Dimas's PoV Selepas kepergian ayah mertua dan putriku, aku masih setia meringkuk bagai janin di atas ranjang seraya memeluk boneka kesayangan putriku tercinta. Ya, aku tegaskan sekali lagi kalau Maria adalah putriku dan selamanya akan seperti itu. Kurasakan bantal yang basah, karena sungai air mata yang meluap karena robohnya pertahananku. Aku tak pernah menyangka bahwa segala kesakitan yang terjadi dalam hidupku adalah perbuatan wanita yang dulu pernah aku cintai dan aku menyesal telah mengenal wanita bak iblis itu. "Dimas!!! Dimas!!!" Sayup-sayup aku mendengar suara seseorang yang tak asing di telinga memanggilku. "Keluar kau anak k*****t!" Suara itu terdengar lebih dekat. Dengan malas aku mengubah posisi tubuh menjadi duduk di sisi ranjang. Setelah menco

