Episode 19 Failure

2169 Kata
Di rumahnya Faza sibuk berlarian mengitari seluruh isi rumah. Tangannya sudah penuh oleh kardus berisi macam-macam barang aneh. Di belakangnya Izzy dan Zaza tak luput menjadi korban perbudakannya. Bahkan Fisha yang tadinya asyik menyantap sarapan pagi harus terkena semburan sang kakak dan terlibat lari-lari pagi di dalam rumah. Faza bilang, sekali-kali olahraga di dalam rumah biar sehat. Jangan lari-lari kalau cuma di mall saja demi barang-barang berdiskon. Dan gara-gara diceramahi seperti itu, akhirnya Fisha manut-manut saja. Fisha mendengus merasa sangat tertipu oleh perkataan Faza. Sekarang dia sibuk membongkar–bongkar laci rumah untuk mencari palu. Tadi papanya juga sudah rusuh mencari tali tambang dan raket. Entah apa yang akan Faza perbuat dengan benda-benda itu. "Pa, cariin tongkat baseball, Pa! Please... Please!" Faza berteriak-teriak dari kejauhan. Izzy yang tadinya sedang asyik menggotong setumpuk jaket dan selimut langsung kaget. Tumpukan barang itu jatuh begitu saja. Izzy tak peduli dan langsung berbalik mencari benda yang dibutuhkan Faza. Zaza juga sibuk dengan macam-macam topi memilah-milah mana yang bagus untuk dipakai anaknya berliburan. Dari kejauhan Azel dan Eza hanya bisa berdecak melihat tingkah anak mami satu itu. Paling tua, sih. Tapi kelakuan anak mami abis. Siapa lagi kalau bukan Rafanza Atthar Razakian. "Fa mau yang merah, biru, atau yang jeans?" Zaza menjajalkan satu per satu topi di atas kepala Faza. Faza sendiri tak begitu peduli dan terus mengunyah potongan roti selai dengan tergesa-gesa. "Yang jeans, Ma." "Bang, lo minta cupcake yang mana?" Fisha berlari tergopoh-gopoh. Dua tangannya membawa boks cupcake dari kafe. "Lo minta oreo atau cream cheese?" Faza mendesis. "Lah, gue kan suruh lo cari palu. Bukan cupcake!" "Ya ampun, gue lupa!" Fisha menepuk jidatnya. Secara paksa disodorkannya boks di tangan pada Faza. "Ya udah bawa aja, sih. Bentar gue cari palu dulu." "Ye, lama banget sih lo!" sembur Faza dengan mulut penuh roti. Matanya berputar cepat dan menemukan Azel beserta Eza hanya terdiam seperti patung di sudut pintu. "Lo berdua jangan diem aja! Sini lo! Bawa barang-barang gue ke dalam mobil!" Azel dan Eza terkaget. Buru-buru mengangkut tiga buah kardus yang disegel dengan rapi. Entah apa isinya, yang jelas Azel sudah mulai curiga. Tahu bahwa sepupunya itu sudah merancang hal-hal gila lainnya. "Ayo buruan!" Faza kembali menjerit. "Ma, Fa, pergi dulu ya!" "Loh, loh, tunggu dulu!" Zaza berlarian sambil merapikan selimut dan jaket. "Bawa semuanya buat persediaan di Bandung, Fa. Nanti kamu bisa kedinginan." Faza hanya mengangguk-angguk tak jelas. Izzy muncul dengan nafas ngos-ngosan. Dua tangannya tampak membawa peralatan baseball, raket, dan sarung tinju. Azel mengernyit bingung. Begitu juga dengan Eza. Keduanya berpandangan aneh. "Kita jauh-jauh ke Bandung cuma mau main badminton sama kasti?" Azel bertanya hopeless. Eza melirik Faza jijik. "Kalau mau main gituan di kompleks depan juga bisa kali, Fa." Faza menatap Eza dan Azel dengan kobar membara. "Lo berdua jangan sembarangan ngomong, ya! Ini bakal jadi permainan kasti dan badminton yang paling berkesan. Karena apa? Karena kita bakal main kastinya di kebun teh. Kalau perlu di pucuk gunung." Jika tadi Eza dan Azel keheranan. Kali ini keduanya langsung shock. What? Apa katanya tadi? Main kasti dan badminton di kebun teh? Gila saja. Bisa-bisa mereka malah dibabat habis sama penduduk daerah Bandung. "Hussh.... udah sana kalian segera berangkat! Keburu siang nanti macet." Izzy bertukas serius. Zaza mengangguk sembari memasangkan kacamata hitam pada Faza. "Kalau gini kan Fa makin ganteng. Sekalian biar dapet cewek cantik di sana." Sontak Eza menahan tawa melihat kenorakan di wajah Faza. Apalagi saat kacamata itu tiba-tiba melorot di hidung peseknya. "Ya ampun, kacamata kegedaan gitu dipasangin, Tan. Kasihan yang lihat kali." "Eh, diem lo, Ngil! Diem! Bilang aja lo iri sekarang gue lebih ganteng daripada lo!" "Udah, udah, sana buruan berangkat!" Izzy menengahi. "Kapan sih kalian berdua ini anteng? Dari jaman kecil selalu aja kalian biang rusuh. Sekali-kali contoh Acel." Di belakang sana Azel tertawa penuh kemenangan. Sementara Faza dan Eza saling mencibir. Begitu ketiganya sampai di garasi, tampaklah mobil Izzy yang kini sudah penuh oleh barang-barang tak penting. Eza menatap Faza bergantian dengan tumpukan tiga kardus. Gila. Mau ditaruh mana kardus-kardus ini? Ditumpuk begitu saja ke dalam? Sampai-sampai mobil ini kelebihan muatan. Tidak lucu kalau sampai di jalan nanti mereka ditangkap polisi gara-gara membawa kardus-kardus mencurigakan! "Lo berdua kok diem aja, sih?! Masukin dong!" Faza kembali dengan aksi membabu orang-orang. Sekarang dengan gaya boss dia duduk di kursi kemudi sambil membenarkan letak kacamata. Azel dan Eza berdecak melihat tingkahnya. Mauren dan Finza muncul dari kejauhan. Mauren cukup dengan hanya sebuah tas ransel di punggung. Sementara Finza jangan ditanya. Dia sudah muncul bergaya andalan bak princess. Dengan syal bulu berwarna pink melingkar di lehernya, kacamata hitam tak kalah berkilauan dengan milik Faza, ditambah satu buah koper besar berwarna pink norak. Azel melotot melihat Finza yang melenggang cantik sambil menyeret kopernya mendekat. "Lo mau fashion show atau liburan, sih?" Finza membuka kacamatanya dan mengedip sekilas. "Oh, tentu aja dua-duanya. Gue nggak bisa menyia-nyiakan waktu liburan cuma dengan bermesraan sama alam. Ewww..." Azel hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan tingkah sepupunya satu itu. Suara teriakan Faza kembali terdengar. Kini dia sibuk meneriaki orang-orang supaya segera keluar. Karena dia mau mengeluarkan mobil dari garasi. Eza hanya mendengus kesal dengan tingkah Faza. Sampai akhirnya suara nyaring milik Faza kembali terdengar dua kali lipat lebih dahsyat. Eza melotot saat menyadari Faza sudah berkoar-koar di balik toa berwarna putih. Astaga! Sepupunya ini mau membuat mereka semua budeg atau bagaimana sih? "Ayo semua masuk ke dalam mobil, karena kita akan berangkat lima menit lagi." Faza masih berteriak dengan toa menggantung di lehernya. "Astaga Fa, lo nggak perlu ngumumin pake toa segala Ntar dikira orang lo ngumumin orang meninggal." Azel seperti biasa mengeluarkan kata-kata pedasnya. Faza menurunkan toanya. Dia memasang wajah serba salah dan berganti wajah bloon dengan secepat kilat. "Gue kan cuma memeriahkan acara liburan kita. Emang salah, Cel?" "Ya nggak salah, sih. Tapi nggak usah teriak-teriak kan bisa, Fa?" Faza hanya mencebikkan bibir. Kembali pada aksi berkoar-koarnya. Eza dan Azel sudah mengutuk ulah berisik Faza itu. Tapi tidak dipedulikannya. Faza kembali berteriak-teriak. Kali ini menyeret-nyeret Finza dan Mauren untuk segera masuk ke dalam mobil. Sekarang anak-anak Champ sudah dalam formasi tempat duduk masing-masing saat Finza sadar suatu hal. Divia tidak ada di sampingnya. Tanpa sadar Finza menjerit kencang. Mauren dan Azel yang berada di jok paling belakang mendongak. Begitu pula dengan Faza dan Eza. "Apaan lagi?" Eza mematikan mesin mobil. Raut wajahnya masih jengkel karena tadi dengan semena-mena Faza memaksanya menjadi sopir. Sementara bocah itu malah enak-enak duduk di samping dengan setoples potato. "Why?" Faza mengangkat sebelah alis sambil mengunyah potato-nya. "Divi belum dateng! Lo semua gimana, sih?!" jerit Finza jengkel. Faza membelalak. Segera tersadar. Dia menepuk jidat frustasi. "Oh my, gue lupa. Sorry, saking semangatnya gue jadi lupa sama Divi." "Coba lo telpon Divi, Fa. Hape gue baru gue charge," usul Mauren. Eza menyahut dongkol. "Alah, bilang aja lo nggak mau pulsa lo abis. Dasar nenek sihir pelit!" "Diem lo!" sungut Mauren kesal. Azel berdeham. Sempat-sempatnya dua musuh itu bertengkar di saat sahabat mereka entah berada di mana. "Udah, Fa, buruan lo telpon Divi." Faza mengangguk. Tak mempedulikan raut dongkol Eza yang seperti tengah menggerutu tentang apa. Sekarang dia turun dari mobil bermaksud menelpon Divia. Baru bersiap mengetik nomor ponsel Divia yang sudah dia hafal di luar kepala, sosok yang mereka tunggu itu akhirnya muncul juga. "Akhirnya lo dateng, Div. Udah dari se-abad kita nungguin lo." Faza menghembuskan nafas lega. Detik selanjutnya dia mengernyit mendapati Divia yang seperti tak membawa apapun dan hanya membawa tas selempang mini. "Loh, tas lo ketinggalan di rumah? Apa keberaten bawanya? Sini biar gue bantu. Kita ambil ke rumah lo." Faza bersiap pergi. Berbalik dan meminta izin pada Eza. "Ja, gue mau nemenin Divi pulang dulu. Kayaknya tas Divi keting—" "Fa!" Divia menyentak Faza dan meraih lengannya. Membuat Faza menoleh heran dengan kening berkerutan. "Tas gue nggak ketinggalan, kok." "Terus?" Faza mencoba menebak. "Oh, mau disusulin Om Fathur, ya?" "Bu—Bukan." Faza terdiam menunggu penjelasan dari Divia. "Jadi?" "Gue..." Divia mengambil nafas sejenak. "Gue nggak bisa ikut ke Ciwidey, Fa. Maaf banget. Ada sesuatu yang nggak bisa gue tinggalin." Hening. Faza terdiam membeku. Berusaha mencerna baik-baik setiap perkataan yang mengalir dari mulut Divia. Detik berikutnya dia tersadar dengan kedipan mata bingung. "Maksud lo apa ngomong begitu?" tanyanya hampa. "Gue harus datang ke sebuah acara." Divia menggigit bibir pelan-pelan menunggu reaksi selanjutnya dari Faza. Dan benar saja sekarang cowok itu mengepalkan tangan kuat-kuat sambil menggeram. Baru pertama kali ini tatapan Faza padanya menajam seperti pedang. "Oh... Jadi lo lebih milih acara itu daripada kita? Div, gue nggak nyangka yo lo bakal dengan seenaknya batalin acara kita kayak gini. Sumpah, lo tega banget." "Fa, bukannya gitu. Gue cuma nggak bisa ikut. Tapi, bukan berarti kalian juga harus batalin liburan ini. Kalian harus pergi dengan ataupun tanpa gue." Faza memukul tembok di sampingnya frustasi. "Sedangkal itu lo mikir tentang persahabatan kita. Gila. Gue nggak nyangka. For your informatin, Div. Gue marah banget. Dan gue kecewa sama lo. Tapi its okay, kalau lo nggak ikut, kita semua juga nggak ada yang pergi." "Fa, nggak bisa gitu—" Divia menarik lengan Faza dan langsung ditepis. "Kalian harus pergi!" "Nggak ada yang bakal pergi! Sebelum kita semua lengkap, nggak ada yang boleh pergi!" Faza menahan nafas dan memejamkan mata. "Udah, Div. Udah. Lo boleh ngapain aja terserah lo. Lo juga boleh pergi sama siapapun. Termasuk Raymond. Terserah. Gue nggak peduli." Faza menatap Divia sambil menggertak menahan amarah. Tak perlu waktu lama sampai akhirnya Faza berbalik dan membanting pintu mobil mengeluarkan tasnya yang segede gaban. Eza yang terkantuk di dalam mobil langsung melotot kaget dengan ulah Faza. Begitu juga dengan Azel, Finza, dan Mauren yang tersentak dari aktifitas masing-masing. Eza berlarian menyusul. "Ada apaan, nih? Kok lo ngeluarin ransel lo segala?" Faza mendengus sambil membanting ranselnya begitu saja ke pekarangan rumah. "Liburan kita batal!" "What?" Finza berlarian dan menjerit tak terima. "Kok, bisa? Lah, kita udah janjian dari kapan tahun. Dan sekarang kita nggak jadi? Ya ampun, tahu gitu gue tadi ke salon aja." Azel menyedekapkan tangan bingung. Matanya berputar menatap Divia dan Faza dengan pandangan menyelidik. "Please, gue nggak ngerti apa yang terjadi. Kenapa mendadak jadi batal gini, sih? Sebenernya ada apa?" "Tanya aja sama dia." Faza menuding Divia. Setelah mengucapkan itu Faza berbalik dan melangkah memasuki rumah. Tak mempedulikan mama dan papanya yang menatap bingung sekaligus heran. Lalu yang terjadi selanjutnya terdengar bantingan pintu yang menyakitkan telinga. Di halaman tinggalah Eza yang melongo menatap kejadian itu. Azel yang berdecak sambil menggelengkan kepala tak habis pikir. Finza yang memelintir rambut kesal. Mauren yang hanya bisa menghembuskan nafas pasrah, mencoba sabar meski dalam hatinya memaki liburan ini. Sementara Divia sendiri hanya bisa menunduk sambil menggigit bibir. "Div, lo pasti bikin ulah lag sampe Fa bad mood gitu." Suara Eza menyentak keterdiaman mereka. Divia menggigit bibir sambil menahan isakannya yang tiba-tiba keluar. "Maaf," lirihnya. "Hah, tahu gitu gue nggak nolak ajakan kencannya Marsella." Eza memanyunkan bibir. Finza mengangguk. "Iya, harusnya gue juga sekarang ikut Mama creambath di salon. Daripada ikut liburan yang ending­-nya nggak jelas gini." "Yeah, balik yuk, Cha. Kayaknya gue mau terima ajakan kencan Marsella. Kali-kali aja dia masih mau diajak jalan." Eza merangkul bahu Finza dan menyeretnya pergi. Sambil tak lupa mengangkut ransel masing-masing. "Gue sama Incha duluan ya semua." "Hm..." Azel menggumam lirih. Mauren tak menanggapi dan malah melotot menatap si kembar yang tidak tahu diri itu. Bukannya menghibur Divia dan malah seenaknya pergi. "Apa lo lihat-lihat? Suka lo sama gue?" Eza menatap sinis Mauren sebelum benar-benar mengeluarkan motor dari garasi rumah Faza. Finza menepuk bahu Divia pelan-pelan. "Gue balik ya, Div. Kalau ada apa-apa chat gue." Sepersekian menit kemudian duo kembar itu menghilang. Tinggalah Azel dan Mauren yang masih setia berdiri di samping Divia. Mauren menpuk pelan bahu Divia yang disambut Divia dengan pelukan hangat. Lama-kelamaan terdengar isak tangis dari mulut Divia. Azel yang melihat dua sahabat ceweknya tengah berpelukan langsung menghibur. Yah, meskipun hanya mengelus punggung Divia dengan hangat. "Lo kenapa, Div?" tanya Azel penuh kekhawatiran. Divia menggeleng sambil terisak. Berusaha memaksakan seulas senyum. "Im fine, Cel." Azel mengedarkan pandangannya pada Mauren. Seakan mengerti kode yang dikirim Azel, Mauren mengangguk. Kemudian Azel menepuk-nepuk pundak Divia dengan tenang. "Div, gue juga pulang dulu, ya. Lo tenangin pikiran lo dulu setelah ini. Kalau butuh tempat cerita bisa ke gue sama Aren." Mauren mengangguk. "Iya, jangan disimpen sendiri, Div." Azel menghembuskan nafas panjang menyetujui perkataan Mauren. Perlahan meninggalkan dua cewek itu. Mungkin dengan Mauren Divia akan lebih terbuka. Akhirnya dengan berat hati Azel mengeluarkan motornya dari balik garasi. Suara motornya terdengar tak lama kemudian. Saat itulah isakan Divia mengencang. Secepat kilat dipeluknya Mauren kuat-kuat dan membenamkan tangis di sana. "Lo sayang sama Fa, Div." Mauren berusaha menebak. "Iya, Ren. Iya. Gue sayang banget sama dia. Dan sekarang gue nggak tahu mesti gimana." Mauren mengelus rambut panjang Divia perlahan. "Pasti gara-gara lukisan itu?" Divia mengangguk dan kembali menangis. "Gue lolos seleksi, Ren. Hari ini tahap akhir." Mauren tersenyum penuh arti. "Apapun keputusan lo. Gue yakin Fa pasti dukung lo." "Makasih, Ren. Makasih." Divia kembali sesenggukan. Perlahan memeluk erat Mauren. "Cuma lo yang nggak pernah mojokin gue. Cuma lo, Ren." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN