Keesokan harinya Eza benar-benar mengikuti petunjuk dari Ello. Siang hari yang panas sepulang sekolah dilaluinya dan Faza untuk berburu kucing anggora berbulu lebat di pameran Pet Shop. Sudah hampir tiga jam dilalui mereka untuk menemukan kucing yang cocok. Tapi, ada-ada saja kucing itu. Entah terlalu lucu, terlalu mengerikan, dan ada yang terlalu galak.
Dan menurut Ello, Rio menyukai kucing yang bermuka dua. Eza sempat bertanya maksud dari 'muka dua'. Lalu Ello dengan bahagianya menerangkan bahwa kucing kesukaan Rio itu yang dari luar kelihatan imut-imut menggemaskan tapi sebenarnya bersifat sangar dan agresif. Wow, Eza baru tahu ada jenis seperti itu.
Faza seperti biasa masih memasang wajah serius sambil memikirkan bayangan tentang kucing kesukaan Rio. Kucing yang ehm imut-imut tapi sangar. Bentuknya kira-kira seperti apa, sih? Oh, apa yang seperti di film-film Walt Disney? Yang putih menggemaskan tapi suka menggigit manusia tak berdosa.
Eza setengah menguap menanti Faza berpikir. "Fa, jadi gimana? Lo udah dapet gambaran kucing kesukaan si Om?"
Faza menggeleng. "Udahlah beli aja yang paling gahar. Mungkin si Om ini para penjinak. Jadi dia suka beli yang liar-liar gitu biar bisa dijinakin sendiri. Gitu kali."
"Oh, thats right. Kadang lo pinter juga, Fa."
Eza tersenyum riang sambil menyeret Faza menuju salah satu gerai cat shop bernuansa pink house. Mereka melihat-lihat sebentar dan menemukan semua jenis kucing anggora dan persia yang sok cute dan caper. Ugh, Rio tidak akan suka. Ello sendiri yang bilang Rio si penjinak kucing. Dan kemudian pilihan Eza jatuh pada kucing anggora berbulu coklat terang yang sedikit agresif dan galak.
Hanya butuh beberapa detik untuk memantapkan hati Eza memilihnya. Aww, sebentar lagi si Om akan segera jatuh pada pesonanya. Jadi, si Om tak bisa memarahinya lagi karena dia terlalu baik memberi si Om peliharaan sekaligus anak baru di rumah—yang lebih menggemaskan dibanding Moldy si cerewet dan Mauren yang kelewat dingin.
Sayangnya Faza membuang waktu gara-gara jatuh cinta pada seekor iguana bermata gelap. Dan Eza makin bete saat Faza dengan santainya berlari ke sana-ke mari mencari temannya para iguana yang sangat dia cintai. Eza harus kena imbas dan mengikutinya berkeliling melihat-lihat para iguana.
Sejak dulu Faza memang suka pada hewan iguana. Semua gara-gara kartun sialan Dora The Explorer yang sering mereka tonton jaman TK dulu. Hanya gara-gara salah satu teman Dora dan Boots, yang bernama Isa—si iguana—suatu hari menampakkan diri dan menyirami bunga matahari, Faza langsung jatuh cinta. Mulai hari itu dia terobsesi pada hewan iguana.
"Ah, iguana Oh my! Come to Papa!" lagi-lagi Faza berseru riang sambil menarik-narik ujung kandang seekor iguana. "Gila, yang ini mirip banget sama Isa temennya Dora. Gue pengen beli! Arggh!"
Eza menepuk jidat frustasi. "Ya ampun, nggak sekalian lo beli temennya Dora yang lain?"
"Hah? Siapa?"
"Benny si sapi sama Tiko si tupai. Udah tuh beli aja semua temennya Dora buat koleksi lo." Eza berdecak tak habis pikir. "Oh, sekalian juga si monyet Boots. Terus lo jadi Diego dan pindah ke hutan sama mereka semua."
Detik selanjutnya Faza memasang wajah garang. Berbalik dan berjalan cepat menuju parkiran. Untuk kesekian kalinya Eza menepuk jidat frustasi. Merasa salah bicara. Oh, harusnya dia belajar menyekolahkan mulutnya yang seperti comberan dan genteng bocor. Kadang omongannya memang kelewat sadis. Dan Eza harusnya ingat bahwa Dora The Explorer adalah topik sensitif untuk Faza karena kartun itu dulu merupakan favorite Faza.
Oh, juga fakta bahwa dulu dirinya sangat menyukai kartun Spongebob Squarepants!
"Fa, please, jangan mulai. Gue lagi nggak mood nih musuhan sama orang. Udah cukup gue selalu dimusuhin Aren sama si Om." Eza mengeluh sambil menenteng kandang Cimong ogah-ogahan. "Masak lo juga marah sama gue?"
Faza berbalik sambil memasang wajah judes. "Lo lupa dulu lo juga suka kartun?! Jangan ngejekin gue lo! Lo dulu yang sukanya nangkring di depan tv nonton Spongebob pagi-pagi!"
Eza menghembuskan nafas pasrah. "Oke, gue dulu emang suka Spongebob dan temen-temennya. Apalagi sama Squidward si sok ganteng—yang bangga sama kepala botaknya— sama Sandy si tupai ber-helm—yang entah gue nggak ngerti kenapa tupai bisa masuk ke lautan pake helm kayak gitu. Tapi, gue nggak senorak lo Fa. Gue nggak terobsesi buat ngoleksi mereka di rumah."
"Ya kan gue cuma pengen. Lagian ya, yang dipake Sandy itu bukan helm. Sok tahu banget sih, lo!" Faza bersungut-sungut, "Udah sana, beliin si Isa sebelum dibeli orang!"
Eza bergidik ketakutan. Faza kembali memasang wajah garang. Ya ampun, mengerikan sekali. Akhirnya Eza memutuskan kembali ke gerai para iguana yang menyeramkan sampai membuat kakinya merinding. Dih... si Fa sukanya hewan beginian yang sekali lihat saja bikin jantung mau copot.
Huufh, untung saat kecil dulu dia tidak separah Faza. Dia memang suka Spongebob, sih. Tapi tidak sampai seperti Faza yang tergila-gila pada iguana. Lagipula sekarang kalau dinalar ada-ada saja. Memang spoon bisa bicara dan hidup di lautan?
Hell, tapi bagaimanapun juga Eza sangat menyukai kartun itu dulu. Sampai-sampai dia dan Faza sering memperagakan silat ala Spongebob dan Sandy yang suka memakai bando kubus dan sarung tangan tinju. Lalu Divia akan mengamuk karena bandonya dicuri mereka untuk bermain Bikini Bottom. Oh, masa kecil yang menggemaskan.
Faza tersenyum girang. "Yeah, gue mau pamerin Isa ke Divi. Pasti dia suka yang gahar-gahar gini."
Eza tersentak dari lamunan masa lalunya dan tersenyum menggoda. "Cieee... Divi! Sekalian nyosor lagi sana."
Detik selanjutnya Eza bisa merasakan tubuhnya terdorong ke depan.
"Jaja Suhardja, tengil! Sembarangan lo kalau ngomong! Eh, gue bukan playboy kadal kayak lo, ya!"
***
Siang hari sepulang sekolah, Fourty Squad formasi baru kembali mengadakan latihan. Kali ini Eza tampak ogah-ogahan karena harus disandingkan lagi dengan Adry. Faza kembali memulai sesi ceramah seperti biasa untuk meredamkan amarah Jaja Suhardja dan Adryan Gunadarma.
Ini masih awal-awal, tapi kedua musuh bebuyutan itu tak henti bertengkar. Mulai dari masalah sepele sampai ke hal-hal tidak penting lainnya terus menjadi perdebatan di antara mereka berdua. Tadi Azel yang terkena imbasnya, dan sekarang Raden pun harus mengalami hal yang sama. Seakan tidak cukup, keduanya masih terus bertengkar di lapangan dan saling memperebutkan kuasa bola. Padahal mereka satu tim!
Faza dan Raden nyaris saja melempari mereka dengan setumpuk bola kalau saja Azel dengan sikap dewasanya tidak segera melarang. Kata si kecil, sudah lebih baik biarkan saja mereka seperti itu terus. Toh, nanti mereka pasti capek sendiri. Daripada ikut-ikutan nanti malah terbawa suasana dan ikut bertengkar. Azel sudah cukup kapok diseret ke dalam ruang BK gara-gara ulah Faza dan Eza yang tidak tahu malu di koridor kelas. Huh, jangan sampai itu terjadi lagi.
Pada akhirnya mereka bertiga menyerah dan mendudukkan diri di bangku penonton. Sementara dua musuh besar itu sibuk bertanding sendiri di tengah lapangan. Eza yang terus berlari sambil men-dribble bola. Kemudian Adry berlarian di belakang berusaha merebut bola dari tangan Eza.
Faza mendesis jengkel. "Gitu aja terus sampe sekolah ini berubah jadi ladang cococrunch."
"Sabar, Fa." Azel meneguk sodanya sekilas. "Gue yakin bentar lagi mereka capek sendiri."
"Capek?" Raden menyilangkan tangan sembari berdecak. "Huh, mereka nggak kenal kata capek."
Azel menoleh pada Faza. Lalu keduanya menghembuskan nafas pasrah. Kalau begini sih namanya duel. Bukan pertandingan lagi. Kalau begitu mereka berdua saja yang bertanding melawan Raymond. Bikin kesal saja.
Suara berisik mulai terdengar bersahutan dari arah belakang. Faza menoleh dan mendapati Divia, Finza, beserta Mauren tengah berjalan memasuki gedung olahraga. Raut wajah mereka langsung berubah bingung saat melihat Adry dan Eza yang sibuk bermain sendirian di lapangan.
"Oi, kalian!" Faza berseru dari bangku bawah.
Divia mengedarkan mata dan baru menyadari keberadaan Faza. Bola mata mereka bertemu. Lalu Divia bisa merasakan pipinya memanas. Memori dalam ingatannya seperti kaset yang bisa diputar kembali.
"Hai, Fa." Akhirnya hanya itulah yang keluar dari mulut Divia.
Faza tersenyum sekilas. Mau tak mau terbawa suasana canggung yang terjadi. Tanpa bisa ditahan pipinya pun ikut memerah. Ya ampun, jangan bilang dia dan Divia sama-sama mengingat kejadian itu. Ugh, rasanya sedikit memalukan tapi juga mendebarkan.
"Hmm... Lo berdua kenapa jadi senyum-senyum sendiri?" Finza menatap Divia dan Faza bergantian sambil tersenyum penuh selidik.
Divia tersadar dan langsung melotot ke arah Finza. "Apaan, sih?! Orang nggak ada apa-apa!"
Finza menjerit heboh. "Tuh, kan. Pasti ada apa-apa. Kalau nggak ada apa-apa, lo nggak bakal ngamuk gini, Div. Hayo ngaku aja, deh."
Divia kembali menggeleng. Sementara Faza pura-pura tak mendengar. Perlahan kembali asyik bersama Raden dan Azel di bangku terbawah. Meski begitu, matanya tak benar-benar lepas dari Divia. Dari sini dia masih terus memperhatikan gerak-gerik Divia yang hari ini sama saltingnya dengan dia. Entah kenapa hari ini terasa lucu dan menyenangkan.
Faza masih terus menikmati momen awkward berbumbu manis ini saat tiba-tiba Melodi muncul dengan senyuman biasanya. Senyuman yang selalu bisa mengalihkan Faza dari dunianya. Membuat bayang-bayang Divia menghilang begitu saja.
"Fa, semangat ya main basketnya!" suara Melodi seperti bunga mekar di pagi hari.
Faza mengedip beberapa kali untuk mengumpulkan seluruh kesadarannya. "Eh, iya. Makasih, Mel."
Melodi tersenyum. Ah, Faza paling tidak tahan dengan senyuman itu. Bahkan di antara sahabatnya di Champ, tidak ada yang bisa mengalahkan senyuman manis Melodi ini.
Faza masih terus hanyut dalam pesona Melodi saat sadar sebuah fakta tiba-tiba menamparnya telak. Sekarang langkah Melodi tertuju pada Adry. Semangat yang tadi ditujukan untuknya kini juga ditujukan pada Adry. Bedanya, semangat untuk Adry ini terasa lain.
Lagi-lagi rasa sakit itu menusuknya. Apalagi saat dilihatnya Melodi tersenyum lebih lebar dengan sebuah cola dingin terulur pada Adry. Faza harusnya tahu diri sejak lama.
***
Sore harinya Champ kebanjiran pengunjung. Hujan deras di luar membuat banyak orang berdatangan dan memesan kopi panas mereka. Suasana bagian dalam terasa penuh dan sesak. Faza dan Azel sibuk membantu para pelayan. Sementara Finza dan Mauren sedari tadi sibuk di lantai atas. Mauren mungkin kembali dengan dunianya sendiri membaca buku tebal. Sedangkan Finza akan asyik melakukan video chat dengan Darian.
Divia meletakkan payungnya di tepi pintu. Secepat mungkin mengeringkan baju dan melangkah memasuki area dapur dalam. Matanya melirik Azel dan Faza yang sibuk kesana-kemari sambil membawa buku menu. Sekilas matanya bertatapan dengan Faza. Segera mungkin Divia mengalihkannya dan mencari kesibukan sendiri.
Biasanya Divia akan membantu jika tidak sibuk, tapi hari ini dia ingin memecahkan sesuatu terlebih dulu. Ada sebuah resep cupcakes yang sudah lama ingin dia buat. Cinnamon Roll Cupcakes.
Divia menemukannya di tayangan video memasak dalam youtube. Sudah cukup lama, sih. Hanya saja baru belakangan ini Divia mengingat hal itu. Seperti biasanya, Divia akan meminta Faza menjadi tester pertamanya. Dan hari ini Faza pasti akan kagum dengan menu eksperimen terbarunya.
Divia tersenyum riang sambil meraih tas belanjaannya. Matanya berputar cepat menatap mangkuk adonan yang terjejer rapi di rak kaca. Diraihnya satu dan diletakkannya di atas meja. Kemudian dia mulai sibuk menuang-nuang tepung ke atas timbangan hingga tepung itu berhamburan mengenai pipinya. Tapi itu tak membuat Divia goyah, dia justru tertawa sambil meraih keranjang telur dan kini sibuk mengocoknya.
Suara langkah kaki membuat Divia menoleh sekilas. Dilihatnya Faza berdiri di ambang pintu memasang wajah ragu-ragu. Divia tersenyum tipis merasakan hawa canggung yang tiba-tiba datang.
"Fa, kok lo ke sini? Kayaknya tadi di depan masih rame. Mending lo balik bantuin Mbak Gita."
Bukannya menjawab Faza malah berjalan mendekat dan meraih segepok tepung yang kemudian ditiupkannya tepat ke wajah Divia. Hal itu tentu membuat amarah Divia mencuat-cuat keluar. Lalu semburan tawa bahagia Faza terdengar karena telah berhasil mengerjai Divia.
"Lo bener-bener nyebelin ya, Fa. Jangan lari lo! Gue mau balas dendam!"
"Yah, gue nggak sengaja." Faza kembali tertawa. Kali ini sambil berlarian mencari perlindungan di area depan kafe.
Begitu asyiknya Faza sampai tak sadar dia menubruk tubuh tinggi Azel yang tengah berjalan dengan sebuah nampan berisi rainbow cakes. Sontak hal itu membuat kemeja si kecil dipenuhi lumuran cream. Azel langsung memasang wajah datar tembok ala Ello.
"Lo berdua jalan pake mata, dong!"
Faza kembali tertawa. Seakan tak peduli dia malah berlari menghindar. Divia juga melakukan hal yang sama. Tak mempedulikan kegarangan Azel dan kembali mengejar Faza mengelilingi seputaran kafe. Cuaca yang dingin dan hujan yang terus turun tak menghalangi semangat mereka untuk terus berlarian mengelilingi taman yang licin.
Finza yang berdiri menginterogasi pun tak begitu mereka pedulikan. Keduanya masih asyik mengejar satu sama lain sambil menyerang menggunakan semburan tepung. Eza sama bingungnya dengan Finza. Aksi mengerjai nenek sihirnya gagal total gara-gara rasa keponya mulai akut melihat keseruan dua bocah itu.
"Fa, balik lo sini! Gue nggak terima! Lama-lama gue lempar juga telurnya ke muka lo."
"Ah, lempar aja! Pasti nggak kena!"
"Iiih... Fa!"
Dan manusia-manusia kepo di sekeliling mereka masih sibuk berpikir. Terutama Finza si biang gosip tidak akan pernah melewatkan kejadian ini. Aneh. Beberapa minggu yang lalu mereka seperti orang tak saling mengenal dan sok sibuk sendiri. Sekarang mendadak menjadi lengket kembali. Hmm, pasti ada sesuatu di antara mereka.
***
Jam menunjuk sekitar pukul 4 sore ketika Divia berhasil menyelesaikan resep kuenya. Dari arah depan Finza berlarian masuk ke dalam dapur membuat Divia terkejut begitu saja. Divia baru saja akan membuka mulut untuk memprotes perbuatan Finza. Tapi ekspresi ceria Finza langsung mengunci mulutnya. Dan yang selanjutnya terjadi Finza sudah merampas nampan di tangannya.
Divia berdecak dan berlarian mengejar Finza.
"Tadaaa! Cinnamon Roll Cupcakes buatan Divi udah jadi! Ayo habisin!" teriak Finza layaknya komando yang langsung mendapat respon dari anak buahnya.
Seperti biasa Faza dan Eza menjadi dua orang tercepat yang langsung menyerbu resep terbaru buatan Divia. Azel langsung mendumel saat bagiannya juga dilahap sekaligus oleh Faza.
"Fa, balikin punya gue!" teriakan Azel membahana memenuhi area kafe. Untungnya selepas hujan suasana kafe agak tenang dibanding sebelumnya. Jadi, dia tidak perlu malu orang akan menertawainya. Sebodo amat dengan para pengunjung, yang jelas dia kesal setengah mati pada dua biang kerok yang sering mengambil jatah makanannya sejak kecil.
Mauren terkekeh sekilas dan menyurungkan miliknya. "Bagi dua aja punya gue, Cel."
Azel menggeleng. "Gue ambil di belakang aja, Ren," ujarnya sambil kemudian beralih menatap Divia. "Div, cupcakes-nya di dapur dalam masih ada?"
"Masih, kok. Gue bikin banyak, Cel." Divia tersenyum manis. Senyumannya berubah menjadi sinisan saat melihat Faza duduk di seberangnya dengan dua tangan memegang masing-masing satu cupcakes. Huh, pasti yang satunya jatah Azel. "Fa, pasti lo yang ambil jatahnya Acel!"
Faza hanya tertawa tanpa mempedulikan raut garang yang ditunjukkan Divia. "Yah, udah gue makan," jawabnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Sontak hal itu membuat emosi Divia meledak. Dengan jengkel dilayangkannya kedua tangan untuk merebut satu buah cupcakes di tangan Faza. Tapi, Faza berhasil menghalau gerakan tangan Divia. Tak menyerah, Divia mencoba merebut kembali cupcakes dari tangan Faza. Keduanya terlibat pertengkaran kecil sampai Divia merasakan flatshoes yang dipakainya sedikit licin dan dia nyaris menubruk lantai kalau tidak ditahan Faza.
Suasana mendadak hening setelah kejadian itu. Faza masih mengedip kebingungan dengan dua tangan memeluk Divia dan juga menggenggam cupcakes. Divia sendiri tak bisa mengalihkan pandangannya dari bibir Faza yang dipenuhi sisa krim. Bagaimana pun juga, bibir itulah yang pernah mengecupnya. Sekarang bibir itu terlihat lebih manis dengan krim yang menghiasinya. Membuat Divia tiba-tiba menegang kaku mengingat kejadian itu. Sementara itu empat pasang mata di sekitar mereka juga kini memfokuskan pandangan pada keduanya.
"Ahem... Ada something di sini." Suara Eza terdengar jahil dan penuh ledekan.
Divia berdeham seketika sehingga Faza tersadar dan segera melepas pelukannya dari pinggang Divia. Rona merah kini sudah menghiasi pipi keduanya. Eza dan Finza tak henti-hentinya tertawa menggoda. Sementara Azel sudah memasang senyuman miring. Juga Mauren yang menatap Divia tak mengerti.
"Kalian kok ekspresinya langsung berubah gitu?" Azel memaksakan tawa. "Santai aja kali. Ehm... Atau memang ada apa-apa ya?"
Finza mengetuk-ngetukkan jemarinya di kepala. "Hem... Bau-baunya sih emang mencurigakan."
Eza terkikik. "Iyalah orang Fa pernah cerita sama gue—"
"Ya ampun Isa belum gue kasih makan!" Faza menjerit tiba-tiba dan dengan sekali sentakan menarik Eza menjauh sebelum mulutnya bocor kemana-mana.
Divia mengedip bingung. Tepat saat itu ponsel di saku jeans-nya berbunyi nyaring. Finza dan Mauren yang mendengarnya langsung menyenggol lengan Divia. Yang ditelpon malah kebingungan saat membuka lock screen ponsel.
Di sana tertulis Raymond calling.
Divia menggigit bibir kebingungan. Perlahan dia melangkah ke sisi kiri pintu yang berhubungan dengan taman. Di sampingnya Faza dan Eza tengah asyik memberi makan Isa. Secepat mungkin Divia menarik diri. Berusaha menjauh dari keduanya agar pembicaraannya dan raymond tak terdengar.
Divia menghembuskan nafas panjang dan mengangkat telpon. "Halo... Mau apalagi, Ray?"
"Gue ada di depan Champ. Bisa ketemu bentar?"
"Apa? Lo—sekarang di depan Champ?"
"Iya. Gue tunggu lo. Buruan keluar, Div."
Setelahnya sambungan terputus. Divia menutup mulut kaget. Raymond ada di depan Champ. Sebenarnya apalagi sih, mau cowok itu? Bukankah urusan mereka seharusnya sudah selesai? Tidak apa-apa sih jika Raymond ingin berteman dengannya. Tapi, tidak perlu mendatanginya setiap saat, kan? Sudah cukup kemarin cowok itu tiba-tiba muncul di rumahnya pagi-pagi sekali. Divia tidak mau jika Raymond setiap saat selalu menguntitnya.
Divia segera memasukkan ponselnya dan bergegas keluar. Namun, pada langkah ketiga dia nyaris menubruk Faza yang baru keluar dari area taman. Faza menatapnya kaget seakan bertanya mau kemana dia.
"Lo mau kemana?" tanya Faza penasaran. "Kok buru-buru banget sih, Div. Kita kan masih ngumpul."
"Gue keluar bentar. Ada perlu, Fa." Divia bersiap keluar. Tapi, Faza menahan tangannya dan menggenggamnya. Membuat Divia tersentak diam.
"Sama siapa?"
"Raymond." Divia menjawab lirih.
Saat itulah Faza perlahan melepaskan genggaman tangannya. "Oh, ya udah," jawabnya sambil berlalu sembari memandangi wajah Divia.
Divia menghembuskan nafas panjang dan segera berjalan menuju pintu kafe. Dari sini dia bisa melihat motor bold Raymond terparkir rapi. Pemiliknya berada tak jauh tengah meminum sekaleng soda.
"Hai, Div." Raymond tersenyum. Mirip sekali dengan senyuman si tengil.
"Ada apa lagi, Ray? Kok lo masih muncul aja?" Divia bersungut-sungut.
Senyum Raymond langsung luntur begitu mendengar nada jutek Divia. "Ehm, emangnya gue nggak boleh ketemu lo lagi ya?" tanyanya lirih.
Divia terdiam sesaat. Memangnya tadi kedengaran sekali kalau dia tidak mengharapkan kehadiran cowok ini. "Enggak gitu sih," Divia menggaruk pelipisnya. Bingung mau bicara bagaimana. Divia berdeham sebentar sebelum melanjutkan. "Jadi lo ada perlu apa kesini?"
Senyum Raymond seketika kembali merekah saat suara Divia mulai melembut. Dia meletakkan kaleng sodanya. "Ehm, lo tahu kan Div, kalo besok sekolah gue mau ada tanding basket sama sekolah lo?"
"Hmm..." Divia mengangguk-angguk. "Terus?"
Raymond menggaruk kepalanya. Dia maju satu langkah mendekati Divia. Membuat Divia ikut mundur satu langkah juga. "Gue pengin lo buat dukung gue, Div?"
Divia memiringkan kepalanya dan mengernyit bingung. Tadi cowok ini bilang apa? Raymond memintanya untuk mendukung cowok itu dalam pertandingan besok? Yang benar saja! Cowok ini pikirannya dimana sih? Bisa-bisanya dia meminta Divia menjadi pengkhianat sekolahnya sendiri dengan mendukung Raymond. Divia bisa dikeroyok satu angkatan jika itu benar-benar terjadi.
Divia tertawa sekilas. "Ya, gue nggak bisa lah Ray. Gue harus dukung sekolah gue sendiri dong." Divia masih tak habis pikir dengan permintaan aneh Raymond. "Lagipula lo punya pendukung lo sendiri kan Ray, temen-temen sekolah lo?"
Raymond tertawa kecil karena penolakan dari Divia. Gagal sudah modusnya untuk mendekati cewek ini. "Iya sih," dengan cepat Raymond memutar otak mencari modus lain. "Tapi rencananya besok temen-temen gue banyak yang nggak dateng. Jadi kita kekurangan pendukung gitu. Hahaha..." Raymond memaksakan tawa garing.
Divia semakin mengernyit tidak mengerti dengan cowok di hadapannya ini. "Meskipun pendukung lo sedikit, itu nggak menjamin tim lo bakal kalah, kan?"
Raymond tertunduk. "Iya sih," Dia maju selangkah lagi mendekati Divia. "Tapi gue tetap pengin dukungan dari lo Div, karena lo itu spesial buat gue."
Raymond coba-coba meraih kedua tangan Divia. Namun langsung ditepis begitu saja oleh Divia. Divia menatap Raymond tajam. Dia tidak suka dengan sikap Raymond yang mulai kurang ajar. Lebih baik dia segera menyuruh cowok ini pergi dan kembali ke dalam.
"Udah ya Ray, kalo urusan lo udah selesai mendingan lo pulang aja. Gue mau masuk ke dalem." Divia memutar tubuhnya dengan cepat dan mulai melangkah masuk.
Hal itu membuat rasa kesal Raymond muncul begitu saja. Tanpa sadar dia berteriak. "Lo nggak mau dukung gue, karena lo mau dukung Rafanza, kan?"
Teriakan Raymond membuat langkah Divia langsung terhenti. Dia tidak salah dengar, kan. Baru saja Raymond menyebutkan nama Rafanza. Maksudnya Faza? Fa? Apa hubungannya Faza dengan masalah ini. Mau tak mau Divia kembali berputar lagi menghadap Raymond.
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?"
Raymond mengangkat bahu cuek. Sebelah tangannya sibuk memainkan kaleng soda yang kosong. "Gue ngerasa aja kalo lo ada apa-apa sama si Rafanza itu."
Divia menyedekapkan tangan menatap Raymond bingung. "Emangnya kenapa? Gue sama Fa udah deket dari dulu. Kita udah sahabatan dari bayi."
Senyuman tengil Raymond muncul mendengar kata sahabat dari mulut Divia. Jadi mereka benar-benar cuma sahabat. Sama seperti apa yang si Rafanza katakan tempo hari. Kalau begitu rencananya untuk menembak Divia bisa berjalan mulus.
"Gue pegang kata-kata lo, Div." Raymond tersenyum seakan menyembunyikan sesuatu. "Pokoknya Sabtu besok gue bakal menang. Dan tunggu kejutan dari gue buat lo, Divia."
Raymond melambaikan tangan menuju motornya. Saat memakai helm pun pandangan cowok itu masih tertuju pada Divia. Seakan tak rela meninggalkan cewek yang disukainya itu. Dari atas motor Raymond masih terus berteriak mengenai kejutannya untuk Divia di pertandingan besok.
Divia masih tidak mengerti apa maksud ucapan Raymond itu. Kejutan? Kejutan apa yang dia maksud. Sampai motor bold yang dikendarai cowok itu meninggalkan gerbang, Divia masih terdiam menerka-nerka apa maksud ucapan Raymond tadi. Akhirnya Divia menggeleng-ngeleng. Tidak mau ambil pusing dengan apapun yang akan dilakukan cowok itu. Ah, lebih baik dia masuk lagi ke dalam dan meneruskan acara memasaknya. Tidak usah memikirkan Raymond dan segala ketidakjelasannya!
***