POV Claire
Dalam hidupku, aku terbiasa diam. Tak pernah mengeluh, bahkan saat ibuku terbaring bersimbah darah di hadapanku. Air mata mungkin jatuh, tetapi suara ratapan tak pernah keluar dari bibirku.
Sejak Ibu pergi, Ayah mendadak menjadi sosok yang hangat—atau setidaknya tampak demikian. Namun aku tahu, kehangatan itu bukan kasih sayang. Ia hanya sebuah topeng, dibentuk dari ambisi dan keputusasaan. Bagi ayahku, Jacques Alizée, aku bukan putri, melainkan pion dalam catur kekuasaannya. Aku dijadikan tameng, umpan yang ia sodorkan ke setiap meja perundingan demi menyelamatkan kerajaannya yang perlahan runtuh.
Dulu, ia adalah raja di antara para gangster. Kini, ia hanya bayang-bayang masa lalu yang diselimuti utang dan reputasi yang tercabik. Ketika semua pintu tertutup, ia mengetuk pintu keluarga Dubois—kekaisaran gelap yang masih berdiri tegak di antara reruntuhan nama-nama besar.
Hari itu, aku diajak ke mansion mereka. Kukira kami akan membahas kerja sama, seperti biasanya. Namun kenyataan yang kutemui jauh dari dugaanku.
Di sebuah ruangan bernuansa temaram, aku duduk di samping Ayah. Di hadapan kami, duduk seorang pria paruh baya dengan bekas luka panjang di alisnya—Lukee Dubois. Uban telah merambati rambutnya, tetapi pesonanya tak pudar. Wajahnya penuh wibawa, namun sorot matanya menyimpan bahaya. Dan senyumnya—senyum menyeringai yang menusuk sanubari saat ia memandangku.
“Jacques,” katanya, suara beratnya menggema, “putrimu memang seindah yang dikabarkan. Tapi aku tak bisa menerimanya sebagai selir. Kau tahu aku sudah punya lima di mansion ini.”
Degup jantungku berhenti seketika. Mata kami bertemu, dan aku memandang Ayahku dengan penuh tanya: Benarkah kau ingin menjualku pada pria yang seumur denganmu? Namun Ayah hanya duduk diam, tak menunjukkan rasa bersalah.
"Aku menjaganya dengan baik. Dia... masih suci," ucapnya enteng. Seolah aku benda yang siap diperjualbelikan.
Darahku mendidih. Aku ingin berdiri dan menamparnya, namun sebelum aku sempat bergerak...
Plak!
Sebuah tamparan keras dari Lukee mendarat di pipi Ayahku.
Lukee tertawa lirih, lalu mendengus tajam. “Aku memang tak punya putri, Jacques. Tapi mendengarmu berkata seperti itu membuatku muak.”
Entah kenapa, ada secercah rasa haru di dadaku. Pria itu—sekejam apa pun—masih memiliki batas untuk harga diri seorang perempuan. Kami sempat saling pandang, dan di balik kekakuan itu, aku merasa... dilindungi.
Lalu, pintu diketuk.
“Masuk,” kata Lukee.
Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, aku melihatnya—Kairos Dubois. Sosok pria dengan sorot mata setajam bilah pedang dan dahi yang mengernyit seolah dunia ini tak layak baginya.
Sosok yang menggetarkan dunia mafia.
Akhirnya... aku melihatnya.
Dia... Kairos.
“Waktunya makan siang, Ayah,” ucapnya pelan. Suaranya berat, dalam, dan menggema di hatiku seperti bayangan badai yang akan datang.
Lukee tersenyum bangga. “Baiklah, ayo kita makan bersama.”
Aku dan Ayah hanya bisa menurut, membisu.
Mansion itu mewah, megah... namun nuansanya gelap, seolah menyimpan rahasia berdarah di setiap sudutnya. Saat aku memandang Kairos, tanpa sengaja tatapan kami bersitatap. Aku mencoba tersenyum, namun dia justru memalingkan wajah—dingin, kaku, dan... tak tersentuh.
Kami duduk, menyantap makanan yang mewah. Rasa lapar menyesakkan perutku sejak pagi; Ayah melarangku makan agar penampilanku tetap "sempurna."
Sungguh ironis, aku merasa lebih seperti boneka pamer daripada manusia.
“Makanlah yang banyak, Nona Alizée. Kau pasti lapar,” kata Lukee lembut.
Aku hanya mengangguk, menahan segala getir dan marah yang menggumpal di dadaku.
Setengah jam berlalu dalam sunyi. Setelah kami selesai makan, aku kira waktunya pulang. Tapi Ayahku tak bergerak. Jantungku kembali berdetak tak karuan.
Apakah... apakah dia masih ingin menyerahkan aku pada Lukee?
Tapi yang terjadi justru lebih mengejutkan.
“Dia putra ketigaku, namanya Kairos Dubois,” kata Lukee, menatap Ayahku. “Kau pasti tahu siapa dia.”
Ayahku mengangguk.
“Kalau begitu, kita nikahkan saja mereka berdua.”
Segalanya membeku.
Aku. Ayah. Bahkan napas di dadaku terasa berhenti.
“Apa kau bersedia, putraku?” tanya Lukee pada Kairos.
Kairos menatapku—dalam, menusuk, namun tak menyentuh perasaan apa pun.
Ia tidak bertanya padaku. Tidak tersenyum. Tidak menyentuh. Hanya satu kata dari bibirnya yang membungkam segalanya:
“Ya, Ayah.”
Aku melirik ayah, terlihat jelas senyumnya mengembang yang menjelaskan segalanya.
Tak satu pun dari mereka bertanya apakah aku setuju.
Karena di dunia mereka, kehendak perempuan tak pernah penting.
---
Sejak hari itu, kami tidak pernah bertemu lagi. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, bahkan sekadar tatapan pun tak pernah ada. Aku hampir melupakan seluruh kejadian di mansion Dubois—perjodohan absurd yang dilemparkan begitu saja ke pundakku seperti batu ke danau.
Sampai malam itu tiba.
Seorang kolega Ayah yang juga seorang gangster ternama mengadakan pesta besar untuk merayakan keberhasilannya menaklukkan sebuah kasino di perbatasan. Aku, seperti biasa, menemani Ayah menghadiri acara tersebut. Gedungnya megah, penuh hiasan emas dan kilau lampu kristal. Musik jazz mengalun samar dari sudut ruangan, namun atmosfernya tetap dipenuhi dengan aura kekuasaan dan keangkuhan.
Saat kami melangkah masuk ke aula utama, mataku tanpa sengaja tertuju pada satu sosok. Punggung itu... meskipun aku hanya melihatnya sekali, aku langsung mengenalinya. Kairos Dubois. Ia berdiri di sisi sang tuan rumah, berbincang dengan tenang, namun aura yang terpancar dari dirinya begitu dingin dan tak tersentuh.
Tak lama kemudian, Kairos berbalik. Langkahnya tenang dan penuh percaya diri, seperti raja yang berjalan di atas takhta dunia kelam ini. Dan saat kami saling berpapasan, tidak ada yang terjadi. Tidak ada anggukan. Tidak ada sapaan. Tidak ada pengakuan akan keberadaanku.
Ia hanya lewat di sampingku begitu saja, tanpa menoleh. Namun... aku yakin mata kami sempat bertemu. Meski hanya sekilas. Meski hanya sependek helaan napas. Tapi kenapa ia tampak seolah tidak mengenaliku?
Tiga pria menyusul di belakangnya, mengikuti dalam formasi yang rapi. Tiga langkah di belakang punggung Kairos, mereka seperti bayangan yang setia—pengawalnya. Salah satunya, yang bertubuh tinggi dengan mata tajam seperti serigala, sekilas menatapku. Ada sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang. Mereka bukan pengawal biasa. Mereka... seperti hewan buas yang tahu kapan harus diam, kapan harus menerkam.
Tiga hari setelah pesta itu, seseorang datang ke kediamanku.
Seorang pria muda berpakaian hitam rapi berdiri di depan pintu dengan sikap sopan namun kaku. “Saya datang atas nama Tuan Kairos Dubois,” ucapnya singkat. Ia menyerahkan sebuah bingkisan berbalut kain beludru hitam, dengan segel emas berbentuk lambang keluarga Dubois tersemat di atasnya.
Aku membuka bingkisan itu dengan tangan gemetar.
Di dalamnya, sebuah buku.
Sampul kulitnya tampak mahal, dan lambang Dubois terukir dengan ukiran yang nyaris angkuh. Namun ketika aku membuka halaman pertamanya, jantungku seperti terhempas. Mataku membelalak. Di dalamnya terdapat gambar-gambar vulgar, tak senonoh, disertai dengan penjelasan detail mengenai hubungan fisik antara pria dan wanita. Tubuhku mendadak panas dingin, rasa jijik, marah, dan malu bercampur menjadi satu.
Apa maksud dari ini semua?
Apakah ini semacam peringatan? Ancaman? Atau... persiapan?
Aku merasa dilecehkan, direndahkan. Namun, bagian paling menyakitkan bukan pada isi buku itu—melainkan pada kenyataan bahwa Kairos telah mengatur semuanya tanpa sekalipun berbicara denganku. Tanpa memberi kesempatan bagiku untuk memahami, menjelaskan, atau bahkan sekadar mengeluh.
Beberapa hari kemudian, kabar mengejutkan lainnya datang. Tanggal pernikahan yang sebelumnya dijadwalkan sembilan bulan ke depan, dipercepat menjadi hanya tiga bulan dari sekarang. Dan bukan hanya itu—segala hal mengenai pernikahan itu, dari undangan hingga pemilihan gaun, semuanya berada di bawah kendali Kairos Dubois.
Aku tidak pernah ditanya.
Tidak pernah dimintai pendapat.
Seolah-olah keberadaanku hanyalah hiasan di dalam rencana besar yang telah ia susun rapi.
Apa yang sebenarnya dia rencanakan?
Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku?
Dan lebih dari segalanya... siapa sebenarnya pria bernama Kairos Dubois itu?