Siblings

1002 Kata

"Maaf, Kak. Untuk kereta ke Surabaya, terakhir jam setengah sepuluh tadi. Kalau mau, beli tiket kereta untuk besok pagi, Kak. Kereta pertama ke Surabaya berangkat pukul setengah sepuluh pagi." Ucapan petugas loket sungguh menyakitkan Rhea. Harapannya yang menyala bak cahaya lilin seperti sirna ditelan kegelapan begitu saja. Bagai secercah bintang mati yang ditelan lubang hitam di angkasa luas sana. Hilang, tak bersisa barang setitik pun. Rhea rasanya ingin menangis lagi. Kakinya lemas, tak mampu berdiri lagi. Sagas membimbing Rhea untuk duduk di kursi tunggu yang terletak di dekat loket. Mata Rhea lagi-lagi basah. Pikiran-pikiran di kepalanya berkecamuk tak mau tenang. Seperti gejolak api yang melahap suatu barang dan mengubahnya jadi jelaga. Tak banyak yang bisa Sagas lakukan. Dia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN