy "Aku hanya ingin memastikan, apa kau memang menantikanku setelah semua yang terjadi pada kita" "Aku... aku..."   Rendal mencium bibir Greisy dengan mesra, Greisy membalas ciuman Rendal. Lidah mereka saling beradu, saling melumat mesra. Menumpahkan segala kerinduan yang baru beberapa hari mereka tak bertemu.   Rendal melepaskan ciuman mereka.   "Aku merindukanmu Luna dan aku ingin berada di dalammu," "Aku juga merindukanmu Rendal dan ingin kamu selalu berada di dalamku,"   Rendal merangkul Greisy... "Kita ke apartementku..."   Rendal dan Greisy berada di dalam apartement mewah. Greisy hanya bersikap biasa, dia sudah biasa dengan hal kemewahan. Sebelum Rico membeli rumah, Greisy dan Rico tinggal disalah satu apartement mewah. Dulu Rico sering memanjakannya dengan segala kemewahan untuk menebus dan menutupi ketidak perkasaannya.   "Sudah berapa wanita yang kamu ajak kesini," "Ada beberapa wanita."   Wajah Greisy berubah, seharusnya dia tau diri. Siapa sih dia bagi Rendal, tak mungkin hanya dia yang pernah disini bersama Rendal.   "Jangan berubah begitu dong wajahnya. Jangan salah paham dulu. Tante Diana, oma dulu sering kesini," "Hahaha siapa juga yang salah paham. Wajar saja jika seorang Rendal Miller sering mengajak wanita lain kesini," "Tidak semua wanita. Hanya kamu yang pernah kesini selain tante Diana dan oma ku, Luna"   Greisy tersenyum. Dia merasa tersanjung dengan apa yang dikatakan Rendal. Hanya dia wanita yang pernah ke apartement Rendal. Betapa beruntungnya dia.   "Mau kah kamu jadi kekasihku Luna?" "Maaf. Aku dan kamu tidak begitu saling kenal," "Apa semua yang telah kita lakukan, belum cukup untuk kita saling mengenal,"   Greisy tak membalas ucapan Rendal. Greisy mendekati Rendal, menyentuh wajah Rendal. Greisy melumat bibir Rendal dengan mesra... Tubuh Greisy menjadi bagian yang sangat disukai Rendal, dia sangat menikmati bercinta dengan Greisy. Daerah keintiman Greisy begitu menghisap kuat junior nya.   Malam ini menjadi malam panas lagi untuk Rendal dan Greisy.   ***********   Paginya Rendal terbangun, dia melihat Greisy. Wanita cantik dan sexy ini tidak pergi lagi, Rendal khawatir  Greisy sudah tak ada lagi dipagi hari saat dia terbangun.  Greisy bangun dengan perasaan yang bahagia. Mengulang lagi percintaan panasnya dengan Rendal, membuat dia makin bersemangat. Greisy merasa lapar, dia keluar dari kamar Rendal.   "Kamu sudah bangun sayang...,"  "Sudah... aku lapar," "Kita pesan makanan," "Tidak usah. Aku akan memasak untukmu."   Rendal memperhatikan Greisy dengan cekatan memasak. Greisy hanya memasak makanan seadanya, isi kulkas Rendal tak banyak.   "Maaf jika tak enak, aku hanya memasak dengan bahan makanan seadaanya,"   Rendal makan dengan lahap apa yang dimasak Greisy tidak mengeluh apapun. Berbeda dengan Rico yang selalu mengomentari apa yang Greisy masak. Kurang ini, kurang itu, tak enak, masakan ibuku lebih enak dan semua hinaan lain dengan apa yang Greisy masak. Semenjak itu Greisy tak pernah lagi masak untuk Rico.   "Bagaimana puas ga tadi malam?" tanya Rendal.   Wajah Greisy memerah, Rendal menanyakan hal yang sensitif itu membuatnya malu.   "Aku suka wajahmu yang memerah itu sayang... aku hanya ingin memastikan kamu puas atau ga. Jika ingin lagi milikku selalu siap untuk memuaskanmu, saat kamu berteriak memanggil namaku membuatku makin semangat untuk memuaskanmu sayang," "Rendal jangan menggodaku terus," ujar Greisy malu-malu. "Aku minta nomor ponselmu, aku tidak ingin kita putus komunikasi, aku menyukaimu Greisy. Pertimbangkanlah untuk menjadi kekasihku."   Greisy salah tingkah, dia memberikan nomor ponselnya pada Rendal. Rendal memang paling mengerti dimana letak kelemahannya. Membuat dia mendesah keenakan dan tak karuan. Rendal mengangkat tubuh Greisy ke atas meja dapur, membelai, menciumi tubuh Greisy Pagi itu terulang kembali...  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN