Gadis itu terkekeh. “Tenang saja, aku tidak akan menceritakan ini pada siapapun. Sekarang aku akan memelukmu dengan sangat erat.” “Peluk saja, aku benar-benar tidak akan terbawa perasaan. Kau sudah aku anggap seperti adik sendiri.” “Hm, nyaman sekali. Kau tampan Demian, jadi percaya dirilah pada Zua. Apa yang kau takutkan? Padahal situasimu sangat baik.” Demian menghela sembari mengusap rambut Kaena. Lengan kemeja yang dia gunakan sudah di tarik sampai suka, dan jas yang dia pakai tadi di pakai untuk menutup tubuh Kaena yang terbuka. “Kita masih terlalu muda, hanya saja dewasa oleh keadaan. Zua belum memikirkan apapun tentang cinta jadi bagaimana bisa aku meminta hatinya di berikan kepadaku.” “Setelah aku pikir ini benar juga, kita semua tak lagi seperti anak-anak yang hanya main game

