5. Mendadak Tunangan

1565 Kata
Chala menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, hari yang begitu melelahkan benar-benar menyerap tenaganya. Tentang kejadian yang di lakukan oleh Rasya, Chala memilih untuk tidak bercerita kepada kedua orang tuanya, selain karena masalah sudah selesai, dia juga tidak ingin membuat sang papa marah dan berakhir memperpanjang masalah. Papanya pasti tidak akan tinggal diam, beliau akan menghubungi pengacara dan membawa masalah tersebut ke meja hijau. Kasus kembali terbuka. Tentu Chala tahu jika hal tersebut adalah sebuah tanda sayang sang papa untuk melindunginya, tapi Chala memang tidak ingin memperpanjang masalahnya. Jadi, diam adalah pilihan terbaik kali ini. Kecuali di kemudian hari Rasya kembali datang dan mengganggunya, Chala akan berbicara kepada sang papa. Karena jika sampai itu terjadi, level nekat seorang Rasya sudah sangat mengganggu dan menakutkan. Ponsel di atas nakas berbunyi, menandakan sebuah notifikasi masuk. Tanpa mengubah posisinya, Chala mengulurkan tangan ke nakas yang memang ada di samping tempat tidur dan mengambil ponselnya. Pop up di layar kaca menampilkan sebuah pesan dari Fajar. Tanpa menunggu lama, Chala membuka pesan yang di terimanya. Fajar Chal, udah nyampe rumah belum? Chala mengulum senyum, lalu membalas pesan Fajar, mengatakan jika dia sudah tiba di rumah. Tidak mendapatkan balasan pesan lagi, Chala malah mendapat panggilan telepon dari Fajar. Setelah menekan tombol hijau, Chala menempelkan layar ponsel ke telinganya. "Chal" panggil Fajar. "apa Jar?" "beneran udah di rumah?" "udah. Gue udah nyampe rumah dengan selamat" "syukurdeh" "kenapa sih? lo di mana?" "gak apa-apa. Gue cuma mau memastikan, cewek cantik sampai rumahnya dengan selamat" Chala langsung tertawa "tenang-tenang, si cewek cantik ini aman" sahut Chala dengan percaya diri. "baguslah. Lo kalau ada apa-apa, papa lo pasti gerak cepet, terus tahu kalau lo abis ketemu gue, bisa jadi gue langsung yang kena tuduhan" Fajar berbicara dengan nada santainya. "lo inget sama bokap gue?" "ingetlah, cuma bapak lo doang yang berani ngajak guru buat duel one by one" Chala kembali tertawa saat Fajar membawa ingatan masa lalu. Saat itu, ada seorang guru laki-laki yang menyebalkan, karena sebuah kesalahan kecil, Chala di hukum begitu berat, dia harus jalan sambil berjongkok mengelilingi lapangan sampai sepuluh putaran hingga kakinya keram, sakit dan tidak bisa berjalan esok harinya. Semua bermula saat guru tersebut mengira jika Chala menunduk di tengah pelajarannya karena bermain ponsel, padahal Chala sedang kesal karena pulpen yang di pakainya jatuh ke rok dan membuat garis noda. Besoknya, papa Valdo datang, marah besar, memberikan dua pilihan kepada guru yang menghukum Chala, membawa masalah ke kantor polisi atau mereka duel. Beruntung bunda Qiana berhasil menenangkan papa Valdo hingga masalah tersebut bisa di selesaikan dengan cara lebih baik. "sumpah ya, pas gue masuk sekolah empat hari kemudian, anak kelas pada heboh banget ngomongin bokap gue" "ya lo pikir aja, ada wali murid marah sampai nantangin, gimana gak heboh, antara keren sama buset, bokapnya Chala normal?" "sialan lo! gue bilangin bokap gue lo!" ancam Chala bercanda. "janganlah! bisa-bisa besok di lobi kantor gue bokap lo udah ada terus nantang gue duel" "lebay lo! tapi bisa jadi sih" "nah kan, beneran sih, kalau lo bilang, kemungkinan ya gue di ajak duel" "itu tanda sayang tahu. Meskipun bar-bar, gue tetep bangga. Bokap gue bener-bener jaga gue dan keluarga dengan segitu hebatnya." "ya, gue tahu, dan gue salut. Terus tentang si cowok jelek itu, lo udah bilang?" "bahasa lo, jelek. Tapi emang gak begitu ganteng sih" sahut Chala sambil tertawa. "lah bener, buat gue, dia jelek, kalau lo cewek terus bilang dia ganteng, sakit mata lo" "lah, gue gak bilang dia ganteng ya Jar!" "ya bagus! mata lo masih normal" "asem lo!" "jadi gimana?" "gimana apanya?" "ah elah, lo dokter tapi kok oon" "Fajar!" Fajar tertawa kencang "canda Chal, lo mah pinter, bilang gak belajar tapi ulangan lo lancar. Emang paling pinter lo" "lo nyindir? jelas lo si olimpiade" "udah cepet, lo bilang gak ke bokap lo tentang si jelek itu?" "engga. Gue gak bilang" "kenapa? lo demen dia?" "ngaco lo! gue cuma gak mau memperpanjang masalah aja, lo tahu sendiri bokap gue. Lagian masalahnya juga udah selesai, jadi ya udah, gue gak mau ambil pusing lagi" "iya, gak usah ambil pusing, ambil hati gue aja" "hah?" "bye Chal" Chala hanya bisa mengerjapkan matanya setelah sambungan telepon itu di tutup tiba-tiba. *** Dua bulan berlalu, hubungan Chala dan Fajar semakin dekat, obrolan yang nyambung, candaan yang sefrekuensi, membuat Chala merasa nyaman berada di dekat Fajar. Tapi seperti biasanya, bagi Chala, Fajar tidak lebih dari seorang teman. Dia nyaman dengan Fajar, hanya sebatas teman. Tidak lebih. "a***y, ibu dokter masih kece aja, padahal pulang kerja" Chala tertawa setelah duduk di kursi mobil milik Fajar, hari ini Fajar mengajaknya pergi ke sebuah tempat dan Chala sendiri tidak tahu. "lah, emang dokter gak boleh kece?" Chala balik bertanya. "boleh lah, apasih yang gak boleh buat lo?" "gombal. Cepet jalan" "siap, bos" Fajar mulai mengendari mobil menuju tujuan yang masih dirahasiakan, setiap kali Chala bertanya, Fajar hanya akan menjawabnya hanya dengan kata rahasia. Sungguh menyebalkan. Bagi Chala, Fajar itu sosok yang hebat, dia memiliki semangat yang luar biasa. Salah satu yang jelas adalah perubahan fisiknya, dulu Fajar memiliki berat badan yang besar, tidak sedikit siswa lain menjadikan Fajar sasaran bully mereka. Tapi kini, tidak ada lagi Fajar yang gemuk, yang ada hanyalah Fajar yang bertubuh tegap, berbahu lebar dan berdada bidang. Karir nya sebagai karyawan di salah satu perusahaan iklan juga cukup bagus, gajinya cukup besar. Hampir satu jam di perjalanan, mobil yang di kendarai oleh Fajar berhenti di sebuah rumah dua lantai. "rumah siapa, Jar?" tanya Chala. "rumah gue. Yok turun" Fajar melepas sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil. Chala menyusul, wajahnya sangat jelas jika dia masih bingung. "mau ngapain?" tanya Chala. "ketemu mama gue" "mama lo?!" Chala cukup terkejut. "ayo" Fajar menarik tangan Chala begitu saja. "Fajar, jangan gila, Fa-" protes Chala terhenti saat pintu rumah terbuka tiba-tiba dan muncul sosok wanita paruh baya. Chala langsung menegakkan tubuhnya, tersenyum canggung. "mama, ini Chala" Fajar langsung mengenalkan Chala. "Chala, tante" Chala menjabat tangan mama Fajar. "akhirnya datang juga, ayo masuk" Chala mengikuti Fajar masuk ke dalam rumah, demi apapun, dia belum tahu apa yang akan di lakukan Fajar dan tujuan dia membawa Chala ke rumahnya. Bertemu orang tuanya. Untuk apa? Duduk di ruang tamu, Chala memilih tidak mengatakan apapun, mama Fajar juga tidak terlihat keberadaannya. Tapi baru saja Chala akan bertanya, sosok tersebut datang dengan membawa nampan yang di atasnya ada sebuah gelas. "di minum Chal" ucapnya lalu meletakkan gelas tersebut di hadapan Chala. "terima kasih tante" "kok tante?" Chala diam, bingung, tidak mengerti maksudnya. "mama, panggil mama, jangan tante. Kalau kamu jadi istri Fajar, kamu kan panggilnya mama" Chala hanya tersenyum canggung dengan apa yang di ucapkan mamanya Fajar. Apa semua ibu-ibu memang selalu mengatakan hal tersebut? tapi, ini adalah kali pertama Chala datang. "gimana Jar? kalian udah tentuin tanggalnya?" tanya mama Fajar. "belum, Fajar belum tanya Chala" jawab Fajar. "loh, kok belum? kalian serius gak sih mau tunangan?" "tunangan?!" refleks Chala bertanya dengan suara cukup keras. "kok kamu kaget? emang kalian belum ngobrol?" "ngobrol apa ma? Fajar gak ada bilang apa-apa sama saya" jawab Chala. "Yaudah, kalian obrolin sekarang. Intinya, mama mau pertunangan kalian di lakukan dalam waktu cepat" tegas mama Fajar langsung bangkit dan pergi. Chala langsung menatap Fajar "lo gila!" kesalnya lalu ikut bangkit dan melangkah ke pintu keluar. "Chal, denger dulu" Fajar menahan tangan Chala. "lepas, gue mau balik" Chala menghempaskan tangan Fajar. Pria itu ternyata lebih gila dari Rasya, bisa-bisanya Fajar berbicara pertunangan kepada orang tuanya. Hubungan yang sudah membawa orang tua ke dalamnya akan terasa berat. Karena artinya hubungan itu sudah serius. Tapi Chala dan fajar saat ini bahkan hanya sebatas teman. "oke. Gue anterin dan kita bicara" tegas Fajar lalu kembali meraih tangan Chala dan membawanya masuk ke dalam mobil. Suasana dalam mobil benar-benar sunyi, tidak ada yang bersuara, Fajar fokus dengan jalan raya dan Chala dengan pikirannya. Sampai akhirnya mobil berhenti di jalan cukup sepi dan Fajar memiringkan tubuhnya menghadap Chala. "oke. Kita bicara sekarang" "lo gila! bener-bener gila, Jar!" maki Chala langsung. "Denger Chal, gue gak gila, tapi mau sampai kapan hubungan kita begini?" "hubungan apa maksud lo?" "Chala!, gak ada hubungan temen kaya kita berdua, jalan bareng, makan bareng, jemput kerja, gak ada Chal, semua itu di lakuin hanya sama orang yang lebih dari temen. Kita juga udah terlalu dewasa buat ngelakuin tembak menembak ala bocah. Gue mau kita langsung ke jenjang serius. Komitmen itu lebih penting Chal" Chala menatap Fajar, tidak percaya jika ternyata selama ini Fajar memiliki pandangan yang berbeda tentang hubungan mereka berdua. "gak, gue gak mau!" tegas Chala. "kenapa? kenapa lo gak mau? Yang selama ini udah kita lewati apa masih kurang?" "Fajar! gue gak mau nikah!" bentak Chala. "gue gak mau nikah kalau akhirnya cerai, gue gak mau kaya perempuan di luaran sana yang jadi janda di usia muda, gak!. Gue gak mau! nikah tuh gak mudah ya Jar. Gak bisa lo tiba-tiba bawa gue ke hadapan mama lo dan kita bicara pertunangan, Gak bisa!" "gue tahu, tapi lo udah gak muda lagi Chal! lo udah terlalu tua untuk di sebut muda. Lo gak akan cerai di usia muda, masa itu udah terlewati di usia lo! gue juga gak bilang kalau nikah itu gampang. Tapi Chal, calon suami lo itu gue! cowo yang udah lama lo kenal, cowo yang udah cocok dengan lo, cowo yang udah ngerti lo, lo pikir itu gak bisa di jadikan dasar buat kita nikah? bisa!" "Gue gak cinta sama lo!" "bullshit!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN