“Sorry, gue telat dikit.” ucap Reihan sambil mendudukkan dirinya.
“Gue juga baru nyampai,” jawab Dewa dengan tersenyum.
Mereka berdua kemudian berbincang dengan raut wajah yang tampak serius sambil menyeruput kopi perlahan. Setelah pembicaraan serius selesai, mereka melanjutkan obrolan tentang hal-hal yang tidak penting.
“Bagaimana kabar Ana? Kapan nih, gue punya ponakan, Bro?” tanya Dewa sambil menepuk pundak Reihan.
“Hah … ponakan apanya? Menyentuhnya aja gue nggak sudi, apalagi harus punya anak dari wanita seperti itu,” batin Reihan sambil bergidik jijik.
Tentu saja Reihan tidak suka mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut sang sahabat. Padahal dulu dia sudah pernah memberi tahu Dewa mengenai rencananya, tapi sepertinya sahabatnya itu telah melupakannya.
“Maksud lo apa, nanya gitu? Lo nggak tau tujuan gue nikahin wanita itu?” tanya Reihan dengan raut wajah yang sudah berubah tidak suka.
“Maksud lo apa? Emangnya lo sama Ana kenapa?” tanya Dewa dengan penasaran.
Lelaki itu masih terlihat belum bisa mencerna perkataan sang sahabat. Bahkan, tatapan matanya juga menatap ke arah Reihan dengan tatapan yang seakan menuntut sebuah penjelasan.
“Gue nikahin dia, karena perjanjian bisnis dengan Papanya. Dia bersedia menjadi investor tunggal di perusahaan gue asalkan gue mau nikahin anak gadisnya. Dia sepertinya sengaja memanfaatkan situasi sulit gue saat itu, karena dia tau kalau gue pasti nggak akan bisa menolaknya. Lo kan tahu, kalau gue paling nggak suka ditindas,” tutur Reihan dengan santainya.
Namun, apa yang baru saja dijelaskan oleh Reihan, masih tetap membuat Dewa belum bisa mencernanya. Bahkan, lelaki itu masih menunggu kelanjutan cerita dari mulut sahabatnya dengan wajah kebingungan.
“Ya … gue langsung terima aja tawarannya, di samping gue emang butuh bantuannya, gue juga akan buat hidup putrinya seperti di neraka. Gue yakin semua itu pasti permintaan dari Ana. Lo tau sendiri kan, seperti apa Teguh Wijaya memanjakan keluarganya. Sialnya, wanita licik itu malah berusaha membunuh Mama gue untuk balas dendam atas perlakuan gue padanya,” sambung Reihan dengan panjang lebar.
Dewa pun seketika terkejut. Bahkan, mata teduhnya menangkap dengan jelas kilatan amarah yang keluar dari sorot mata sahabatnya. Dari raut wajah itu ia juga melihat dengan jelas, jika sahabatnya benar-benar membenci Ana. Menurutnya, Ana merupakan wanita licik yang memanfaatkan harta dan kekuasaan orang tuanya demi mewujudkan keinginannya.
“Maksud lo, Ana wanita licik yang menghalalkan segala cara dan dia juga yang berusaha membunuh Mama lo, begitu? Gimana bisa kamu menyimpulkannya begitu, karena yang gue tahu keluarga Wijaya adalah keluarga baik-baik. Mereka nggak pernah terlibat skandal apa pun selama ini. Bagaimana bisa putrinya berpikiran sepicik itu?” tanya Dewa bertubi-tubi karena tidak berhasil mencerna ucapan Reihan dengan baik.
Mendengar latar belakang keluarga Wijaya, tentu saja membuat Dewa sulit untuk percaya. Di negeri ini siapa yang tidak mengenal keluarga pengusaha tersebut? Bahkan, keluarga terpandang itu banyak dijadikan teladan oleh banyak orang. Sungguh, cerita yang keluar dari mulut sahabatnya sangat menyesatkan pikirannya.
“Lo pasti keliru, jangan sampai lo sakiti Ana, atau lo nanti akan menyesal, Rei. Gue nggak nyangka punya sahabat yang tega nyakitin perempuan, apalagi istri sendiri,” lanjut Dewa dengan wajah yang sudah terlihat tidak bersahabat.
Jika mengingat masa lalu Reihan yang kurang menyenangkan dengan mantan tunangannya, membuat Dewa sulit percaya. Di mana lagi-lagi pria bodoh itu dengan mudah dihasut oleh wanita yang menjadi selingkuhannya di kala itu. Karena menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh Gaby, membuat lelaki itu akhirnya harus menyesal karena ditinggalkan oleh mantan tunangannya sendiri.
“Ck … lo selama ini hanya dengar kata orang. Gue nggak asal nuduh, gue ngalami sendiri. Dia itu bukan perempuan baik-baik, lo jangan sampai tertipu dengan wajah polosnya yang mungkin aja hanya pura-pura. Makanya jangan pernah percaya apa kata orang,” jawab Reihan sambil menyeruput kopinya.
“Emang lo tahu sendiri? Karena yang Daniel bilang, kalau adiknya itu ingin menolong pria yang sudah menyelamatkan hidupnya dulu. Dia memang kagum pada sosok itu, dan dia juga ingin membalas budi. Lo tahu Daniel Wijaya, CEO Wijaya Corporate? Nggak mungkin lo nggak tau sama kakak ipar lo sendiri, kan?” tanya Dewa yang kekeh tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
Reihan pun sempat terdiam sejenak. Di sisi lain hatinya ada perasaan senang, tetapi di sisi yang lainnya lagi tidak mungkin dia meragukan perkataan sang kekasih.
“Lily yang sudah kasih tau gue niat wanita licik itu supaya bisa menikah dengan gue, dan dia juga yang kasih gue bukti kalau Ana lah yang berusaha membunuh Mama,” pungkas Reihan dengan santainya sambil menyandarkan punggungnya.
Kali ini lagi-lagi, lelaki itu menelan mentah-mentah ucapan Lily. Bahkan, tanpa menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu, Reihan juga langsung ikut menuduh Ana yang berusaha membunuh mamanya. Semua itu merupakan hasutan dari kekasih yang begitu dia cintai.
“Apa? Lily? dan lo percaya gitu aja sama mulut perempuan itu? Bener-bener bodoh lo, Rei. Gue kira lo sepintar penampilan lo, ternyata kalian berdua memang serasi. Sama-sama bodoh!” tutur Dewa yang benar-benar sudah terlihat emosi sambil mengepalkan tangannya yang ada di atas meja.
“Maksud lo apa, Wa? Lily kekasih gue, jelas gue percayalah sama dia,” ujar Reihan sambil memberikan tatapan tajamnya tepat ke manik mata lawan bicaranya.
Lelaki angkuh itu mulai lelah memberi pengertian pada sang sahabat. Bagaimana bisa sahabatnya itu masih belum mengerti dengan apa yang dia maksud. Wajah seseorang bisa dengan mudah menipu. Bahkan, banyak orang di luaran sana yang bersembunyi dibalik topeng sebuah raut wajah polos.
“Jadi kalian masih bersama?” tanya Dewa kembali untuk meyakinkan pendengarannya.
Lelaki itu tidak menyangka jika sahabatnya tidak bisa bersyukur telah mendapatkan istri secantik dan selembut Ana. Padahal di luaran sana banyak para pengusaha muda yang rela mengantri untuk mendapatkan hati seorang Anastasia Wijaya.
“Kami malah sudah tinggal bersama. Ingat, jangan kasih tau siapa pun, termasuk Mama gue. Kalau lo nekat, gue akan semakin nyakitin Ana tanpa ampun,” ancam Reihan.
CEO muda itu akhirnya memberi tahu kondisi rumah tangganya pada Dewa. Karena menurut Reihan tidak ada yang perlu dia sembunyikan lagi pada sang sahabat, kecuali tentang perlakuan kejamnya pada Ana.
“Gue nggak nyangka punya sahabat serendah lo, Rei. Gue yakin lo akan menyesal suatu saat nanti, karena sudah menyakiti perempuan sebaik Ana. Kalau memang lo benci sama dia, cepat ceraikan dia, dan gue orang pertama yang dengan senang hati akan mengambil bekas lo. Ana terlalu sempurna untuk menjadi istri pria pengecutt seperti lo,” ucap Dewa dengan suara yang terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.
Pria itu sudah tidak dapat menahan emosinya lagi. Kemudian ia pun segera beranjak meninggalkan Reihan seorang diri. Dewa tidak peduli dengan sahabatnya yang masih terlihat dalam keadaan bengong setelah mendengar ucapannya.
“Lo berdoa aja supaya Daniel nggak tau kalau adik kesayangannya udah lo perlakukan dengan sangat buruk,” lanjut Dewa setelah beberapa langkah dari meja yang baru saja dia tinggalkan.