Materi ujian selanjutnya adalah lari marathon. Oh, Divia paling menyukai materi satu ini. Tubuhnya paling ringan dan langkahnya gesit. Apalagi kecepatan larinya yang sudah bisa dikatakan di atas rata-rata. Divia yakin, kali ini dia akan memenangkan materi ini. Mauren yang baru meminum air mineralnya melirik Divia. "Divi lo nggak apa-apa? Tadi kayaknya lo jatuh pas badminton." "Iya, nggak apa-apa kok, Ren." Divia melompat-lompat untuk membuktikan bahwa dia tidak apa-apa. Tapi detik kemudian dia merasakan nyeri pada kaki kanannya. Divia meringis sejenak lalu mengangkat celana olahraganya. Dia baru ingat di sini ada bekas luka serempetannya dengan motor Raymond dulu. Ya ampun, kenapa bagian kakinya ini mendadak terasa nyeri setelah terpeleset tadi. Mauren menarik lengan Divia. "Beneran ng

