Eara menatap ruang ICU dengan kabel-kabel dan seluruh alat yang berusaha menghidupkan Adrel. Tubuh pria itu rebah di kasur dengan oksigen yang menunjukkan pria itu masih bernapas, tapi berapa lama ia harus menunggu? Eara berlutut di depan kaca besar ruang ICU dia selalu percaya pada Tuhan. Dia bahkan meyakinkan Adrel akan adanya Tuhan. Dia memajangnya di setiap sudut ruangan. Agar Adrel yakin Tuhan selalu bersamanya. Tapi kini dia sendiri merasa ragu pada kasih Tuhan. Dia membuatnya mengenal Adrel dengan semua sifat kejamnya. Hingga akhirnya ia menyerahkan hatinya Adrel. Tapi sekarang seakan belum puas dengan seluruh tangisannya, entah apa yang sudah Eara lakukan, sehingga Tuhan berulang kali menyiksanya. “Eara, kamu sudah berjanji untuk tidak menangis,” ucap Dera. Sahab

