"Twelve for all: You are my all for right now, Kamelia"
***
Tertanda hari ini, tanggal dua puluh Maret tahun dua ribu lima belas di mana aku akan banyak berceramah sudah seperti motivator kaya raya yang biasa muncul di layar kaca. Haha.
...
Sebenarnya aku sangat sedih saat mengetahui kekecewaanmu karena kamu tidak bisa kuliah di jurusan yang memang kamu kehendaki, Kamelia. Andai saja aku sanggup mengatakan hal itu tadi saat kita bertemu.
Masih terekam jelas dalam ingatanku tentang kenangan yang baru saja kita lewati. Yaitu saat kamu dan aku mengobrol bersama di halte. Kamu sempat bilang bahwa kamu sengaja membuat nilai ujianmu jadi jelek sebagai wujud dari protes pada mereka yang telah memaksakan kehendak padamu. Suatu hal yang kamu yakin pasti akan sangat kamu sesali di masa depan nanti. Pokoknya tidak suka sekali. Sejauh ini aku masih bisa mengerti alasan dari tindakanmu yang dilakukan karena dasar emosi dan perasaan tidak terima. Tapi, aku rasa juga, hal itu itu sangat kurang tepat, Kamelia.
Mari kita pikirkan sejenak soal tindakan yang kamu putuskan untuk lakukan. Dan aku yakin kamu melakukan hal tersebut dengan kesadaran akan apa resiko yang mungkin kamu hadapi di masa depan nanti. Tidak diragukan lagi. Coba pikir dengan sikap seperti itu nanti siapa yang akan rugi? Jika kamu sampai hancur atau kurang beruntung suatu saat nanti bukankah mereka yang membuatmu terjerembab dalam masalah ini juga tidak akan peduli? kalau dari yang aku pikir sih paling mereka akan menyalahkanmu. Tetap membuat dirimu menanggung seluruh beban sekalipun mereka lah yang jadi penyebabnya. Orang-orang itu tak akan bisa dan mau (aku rasa) lakukan apa pun, lho. Jadi, bukannya terlalu beresiko untuk bersikap seperti itu hanya karena kemarahan sesaat? Ya, aku tau bukan sesaat juga, sih. Sepertinya kamu sudah punya dendam kesumat ya kalau sampai memutuskan hal seperti demikian. Tapi, sekali lagi aku peringatkan lho Kamelia, semoga saja nasihat yang hanya aku sampaikan secara tidak langsung dari jarak jauh ini bisa sampai ke sanubarimu yangsekarang entah sedang berada di mana. Semoga perasaan kita sama dan kamu bersedia merubah keputusanmu. Aku sama sekali tidak ingin jika sampai suatu saat nanti ada hal buruk terjadi sama kamu, Kamelia.
Itu saja.
So miso, cobalah untuk bertahan walau itu hanya sedikit lagi dan lakukan hal terbaik yang kau bisa. Terkadang perubahan besar justru malah terjadi di saat yang sama sekali tidak pernah kita sangka lho, Kamelia.
Tapi, jika punk amu tetap berkeras untuk bertahan dengan pikiranmu dan yang telah kamu lakukan selama ini. Aku minta maaf sebelumnya, tapi aku rasa kamu tidak lebih dari hanya sekadar seorang pecundang yang tidak memiliki komitmen dan integritas. Apa yang kamu lakukan itu sama persis seperti apa yang dilakukan oleh para tukang demo yang menuntut pemerintah menyejahterakan hidup mereka dengan menurunkan harga barang-barang kebutuhan pokok, tapi semua itu malah mereka lakukan dengan pengrusakan. Membakar ban, lah. Merusak halte dan fasilitas umum, lah. Menghalangi orang-orang yang ingin mncari nafkah atau k etempat kerja mereka, lah. Dan lagi tindakan seperti itu kan bisa membebani anggaran negara dan malah buat satu bangsa jadi rugi bandar.
Semua hanya karena mereka yang lakukan hal itu hanya demi sebuah pelampiasan emosi tidak jelas. Pada kenyataannya, mereka tahu jika itu tak akan hasilkan atau beri apa pun pada diri mereka. Sayangnya hal itu sama seperti yang saat ini sedang kamu lakukan, Kamelia.
Saat bertemu, aku cukup terkejut saat tahu bahwa ternyata kamu memiliki usia sedikit lebih tua dariku. Bukannya aku mau bersikap sok dewasa lho, ya. Tua dari usia itu sudah pasti dan tak akan pernah bisa diganggu gugat keputusannya. Sudah hukum duniawi. Tapi, pilihan untuk bersikap dan memiliki karakter dewasa itu bagaimanapun juga adalah sesuatu yang harus kita pilih dan tentukan dengan kesadaran sendiri. Tidak bisa berharap orang lain yang akan mengerti dan lakukan suatu hal sesuai yang kita kehendaki. Dan kamu sendiri dengan panjang hidup yang telah kamu lalui aku harap dapat bersikap dengan jauh lebih bijak. Apalagi dalam menghadapi masalah macam ini. Di mana masa depan kamu sendiri juga yang akan jadi taruhannnya. Memang kamu mau apa masa depan kamu rusak dan saat kamu menderita sendirian (jangan sampai, sih) nanti orang yang selama ini suka membully kamu malah tertawa terbahak-bahak karena berhasil dapatkan tujuan mereka untuk menghancurkanmu?
Kamu rela apa?
Sebenanrya nih ya, aku merasa sungguh iri padamu, Kamelia. Aku au kalau sesungguhnya kamu merupakan seorang gadis yang sangat cerdas. Aku bisa rasakan hal itu tepat saat kita bicara dan saling berutkar peendapat juga pandangan akan sesuatu. Dan hal yang bisa sampai buat nilai ujianmu jadi jelek aku juga percaya bahwa itu hanyalah suatu keegoisan semata.
Mozart menulis pernah komposisi minuet atau piece of music with three beats in a bar which is played at moderate speed – sok Inggris, wee, pertamanya saat ia masih berusia 5 tahun. Aku beritahu kamu ya, tapi aku tinggal di Jepang saat kecil. Dan di sanalah pertama aku temukan impianku. Di sebuah rumah sakit bernama Rumah Sakit Heisan. Bersama dengan pembimbingku yang memiliki nama Dokter Mizushima. Alias Mizushima Sensei.
Beberapa orang membutuhkan bantuan orang lain untuk menemukan bakat terpendam mereka. Beruntungnya aku karena bisa berada di antara orang-orang yang tepat dan bersedia mendorongku menuju arah yang baik. Kalaupun memang tidak ada yang bisa melaukan itu untukmu, maka berusaha doronglah dirimu sendiri. Tetapkan sebuah tenggat waktu. Agar kamu tau kapan harus berhenti untuk mengejar mimpi, tapi bukan sepenuhnya berhenti melainkan melakukan evaluasi akan apa yang sesungguhnya harus kamu lakukan. Apakah mungkin ada yang salah dari caramu mengeksekusi mimpi tersebut? Ataukah ada sesuatu yang kurang tepat dan perlu pemikiran ulang?
Mungkin ini hanya hal sederhana, tapi saat sudh kita temukan esensinya maka itu semua akan jadi sesuatu yang sangat bermakna.
Jika kau merasa hidupmu memang berada di sana. Maka berusahalah dengan keras seolah tak ada jalan lain kecuali itu. Tak ada kehidupan di tempat lain kecuali di sana. Tidak mengapa, yakinlah dengan apa yang kamu putuskan, Kamelia. Berilah kepercayaan pada dirimu sendiri. Jangan sampai ragu lagi. Jadilah lebih percaya diri.
Be confident!
Keputusan yang dibuat oleh orang lain tak harus merubah keyakinan pada detak jantungmu sendiri, bukan? Jika kau memiliki kepercayaan di dalam hatimu. Maka alam semesta bersama seluruh penghuninya akan bersamamu. Aku sangat percaya pada hal itu. Karena aku telah membuktikannya.
Aku tidak sekolah di sekolah menengah atas normal yang biasa anak remaja masuki untuk menyelesaikan program wajib belajar dua belas tahun mereka, tidak. Tidak juga seperti Gana yang punya darah biru keturunan ningrat Solo. Aku ini hanya anak super biasa yang lahir dari keluarga yang biasa saja juga. Sama sekali tidak ada keren-keren atau istimewanya mentang-mentang aku bisa kuliah di fakultas kedokteran juga. Tidak, tidak seperti itu. Yang ada malah pemimpin keluarga kami alias ayahku yang sejak awal sudah beri aku ultimatum, kesepakatan akan apa yang saat ini aku jadikan pilihan, menjadi seorang tenaga kesehatan yang kenakan jas putih,
”Jika kamu tetap ingin jadi dokter, itu berarti di saat sama kamu juga harus bisa ikut membantu keuangan keluarga. Karena biaya pendidikan jadi dokter itu bukanlah sesuatu yang murah bahkan untuk orang seperti kami juga.”
Akhirnya aku terpaksa masuk ke jurusan Teknik Komputer Jaringan. Dan bekerja setelah lulus.
Aku lakukan semua dengan terpaksa. Yang membuatku kuat, aku tetap percaya. Suatu saat nanti aku pasti bisa jadi dokter. Dan kelak bisa bertemu lagi dengan Mizushima sensei.
Kalau sekarang tidak suka, tetap coba jalani saja. Karena itulah yang akan bawa dirimu menuju impian yang jauh lebih besar serta memiliki makna. Bisa jadi bahkan jauh lebih baik dari yang selama ini kamu pikir atau pernah bayangkan. Jangan terlalu berburuk sangka pada bagaimana Tuhan mengatur kehidupan. Aku percaya Ia pasti memiliki sesuatu sebagai kejutan apabila kita terus bersabar. Sebuah impian besar yang lahir dari lubuk hati paling dalam seorang manusia, masa cobaan untuk mewujudkannya hanya sedikit?
(Ini saja aku sudah berusaha keras dan panjang untuk dapat cintamu ternyata masih hanya begini saja, huu, sediihh.)
Kamelia, suatu saat aku akan mengatakan ini semua padamu. Aku sangat ingin kau selalu merasakan bahagia dari lubuk hati paling dalam.