Chapter Twenty Four Hari yang melelahkan, setelah mengikuti Thomas sekarang aku sudah ada dirumah Nenek Thomas, untung Thomas belum datang, tadi setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Alin yang memohon kembali pada Thomas, dan bagaimana Thomas yang dengan tegas menolak membuat perasaan sayangku padanya semakin membuncah, aku sekarang semakin yakin aku tidak salah lagi menitipkan hatiku, eyaaa memang penitipan barang ya Thomas. Kucoba menghubunginya karena dia berjanji akan bertemu dengan teman kuliahnya dulu yang sekarang membuka effent organiser terbesar di Jakarta, siapa ya kemarin Thomas bilang namanya, oh ya Freya. "Halo sayang, lagi ada dimana? Jadi enggak sih ke tempat WOnya?" dia sepertinya ada dijalan nih, ketahuan dari banyaknya suara knalpot mobil dan bunyi

