Chapter Two

1301 Kata
Bertemu lagi dengan keluarganya setelah hampir 10 tahun berpisah harusnya kangen tapi tidak buat Selena yang dia rindukan hanya dua orang tercintanya yang pertama ya Ayahnya, biasanya Ayahnya yang mengunjunginya di Aussie, yang kedua ya kekasihnya mereka pacaran sudah tiga tahun tapi setahun belakangan mereka mesti LDRan karena kekasihnya sudah lulus lebih dulu dan mesti balik duluan. Dave, nama kekasih Selena. Mereka bertemu di tahun pertama Selena menjadi mahasiswi, awalnya Selena tidak terlalu memperdulikan seorang senior yang dengan terang-terangan selalu melakukan pendekatan kepada Selena. Selena tahu apa yang diinginkan senior itu, tapi dirinya tidak mau berpacaran terlebih dahulu. Akan tetapi setelah perjuangannya selama hampir tiga bulan akhirnya Selena menyerah dengan pesona Dave. Mereka berpacaran dengan syarat No s*x before merriage. Dave sangat mencintainya, itulah kenapa Selena juga sangat mencintainya. Dia percaya Dave tidak akan mengkhianatinya. Walau mereka berhubungan jarak jauh tapi cinta mereka tidak akan goyah, setidaknya itulah yang dipercaya Selena. Selena pulang ke Indonesia saja tidak memberitahu  kekasihnya itu. Dave, Ya nama kekasihnya itu,  Dave itu cinta pertamanya, Dave juga bilang jika Selena juga cinta pertamanya. Selena adalah cinta pada pandangan pertamanya Dave, mereka saling jatuh cinta dan pacaran. Bahkan sebelum Dave pulang ke Indonesia untuk meneruskan bisnis keluarganya, Dave terlebih dahulu melamarnya. Bahkan kedua orang tua mereka sudah merestui hubungan mereka. Selena sangat bahagia, sekarang dia sudah kembali dan mereka tidak akan berpisah lagi. Selena berencana melamar kerja disini. Dia tidak mau bekerja di kantor milik ayahnya karena kak Angel yang akan meneruskan bisnis Ayahnya. Dia tidak berhak, setidaknya itu yang ditanamkan tante Sisil padanya. Ah...barangkali dia akan bekerja di kantor Dave saja, pikirnya dengan sumringah. Berpikir akan segera bertemu dengan kekasih setelah satu tahun terpisah pasti akan menyenangkan. Dan sekarang dia mau kasih kejutan, Selena baru saja menghubungi Dave, menanyakan dimana Dave saat ini. Alangkah sedihnya Selena saat Dave bilang dirinya sedang tidak enak badan dan tidak bekerja. Dave sedang istirahat di apartemen. Jadi Selena memutuskan membuat bubur kesukaan Dave. Ya, Dave sangat suka masakan Selena. Ah Selena jadi makin kangen sama Dave. Enggak sabar secepatnya melepas kangen, karena setahun tidak bertemu. Selena tiba didepan apartemen Dave, Dave pernah memberi tahu passwordnya, jadi Selena tidak perlu memejet bell, Selena memperhatikan ruangan apartemen Dave sangat bagus, diapun masuk ada dua kamar tidur, sebelum memutuskan masuk yang mana dulu, dia mendengar suara dari salah satu kamar, tapi seperti suara... Ah paling Dave lagi nonton film gituan, karena Dave bukan orang seperti itu, selama mereka pacaran Dave menghargai prinsip Selena No s*x before merriage. Diapun langsung membuka pintu kamar tersebut, dan yang dilihatnya begitu menusuk hatinya, kekasih dan kakak tirinya sedang beradegan ranjang yang sangat panas, mereka saling melumat, menindih, mendesah, Dave masih asyik memasukkan juniornya ke ms. V  kakaknya. Selena cuma bisa terpaku melihat itu. Dadanya bergemuruh terasa sesak. Jantungnya seakan ditusuk sembilu. Sakit. Ditepuknya Dadanya untuk mengurangi rasa sakitnya. Tapi sakit itu tidak juga hilang. Apa ini yang dilakukan oleh kedua orang terdekatnya dibelakangnya selama ini? Sejak kapan? Tanyanya pada dirinya sendiri. "Davee ..." desisnya, rasanya sakit, air matanya tidak bisa ditahan lagi, digigitnya bibir bawahnya untuk menahan isakannya Bagaimana mungkin kekasih yang sangat dicintanya, bisa mengkhianatinya seperti ini, tubuhnya luruh, badannya terasa lemas. Lututnya tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya, tubuhnya jatuh terduduk, dipukulnya Dadanya yang  sakit. Dave yang menyadari kehadiran Selena langsung mendorong Angel dari atas tubuhnya, dia bergegas memakai celana dalamnya yang berserakan serta memakai pakaiannya dengan terburu buru. Penyesalan memenuhi perasaannya, dia sudah membuat kekasihnya menangis karenanya. Ini untuk pertama kalinya Dave melihat kekasihnya itu menangis. "Sayang, kenapa tidak memberi tahu kalau mau datang kan bisa kujemput" sahutnya pelan, mencoba mencari tahu reaksi Selena. Bahkan dia tidak sanggup meminta maaf pada kekasihnya itu. "Jangan mendekat, jerk, I'm stupid i***t, din't you think?, how dare you!!" Teriak Selena "Sayang, aku bisa jelasin, ini enggak seperti yang kamu pikir." Dave masih mencoba membujuk Selena lembut. Selena buru-buru menghapus air matanya dan berusaha bangkit. Dia pantang dikasihani, dan itu yang dilihatnya dari mata Dave. Lelaki itu bahkan mencoba menyangkal apa yang ada di depan mata, sinis Selena dalam hati. Si b******k itu bahkan tidak meminta maaf, pikir Selena miris. "Lalu kau pikir aku buta, jelas-jelas kalian sudah melakukan hal yang menjijikkan itu, kamu mau jelasin apa lagi? Kalian bener-bener b******n, kak bukannya sebentar lagi kakak bakal menikah ... oh ... jangan bilang kalau calon suami kakak itu tunanganku, kalian tega ya , selamat ya mantan tunanganku. Kita selesai Dave,” kata Selena dengan suara bergetar dilepaskannya cincin pemberian Dave sebagai tanda Dave melamar Selena sebelum kepulangannya ke Indonesia. Dilemparnya cincin itu ke wajah Dave dengan emosi membara, “ah ... Selamat kak, aku enggak nyangka kakak sama liciknya dengan mami kakak, tukang tikung, dulu ibuku sekarang aku dasar bicth ... Dan lo juga Dave gue jijik sama lo dan lo, kalian memang pasangan serasi," teriak Selena, nafasnya tersengal karena amarah. Telunjuknya menunjuk ke arah Dave dan juga Angel yang masih di atas tempat tidur dengan badan tertutupi selimut. "Ya Allah ... cobaan apa lagi Tuhan," jerit batinnya pilu. Tanpa melihat reaksi dua pasangan m***m itu dia bergegas keluar dari apartemen Dave. Rasa marah, sedih, kecewa, jijik dia rasakan salahkah dirinya jika tidak percaya lagi dengan cinta dan persaudaraan. Batinnya hampa, dia kemana? Rumahnya sekarang bukan lagi tempatnya pulang, teman disini dia tidak punya. Setelah merenung akhirnya dia mengambil keputusan, diapun menghubungi seseorang "Yah ... Aku tidak bisa pulang ke rumah selama ada tante Sisil dan Angel, aku sudah tahu semua perselingkuhan Dave dan Angel.  kecewa Yah,” kata Selena setelah terdengar sahutan dari seberang. "Ada apa sweetheart, apa mereka menyakitimu?" "Bukan fisikku Yah, tapi jiwaku bagaimana Ayah mengijinkan mereka menikah, bukankah kau tahu hubunganku dengan Dave, kami bahkan bertunangan di depan kedua keluarga dan kenapa kau tidak bilang apa pun Yah dan sampai kapan kalian menyembunyikan kebenaran hubungan mereka dariku, Dave kekasihku, tunanganku berselingkuh dengan kakak tiriku dan kalian tidak memberitahuku Yah, kalau tante Sisil aku maklum karena dari kecil dia sudah tidak suka denganku, tapi kenapa Ayah juga, apa artiku bagimu Yah? apa aku bukan putrimu lagi?" ratapan Selena tidak terbendung lagi, rasa kecewanya sudah memuncak bahkan Ayahnya juga. Ya karena mereka sudah mau menikah pasti kedua keluarga sudah bertemu, keluarga Dave juga, padahal selama ini dia sering bertemu Wilona adik Dave di Aussie, tapi gadis itu tidak pernah menyinggung masalah hubungan Dave dan kakaknya, mereka menganggapnya apa? Sampai kapan mereka menganggapnya seperti badut? Apa mereka menertawainya? Apa bagi mereka Selena begitu lucu? Selena sungguh kecewa dengan semua orang, dia juga menyalahkan dirinya sendiri karena begitu bodoh. "Aku juga kecewa sama Ayah, kayaknya aku balik ke Aussie lagi saja Yah, aku sudah tidak punya alasan tetap tinggal disini," sahutnya lagi lirih sambil menyeka air matanya yang masih terus jatuh, rasanya sakit sekali Tuhan. "Sweetheart, apa Ayah tidak cukup buatmu   buat tinggal," jawab Ayahnya pelan, dia sadar sudah mengecewakan putri kesayangannya, tapi Angel ... “Maaf Ayah, aku kecewa padamu,” ujar Selena sendu, “aku juga tidak cukup buat ayah kan?” “Apa maksudmu? ”tanya Ayah Selena. “Aku tidak cukup buat Ayah, sehingga Ayah menikahi tante Sisil,” akhirnya Selena mengucapkan apa yang selama ini dia pendam, “aku tidak berarti kan buat Ayah, Ayah membenciku kan?” “Apa maksudmu nak?” “Maaf, bisakah ayah mengirim barangku ke alamat yang nanti Selena tulis lewat pesan,” kata Selena tanpa menjawab pertanyaan Ayahnya, “tapi kalau ayah merasa direpotkan biar aku suruh orang mengambilnya ke rumah.” “Baik kirimkan saja kemana Ayah harus mengirimnya,” “Terima kasih dan Selena juga minta maaf sama Ayah, maaf sudah hadir di dunia ini,” kata Selena sebelum dia menutup panggilannya. Dia langsung memanggil taxi. Ponselnya terus berbunyi, diliriknya sebentar. Panggilan dari Dave, tak dihiraukannya. Entah berapa kali ponselnya berbunyi. Pengemudi taxi meliriknya melalui kaca tapi Selena tidak peduli, air matanya tak juga bisa di bendungnya. Kebahagiaan yang tadi pagi di rasakannya kini entah kemana? Berganti rasa sakit yang entah kapan akan menghilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN