Padahal yang lain belum pulang, namun Sajak sudah menjadi orang pertama yang menggendong tasnya dan berjalan ke arah meja Kara. "Sayang, ayo pulang!" ajaknya. Kara yang masih berkutat dengan komputer nya, mendongak ke arah Sajak. "Kamu sudah selesai?" Sajak mengangguk dengan senyum terkembang. "Sayang banget, soalnya kerjaan ku masih banyak," kata Kara. Walaupun dia mengatakan sayang, namun wajahnya tampak biasa saja. Hal itu membuat Sajak mendengus, lalu menundukkan kepalanya untuk melihat ke arah komputer Kara. "Aku bantuin. Coba, kamu geser!" Belum sempat Kara menjawab, Sajak sudah memaksanya untuk bergeser. Mereka berakhir dengan duduk di kursi kecil itu berdua, hanya setengah b****g mereka saja yang menempel di kursi. "Aku bisa kerjain sendiri. Kamu tunggu di mobil aja," ujar

