Sebuah pemakaman umum terbentang sepanjang mata memandang. Dinar berdiri di belakang Yuda yang sedang bersimpuh di samping sebuah nisan. Wajah sedih Yuda, bak mengisyaratkan pada Dinar kalau orang yang ada di dalam makam itu adalah orang yang paling berarti bagi suaminya itu. Nama yang ada di batu nisan itu sudah kebus. Bak nisan yang memang sudah cukup lama. Atau bisa juga karena nisan terbuat dari bahan kayu. Makanya tulisan tak tahan puluhan tahun "Dinar. Sini." Yuda memanggilnya dengan sedikit menoleh. Dinar maju dua langkah ikut berjongkok seperti Yuda. "Ini mama kandung saya," kata Yuda. "Ibu mertua kamu Dinar," terangnya lagi. Yuda menatapnya lekat Dinar dengan mata yang berair. Dinar mengangguk kecil seolah mengisyaratkan kalau ia mengerti maksud Yuda. "Assalamu'alaikum, M

