Gadis dengan rambut hitamnya yang dibiarkan digerai itu tengah menunggu angkutan umum di depan halte dekat sekolahnya. Bukan apa, semenjak kejadian selepas keluar dari ruang BK tadi laporan parno tingkat dewa terhadap sahabatnya itu, Revan.
Risa takut jika benar Revan akan menciumnya, sehingga dia beralasan pergi ke toko buku dengan Salsa agar hari ini dia tidak pulang kerumah bersama bocah sableng itu. Revan mempercayai apa yang dikatakan Risa, sehingga dia pulang lebih cepat dari biasanya tanpa Risa.
Risa mendelik ke arah gelang jam ditangan sebelah kanannya, jam menunjukkan pukul 17.04 WIB.
"s**l, udah jam segini mana ada taksi yang lewat, aduh kayaknya gue kualat deh gara-gara ngibulin Revan," gumamnya sambil memegang perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan.
Seorang pria dengan motor sport berwarna merah berhenti tepat di hadapan Risa, lalu buka helm fullface nya. Mata Risa seketika membulat karena cowok itu ... Nathan!
"Nunggu siapa?" tanya Nathan dengan wajah datarnya.
"Eh? Hm ini gue lagi nungguin taksi," sahut Risa gelagapan.
"Jam segini jarang ada taksi yang lewat, kalo lo berkenan, gue bisa anter lo sampe rumah dengan selamat,"
"Nggak ah. Lo udah sering bantuin gue," sahut Risa.
"Sans aja kali, udah, cepetan naik. Gak ada keberatan!"
Dipikir-pikir, kapan lagi Risa mendapat tawaran manis dari cowok ganteng kayak Nathan? Akhirnya Risa memutuskan untuk menerima tawaran Nathan.
Selama perjalanan, yang terjadi hanyalah momen canggung. Risa yang memulai percakapan serta Nathan yang sepertinya tidak bisa mengungkapkan unek-uneknya.
Suara yang terdengar dari perut Risa mulai tidak terkontrol. "Njir, perut gue kenapa sih bunyi di saat yang gak tepat kayak gini? Malu-maluin banget, semoga aja Nathan gak denger," batin Risa.
"Lo laper?" tanya Nathan, sontak membuat Risa malu setengah mati. "Eng-enggak kok," sahut Risa sambil menggigit bibirnya menahan rasa malu.
"Ga usah sok bohongin gue, jelas-jelas tadi perut lo bunyi gitu, udah kayak cacing lagi dugem-an aja," kekeh Nathan.
"Ih apaan sih lo," rutuk Risa.
"Haha, btw rumah lo di mana?" tanya Nathan.
"Udah deket kok, di depan ada perempatan terus belok kiri itu udah masuk g**g Permata Graha, rumah gue nomor 13." jelas Risa panjang lebar.
Nathan melajukan kecepatan motornya di atas rata-rata tanpa memperdulikan celotehan cewek yang sedang dibawanya.
"Woyy, lo denger gak sih, rumah gue belok kiri kenapa lo malah belok kanan, Nathan!" celetuk Risa.
“Udah lo diem aja,” sahut Nathan, datar.
Risa yang selalu menyatakan negatif tentang Nathan pun kini penyakit ngocehnya tengah kumat "Lo mau bawa gue kemana? Heh, lo mau nyulik gue? Nathaaaan! Turunin gue di sini anjir!"
Namun, semua itu tidak ditanggapi oleh Nathan.
Nathan kereta laju motornya tepat di depan sebuah restoran, "Lo laper, kan? Ya udah kita makan dulu, gue yang traktir," ucap Revan.
"Lo ngajakin gue makan hm?" tanya Risa.
"Kenapa? Lo gak suka makan di tempat beginian? Maaf, gue gak bisa ngajakin lo makan di restoran yang lebih mewah dari ini,"
"Eh? Nggak gitu, Dari, maaf tadi gue cerewet banget, gue kira lo mau nyulik gue,"
"Yakali gue mau nyulik lo," sahut Nathan "Yaudah ayo masuk," tambahnya lagi.
Mereka berjalan memasuki restoran itu. tanpa disadari, tangan Nathan kini telah menggandeng lengan Risa, membuat seluruh pengunjung menatap mereka dengan tatapan iri.
“Than, lepasin tangan gue, lo nggak liat tuh kita diliatin banyak orang,” ucap Risa.
"Mereka punya mata, wajar kalo mereka ngeliatin kita," sahut Nathan, santai.
Risa merasa risih dengan perlakuan Nathan "Ishh ... lepasin, Than,"
"Lo nggak pernah digandeng cowok?" tanya Nathan yang akhirnya mendapat tatapan sinis dari Risa.
"Maksud lo apa?" tanya Risa sembari menepiskan dari gendengan Nathan.
"Ih gue becanda kok, gausah natap gue kayak gitu, aku atuuut neng," canda Nathan sambil menutup mukanya dengan terbukanya Telapak, dramatis.
Becanda lo garing, "sahut Risa seraya memutar kedua bola matanya malas.
Risa heran dengan sikap Nathan, maksudnya apa? Punya sikap kayak bunglon gitu, bentar-bentar manis, kadang-kadang juga nyebelin, untung ganteng. Batin Risa
Mereka menduduki kursi di meja Nomor 46.
"Lo mau mesen apa?" tanya Nathan sembari menunjukkan buku menu yang sudah tersedia di meja itu.
"Terserah lo deh," sahut Risa.
"Kok terserah gue?" tanya Nathan.
"Ya kan lo yang ngajak,"
“Iya deh iya,” sahut Nathan pasrah.
Nathan memanggil salah satu pelayan lalu memesan apa yang diinginkannya untuk Risa, tak lama setelah itu, para pelayan yang membawakan beberapa makanan dan minuman ke arah tempat yang mereka duduki.
"Lo suka kopi?" tanya Risa.
"Iya gue suka, kenapa?" sahut Nathan.
"Hm, gapapa. Btw lo kenapa pas sekolah pake bawa-bawa peralatan nge-bengkel gitu?" tanya Risa lagi.
"Ya karena itu hobi gue, biasanya kalo pulang sekolah gue langsung kerja jadi montir part time, jadinya gue bawa peralatannya," sahut Nathan.
"Oh gitu, hebat juga ya lo." Gumam Risa sambil tersenyum sipu karena baru kali ini dia mengungkapkan sosok pekerja keras seperti Nathan.
“Ehm, gausah senyum ntar kopi gue kemanisan,” kekeh nathan.
Risa mengedipkan kelopak matanya beberapa kali, menyadarkannya dari senyuman yang sedari tadi dia lontarkan. "Eh lo barusan bilang apa?" ucap Risa.
“Gapapa, omongan gue tadi udah gue telen, kalo gue ucapin sekali lagi keburu basi,” sahut Nathan mendelik kesal kearah Risa.
"Kok gitu?" tanya Risa heran.
“Gapapa, gausah dipikirin. Cepetan lo makan tuh steak-nya, ntar kemaleman lagi lo pulangnya,” sahut Nathan.
***
"Makasih ya, lo udah traktir terus nganterin gue pulang," ucap Risa ketika mereka telah sampai di, depan pagar rumah berwarna hitam kediaman Risa.
"Iya sama-sama, yaudah gue pulang dulu," sahut Nathan sambil menunggu mesin motornya.
Risa mengangguk, "Iya, hati-hati ya."
Risa pembakaran pintu rumah dengan perasaan yang membuncah, yang ada dipikirannya hanya Nathan, orang baru pertama kali ditemuinya sosok seperti Nathan, meski kadang-kadang Nathan menyebalkan, tapi bagi Risa yang lebih dominan adalah sikap manisnya.
Risa tangan lampu kamar, kaget setengah mati ketika melihat ada Revan di sana, kejadian akan terjadi disekolah tadi. Namun Risa mencoba menenangkan pikirannya agar tidak ada yang berbicara tentang sahabatnya itu.
"Lo pulang bareng Nathan?" Revan berdecak kesal namun kembali fokus dengan permainannya, play station.
"Iya, kenapa emang?" sahut Risa.
“Gapapa, ada yang bahagia banget nih kayaknya sehabis ngibulin gue,” rutuk Revan.
"Apaan sih lo, lagian suruh siapa lo mau nyium gue tadi ?!" sahut Risa lagi tidak kalah kesalnya.
"Lagian gue cuma mau becanda, Ris, lo main ambil kesimpulan gitu aja," ucap Revan. “Pulang pake dianter cowok segala, alay,” tambahnya.
"Lo kenapa sih, Van? Kalo lo cemburu bilang!" ketus Risa.
"Iya, gue cemburu! Puas?"