part 9. rencana mematikan

1778 Kata
Sarah lari tunggang langgang ke kamarnya dengan wajah sepucat kapas. Ia butuh menghubungi Latif, butuh memastikan bahwa ancaman audit itu hanya gertakan sambal. Namun, di ruang tengah, suasana justru mendingin dengan cara yang berbeda. Kaizan masih berdiri di tempat yang sama, menatap pintu yang dibanting Sarah. Ia kemudian menoleh ke arah Yasmin yang masih memegang nampan kosong dengan wajah yang begitu tenang, seolah ia baru saja memberikan laporan cuaca, bukan bom waktu. "Audit itu ... kamu tahu sesuatu?" tanya Kaizan, suaranya kini melunak, kehilangan nada otoriter yang tadi ia gunakan pada Sarah. Yasmin mendekat, meletakkan nampannya di atas meja kopi. "Saya hanya tidak sengaja melihat beberapa kejanggalan di laporan logistik saat Tuan tertidur di perpustakaan semalam. Angka-angkanya tidak sinkron dengan invoice vendor. Saya rasa Pak Latif terlalu percaya diri sampai ia lupa menghapus jejak digitalnya." Kaizan tertegun. Ia menatap Yasmin lama, seolah baru menyadari bahwa wanita di hadapannya ini bukan sekadar pelarian fisik, tapi juga otak yang sangat brilian. "Kamu baru saja menyelamatkanku dari pemerasan dua puluh miliar, Yasmin." "Saya hanya tidak suka melihat Tuan ditekan oleh orang yang tidak selevel dengan Anda," sahut Yasmin. Kaizan melangkah mendekat, lalu meraih tangan Yasmin. "Ikut aku.” Kaizan menuntun Yasmin menuju ruang kerjanya yang luas di lantai atas, namun bukan ke perpustakaan tadi sore, melainkan ke sebuah brankas kayu besar di sudut ruangan. Kaizan membukanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil. "Ini bukan gaji. Ini bukan pula upah sebagai ART," ujar Kaizan sembari menyerahkan kotak itu. Yasmin membukanya. Di dalamnya melingkar sebuah jam tangan pintar edisi terbaru dengan spesifikasi paling tinggi, lengkap dengan berbagai fitur enkripsi data dan sebuah kartu akses berwarna perak. "Jam itu untuk membantumu mengerjakan tesis, ia bisa terhubung langsung dengan server perpustakaan kantorku secara rahasia.” Kaizan menatap mata Yasmin dalam-dalam. “Ini—” "Itu akses ke sebuah apartemen di distrik pusat. Milik pribadiku, atas nama perusahaan cangkang yang tidak diketahui Sarah maupun pengacaranya." Yasmin terpaku. Ini bukan sekadar perhiasan atau uang tunai. Ini adalah fasilitas "Kenapa, Tuan?" "Karena aku ingin kamu punya tempat yang layak untuk belajar dan tempat di mana kita bisa bicara tanpa perlu mengkhawatirkan pintu yang diketuk Sarah," bisik Kaizan sembari mengusap pipi Yasmin. Kaizan menarik Yasmin ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh rasa hormat yang bercampur dengan keinginan yang kuat. "Mulai besok, kamu tidak perlu lagi mencuci pakaianku atau membersihkan lantai. Aku akan bilang pada Nur bahwa tugasmu fokus mengurus Rafka dan membantuku dengan urusan administrasi pribadi." Yasmin tersenyum di d**a Kaizan. Rencananya berjalan lebih cepat dari yang ia duga. Ia tidak hanya mendapatkan ranjang Kaizan, tapi kini ia mendapatkan kepercayaan dan otoritas. "Terima kasih, Tuan," bisik Yasmin. “Kenapa kamu berterima kasih kepadaku?” “Tidak apa-apa, saya hanya merasa nggak pantas.” “Kamu pantas, kamu bukan orang sembarangan,” kata Kaizan. Namun, di tengah momen manis itu, Yasmin membatin. ‘Satu per satu miliknya menjadi milikku. Dan saat Sarah benar-benar jatuh, dia akan melihatku duduk di tempat yang paling ia banggakan.’ Bagi, Yasmin ini lah harga yang harus Sarah bayar setelah ia dan ibunya menghancurkan keluarganya, menghancurkan hubungan harmonis ayahnya dan ibunya, dan Sarah juga ibunya menyiksanya hingga usianya 14 tahun. Setelah ibunya meninggal, Yasmin memilih meninggalkan rumah itu karena tak sanggup dengan siksaan yang diberikan Sarah dan ibunya kepadanya, kehancuran yang ia terima, dan penganiaayaan yang ia terima, harus dibayar Sarah. Tujuannya bukan untuk menikmati setiap fasilitas ini, tapi ia ingin membuat Sarah membayar harga mahal setelah perbuatannya dengan ibunya. Yasmin juga akan membongkar pembunuhan yang Sarah dan ibunya lakukan pada ibunya Yasmin. Walau Sarah dan ibunya mengatakan bahwa ibunya Yasmin meninggal karena jatuh dari tangga. *** Keesokan paginya, Sarah turun dengan mata sembab. Ia gagal menghubungi Latif semalaman. Saat sampai di ruang makan, ia melihat Yasmin tidak lagi mengenakan seragam ART-nya yang biasa. Yasmin mengenakan kemeja formal yang sopan dan celana kain yang elegan, duduk di sofa ruang tengah sambil membacakan buku untuk Rafka. "Kenapa dia tidak menyiapkan sarapan?!" teriak Sarah pada Nur yang sibuk sendirian di dapur. Nur tampak gemetar. "Anu, Nyonya ... Tuan bilang mulai hari ini Yasmin fokus mendampingi Rafka dan membantu urusan dokumen Tuan. Jadi urusan dapur semua diserahkan ke saya." Sarah mematung. Ia menoleh ke arah Kaizan yang baru saja keluar dari ruang kerja. "Apa-apaan ini, Kai? Kamu mempromosikan pembantu?!" Kaizan memperbaiki letak dasinya, wajahnya tampak sangat segar dan penuh kemenangan. "Dia bukan pembantu biasa, Sarah. Dia asisten pribadiku sekarang. Dan jika kamu punya masalah dengan itu, silakan tanda tangani surat cerai tanpa menuntut dua puluh miliar, maka kamu tidak perlu lagi melihat wajahnya." Sarah berteriak histeris, melempar vas bunga ke lantai. Namun Kaizan bahkan tidak berkedip. Kaizan melangkah menuju Yasmin, mengacak rambut Rafka, dan memberikan senyuman penuh arti pada Yasmin di depan mata Sarah yang terbakar api cemburu. *** Apartemen itu terletak di puncak menara kaca yang menjulang tinggi, menghadap ke kerlap-kerlip lampu kota yang tak pernah tidur. Jauh dari kebisingan rumah utama yang penuh dengan pengkhianatan Sarah, tempat ini terasa seperti dimensi lain. Bau kayu cendana dan kulit mewah mendominasi ruangan. Tak ada foto keluarga, tak ada jejak Rafka dan yang paling penting, tak ada satu pun barang milik Sarah di sini. Yasmin berdiri di tengah ruang tamu yang luas, jemarinya meraba permukaan meja marmer yang dingin. Ia masih mengenakan pakaian formal yang diberikan Kaizan pagi tadi. Di pergelangan tangannya, jam tangan pemberian Kaizan berkilau, memantulkan cahaya kota. Suara pintu terbuka membuat Yasmin menoleh. Kaizan masuk, melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sofa dengan gerakan yang sangat lepas. Kaizan tidak terlihat seperti CEO Saverio Group, di sini ia hanya seorang pria yang ingin pulang pada sesuatu yang nyata. "Kamu suka tempatnya?" tanya Kaizan, melangkah mendekati Yasmin. "Ini terlalu indah untuk seseorang yang biasanya tidur di kamar sempit di dekat dapur, Tuan," bisik Yasmin, suaranya bergetar antara haru dan akting yang sangat rapi. Kaizan berdiri di belakang Yasmin, melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita itu. Kaizan membenamkan wajahnya di leher Yasmin, menghirup dalam-dalam aroma parfum yang kini jauh lebih mahal, namun tetap memiliki sentuhan manis yang ia gilai. "Di sini, kamu bukan ART. Di sini, kamu adalah pemiliknya," bisik Kaizan. “Terima kasih, Tuan,” ujar Yasmin. "Aku ingin kamu menyelesaikan tesis mu di sini. Tanpa teriakan Sarah, tanpa rasa takut diinjak-injak." Yasmin berbalik dalam dekapan Kaizan, menatap mata pria itu yang kini dipenuhi pemujaan. "Kenapa Tuan melakukan semua ini? Tuan bisa saja memberi saya uang dan menyuruh saya pergi agar hidup Tuan tenang." Kaizan terkekeh hambar, ia menyentuh bibir Yasmin dengan ibu jarinya. "Karena uang tidak bisa membeli cara kamu menatapku saat kita berdiskusi soal hukum bisnis. Karena uang tidak bisa memberikan desahan yang aku dengar malam itu. Aku butuh otakmu, Yasmin, dan aku butuh tubuhmu untuk membuatku lupa betapa hancurnya pernikahanku." Malam itu, diskusi mereka bukan lagi soal tesis. Ketegangan yang sengaja ditunda sejak di perpustakaan rumah kini meledak tanpa ampun. Kaizan mengangkat Yasmin ke atas konter marmer di dapur, tempat yang dingin namun segera memanas karena sentuhan mereka. "Ajari aku, Yasmin," desis Kaizan di sela ciumannya yang menuntut. “Hm?” "Ajari aku bagaimana rasanya dicintai tanpa ada embel-embel harta di belakangnya." Yasmin tersenyum di tengah gairahnya. Ia tahu, saat ini Kaizan sudah sepenuhnya berada dalam genggamannya. Kaizan merasa Yasmin adalah wanita tulus yang berjuang untuk pendidikannya, sementara Sarah adalah lintah yang hanya ingin 20 miliar. Padahal, Yasmin sedang memainkan bidak catur yang jauh lebih besar. Setiap sentuhan Kaizan malam itu terasa seperti kemenangan bagi Yasmin. Di atas ranjang king size yang menghadap ke langit malam, Yasmin membiarkan Kaizan menguasainya, memberikan segala kenikmatan yang selama ini tidak didapatkan pria itu dari Sarah yang egois. Sementara Kaizan dan Yasmin tenggelam dalam gairah di apartemen rahasia, Sarah duduk meringkuk di lantai kamarnya. Ruangan itu berantakan, vas bunga pecah, baju-baju berserakan. Ia terus mencoba menghubungi Latif, namun hanya suara operator yang menyambutnya. "Sialan! Kenapa kamu menghilang saat aku butuh, Latif?!" teriak Sarah frustrasi. Pikiran Sarah mulai liar. Audit internal yang dikatakan Yasmin bukan main-main. Jika Latif tertangkap, maka akses keuangan Sarah akan benar-benar mati. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar, wajah yang cantik namun kini terlihat menyedihkan karena ketakutan. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu, yaitu Apartemen. Dulu, ia pernah mendengar Kaizan bicara di telepon soal sebuah unit di The Grand Pinnacle. Saat itu Kaizan bilang itu untuk tamu kantor, tapi Sarah tidak pernah melihat tamu kantor yang menginap di sana. "Kamu pikir aku bodoh, Kai? Kamu membawa jalang itu ke sana, kan?" desis Sarah, matanya berkilat penuh dendam Sarah bangkit, ia menghapus air matanya. Jika ia tidak bisa mendapatkan 20 miliar dengan cara halus, maka ia akan menggunakan cara yang paling kotor. Sarah akan menggerebek mereka. Ia akan membawa wartawan atau setidaknya pengacara paling berpengaruh, untuk melihat bagaimana suami teladan itu berselingkuh dengan asisten rumah tangganya di apartemen mewah. "Aku akan buat kamu berlutut dan memohon padaku agar skandal ini tidak tersebar, Kaizan Saverio," ujar Sarah sembari menyambar kunci mobilnya. Suasana setelah badai gairah itu terasa begitu tenang. Yasmin berbaring di d**a bidang Kaizan, jari-jarinya menggambar pola abstrak di kulit pria itu. Mereka tak mengenakan apa pun, tubuh mereka terlihat jelas. “Kamu menggesekku, membuatku berdiri lagi,” geleng Kaizan. “Saya selalu bisa membuat Tuan puas, ‘kan?” “Ya. Kamu memang selalu membuatku puas, karena itu aku selalu merindukan gerakanmu.” "Tuan," panggil Yasmin lembut "Hmm?" "Jika suatu saat Nyonya Sarah tahu tentang tempat ini. Apa yang akan Tuan lakukan?” Kaizan mengelus rambut Yasmin, mencium puncak kepalanya. "Aku sudah menyiapkan semuanya. Surat cerai itu sudah ada di tangan pengacaraku. Begitu dia melangkah terlalu jauh, aku akan melepaskan bukti penggelapan dana Latif ke polisi. Dia tidak akan punya kekuatan untuk melawanku." Yasmin terdiam. Ia merasa sedikit bangga pada pria ini, namun di sisi lain, ia tahu ia harus tetap waspada. "Aku hanya takut dia menyakitimu, Yas. Dia wanita yang nekat kalau sudah urusan uang." "Saya tidak takut padanya, Tuan. Saya hanya takut kehilangan saat-saat tenang seperti ini bersama Tuan," dusta Yasmin dengan sempurna. Tiba-tiba, jam tangan pintar di pergelangan tangan Yasmin bergetar. Sebuah notifikasi dari sistem keamanan rumah utama yang ia retas muncul di layar kecil itu. [Target: Sarah. Status: Meninggalkan rumah. Lokasi: Menuju distrik pusat.] Yasmin menyeringai dalam kegelapan. Sarah sedang menuju ke sini. Persis seperti yang Yasmin rencanakan. Yasmin sengaja meninggalkan jejak GPS apartemen ini di komputer ruang kerja Kaizan yang ia tahu akan diperiksa Sarah dalam kepanikannya. "Ada apa, Yas?" tanya Kaizan menyadari perubahan sikap Yasmin. "Tidak ada, Tuan. Saya hanya merasa malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang." Yasmin merapatkan pelukannya. Ia ingin saat Sarah mendobrak pintu nanti, Sarah melihat pemandangan yang paling menghancurkan hatinya, suaminya yang terhormat, di atas ranjang bersama wanita yang ia panggil pembantu, di tempat yang seharusnya menjadi rahasia suci mereka. Permainan berakhir malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN